Minggu, 29 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Ibu Kota Kabupaten Kediri?

Oleh: Kurniawan Muhammad

17 Januari 2022, 09: 27: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

Ibu Kota Kabupaten Kediri?

Share this      

Berita Terkait

Seorang kawan bertanya, setelah dia tahu saya pindah tugas di Kediri: “Ibu kota Kabupaten Kediri itu di mana?”. Semula saya kira “Pare”. Dan saat itu memang saya jawab “Pare”. Karena kota kecamatan ini menurut saya yang paling menggeliat denyut perekonomiannya di Kabupaten Kediri.  Dan biasanya, kota kecamatan yang paling ramai itulah yang dijadikan ibu kota kabupaten.

Ternyata bukan “Pare”. Di era Bupati Sutrisno (1999-2009), ibu kota Kabupaten Kediri diarahkan ke kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). Secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngasem (yang merupakan pecahan dari Kecamatan Gampengrejo). Bahkan, di kawasan tersebut direncanakan akan dibangun central business district (CBD).

Tapi, kini di era Bupati Hanindhito Himawan Pramana, agaknya ibu kota Kabupaten Kediri tidak mengarah ke kawasan SLG. Kayaknya juga tidak mengarah ke “Pare”. Baru-baru ini, sekitar pertengahan Oktober tahun lalu, Pemkab Kediri menggelar  focus group discussion (FGD) di Hotel Insummo Kediri. Yang agenda utamanya adalah membahas soal ibu kota Kabupaten Kediri. Selain dihadiri Mas Bup (sapaan akrab Hanindhito),  kegiatan itu juga mengundang  sejumlah elemen masyarakat seperti sejarawan, budayawan, kelompok masyarakat, dan Lembaga Penelitian Universitas Negeri Surabaya.

Baca juga: Experiential Marketing

Dengan diadakannya FGD tersebut, tersirat bahwa Pemkab Kediri saat ini sedang menginventarisasi berbagai masukan, data, dan informasi. Untuk mendefinitifkan ibu kota Kabupaten Kediri. Sepertinya di luar Pare dan di luar kawasan SLG.

Di mana pun lokasi ibu kota Kabupaten Kediri kelak akan ditetapkan, yang perlu diperhatikan adalah: Sebuah ibu kota kabupaten, pusat pemerintahan, dan administrasi idealnya harus berada di wilayah kabupaten itu sendiri. Di Kabupaten Kediri, banyak terdapat fasilitas gedung perkantoran pemerintah daerah yang masuk dalam wilayah Kota Kediri. Jika memang serius untuk memikirkan tentang ibu kota Kabupaten Kediri, maka gedung-gedung perkantoran itu harus dipindah. Dan sudah tidak seharusnya lagi berada di Kota Kediri. Ini jika mengacu pada ukuran ideal.

Jika saya menjadi Mas Bup maka saya tidak akan perlu terlalu repot mikir soal ibu kota Kabupaten Kediri. Saya akan pilih dan tetapkan “Pare” sebagai ibu kota Kabupaten Kediri. Pusat pemerintahan dan perkantoran  akan saya pindah ke sana. Sedangkan kawasan SLG, akan saya jadikan sebagai sentra ekonomi, bisnis, dan pariwisata.

Mengapa “Pare” ideal untuk menjadi ibu kota Kabupaten Kediri? Setidaknya ada lima alasan.

Pertama, alasan strategis. Pare berada di 25 km sebelah timur laut Kota Kediri. Dan 120 km barat daya Kota Surabaya. Dengan posisinya itu, Pare berada di jalur strategis Surabaya, Jombang, Kediri, Kertosono, dan Blitar, serta Kediri ke Malang.

Kedua, alasan infrastruktur dan fasilitas. “Pare” sebenarnya telah memiliki berbagai infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan. Di sana sudah ada beberapa hotel dan penginapan. Fasilitas kesehatan, di antaranya terdapat RSUD Kabupaten Kediri, RSU Amelia, dan Rumah Bersalin Kasih Bunda.

Fasilitas pendidikan juga lengkap. Sekolah-sekolah favorit mulai TK hingga setingkat SMA ada di sana. Juga ada beberapa kampus. Seperti akademi perawat (akper), akademi kebidanan (akbid), dan akademi koperasi (akop). Fasilitas olahraga, di sana terdapat stadion “Canda Bhirawa”, yang dijadikan sebagai home base atau markasnya tim sepak bola Persedikab (Persatuan Sepakbola Kediri Kabupaten) yang pernah dua kali berlaga di Divisi Utama.

Persedikab biasanya menjamu lawan-lawannya di Stadion “Canda Bhirawa”, yang terletak di dekat Masjid Agung An-Nur. Selain punya stadion, Pare juga sudah punya alun-alun. Juga Gedung Sanggar Budaya. 

Ketiga, alasan kondusivitas. Di Pare saat ini terdapat masyarakat dengan berbagai suku dan etnis. Selain dari Jawa, juga ada Tionghoa, Madura, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Arab, dan lain-lain. Semua etnis dan suku itu tinggal berdampingan secara damai. Tidak pernah ada benturan di antara mereka. Bahkan warga “Pare” telah banyak yang  berasimilasi dengan warga pendatang yang bekerja sebagai pegawai, pengusaha, pekerja, dan pelajar.

Keempat, alasan sejarah. Mengapa disebut “Pare”? Ternyata “Pare” di sini bukan mengacu pada nama salah satu tanaman. Ada sisi sejarahnya. Yakni, “Pare” diambil dari kata  "panglerenan". Menurut penuturan beberapa tokoh-tokoh sepuh di “Pare”, sebutan "panglerenan" ada sejak zaman kerajaan-kerajaan dulu, yang kala itu identik dengan perang, perebutan kekuasaan, dan pemberontakan. Waktu itu kawasan “Pare” sering dijadikan "panglerenan" (tempat beristirahat atau bersembunyi dari kejaran musuh). Begitu pula di zaman penjajahan Belanda. Banyak pejuang yang berhasil selamat dari kejaran penjajah ketika bersembunyi di “Pare”.

Dan sebagai tempat persembunyian,  ternyata ada jejak sejarahnya. Di “Pare” ada terowongan Surowono (lubang bawah tanah) yang sepertinya memang sengaja dibangun sebagai gua pertahanan dan persembunyian dari kejaran musuh. Oleh warga setempat disebut dengan "Gua Kahuripan". Panjangnya sekitar 500 meter. Dari tuturan beberapa warga di “Pare”, mengatakan bahwa terowongan itu diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Panjalu-Kediri. Untuk pertahanan saat perang atau tempat persembunyian raja-raja.

Jejak sejarah lainnya di “Pare” adalah candi.  Di sana ada dua candi: Surowono dan Tegowangi. 

Antropolog dunia Clifford Geertz dalam bukunya "The Religion of Java" menyebut “Pare” sebagai "Mojokuto". Disebut dengan "Mojokuto" karena daerah ini dulunya adalah pusat kekuasaan Kerajaan Hindu-Jawa, sejak Kerajaan Daha (Panjalu) hingga Singosari.

Kelima, alasan kampung Inggris. “Pare” sudah sangat terkenal di seluruh Indonesia dengan kampung Inggris-nya. Sudah banyak yang mengakui efektivitas dan keberhasilan belajar bahasa Inggris di “Pare”. Akan sangat cocok, jika ibu kota kabupaten ada kampung Inggris-nya.

Inilah setidaknya lima alasan (menurut saya), sebagai usulan agar Pare dijadikan ibu kota Kabupaten Kediri. Wal akhir, teruntuk Mas Bup, semoga catatan ini bisa menjadi pertimbangan. Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia