Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
BOLA BULAT

Kemenangan Seharga Nyawa

Oleh : Mahfud

17 Januari 2022, 10: 10: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Kemenangan Seharga Nyawa

Share this      

Berita Terkait

Nama Eri Irianto tercatat dalam deretan tragedi di lapangan sepak bola tanah air. Gelandang legendaris Persebaya Surabaya itu menjadi pemain pertama yang meninggal saat bertanding. Eri kolaps ketika timnya bertanding melawan PSIM Jogjakarta (3 April 2000). Setelah berbenturan dengan pemain lawan, Samson Noujine Kinge.
Eri bukan satu-satunya pemain sepak bola Indonesia yang meninggal di lapangan. Ada empat nama lagi yang mengalami kejadian serupa. Ada gelandang PKT Bontang Jumadi Abdi yang meninggal pada 2009. Setelah dia terkena terjangan kaki pemain Persela Lamongan Deny Tarkas.

Kemudian ada pemain Persiraja Banda Aceh Akli Farus yang meninggal ketika bertanding melawan PSAP Sigil, 10 Mei 2014. Lalu, kiper Persela Choirul Huda yang meninggal setelah terlibat insiden dengan rekannya sendiri, Ramon Rodriques pada 15 Oktober 2017. Dan yang paling baru adalah Taufik Ramsyah. Kiper Tornado FC Pekanbaru itu meninggal usai bertanding pada 18 Desember 2021. Sekitar sebulan yang lalu. Kejadiannya, bermula dari skrimit di depan gawang.

Bermain di Liga 3, saat itu Tornado FC bertanding melawan Wahana FC. Ada momen ketika pemain Wahana FC berlari mengejar bola. Dia dikawal ketak seorang pemain Tornado. Taufik pun berusaha menyelamatkan gawang dengan menjemput bola. Nah, ketiganya pun bertabrakan. Kaki salah seorang pemain tepat mengenai dada sang kiper. Hingga tergeletak dan kemudian tak tertolong.

Baca juga: Soto Podjok

Berbagai insiden itu memunculkan pertanyaan, seberapa penting kemenangan dalam sepak bola, hingga membuat beberapa pemain harus meregang nyawa di lapangan. Tentu, terlepas bahwa nasib semua manusia itu di tangan Penciptanya, toh tragedi-tragedi itu menjadi sesuatu hal yang memilukan. Ketika nyawa seseorang hilang ketika melakukan aktivitas yang seharusnya menyenangkan.

Sepak bola adalah olahraga keras, olahraga laki-laki, semua orang pasti mafhum. Sepak bola juga selalu diwarnai benturan antarpemain, semua orang juga paham. Namun, sekeras-kerasnya benturan, tentu saja bukan berniat untuk menghilangkan nyawa orang lain. Aksi sliding, tackling, intersep, dan upaya menghentikan lawan main itu harus dibungkus dalam koridor untuk ‘menghidupkan’ permainan. Bukan untuk mencelakai lawan.

Otoritas sepak bola dunia sebenarnya sangat mengantisipasi hal itu. Ada rule of the game yang harus dipatuhi oleh para pemain ketika berlaga di lapangan. Rule of the game tersebut disusun agar permainan berlangsung dalam koridor sportivitas yang tinggi. Tidak ada hukum ala sepak bola tarkam, yang asal tabrak dan gaprak.

Aturan untuk melindungi pemain di lapangan juga tak terbatas itu. Ada regulasi yang mengharuskan medical check up bagi pemain yang akan bergabung dengan salah satu klub. Soal medical check up ini, di sepak bola luar negeri sangat ketat diterapkan. Rencana kontrak yang sudah matang bisa gagal hanya gara-gara sang pemain ketahuan tidak fit.

Di tanah air, repotnya, hal itu tidak berjalan sepenuhnya. Mungkin, tahapan-tahapan tersebut dilalui. Namun, ada banyak toleransi di sana. Pemeriksaan medis pada pemain adalah salah satu yang sering digampangkan. Asalkan secara fisik tampak sehat, klub akan meloloskan. Padahal, siapa tahu ada penyakit latent yang justru berbahaya. Yang bisa berdampak fatal.

Dalam situasi seperti ini, ucapan pelatih Persik Javier Roca saat timnya melawan Borneo FC layak digarisbawahi. Saat itu, sang pelatih berucap, nyawa lebih penting dari sepak bola. Ucapan itu terkait kondisi kipernya, Adi Satryo, yang tergeletak setelah berbenturan dengan pemain asal Jepang Borneo FC, Kei Hirose.

Roca seperti tak memedulikan hasil imbang 1-1 yang didapat timnya. Padahal, hingga menit 90 timnya masih unggul atas lawan. Toh, memang tak ada nyawa yang sebanding dengan kemenangan di sepak bola. Dan, jelas nyawa yang lebih berharga.(*)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia