Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Jembatan (Lama) Brawijaya

Oleh: Kurniawan Muhammad

13 Desember 2021, 09: 40: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

Jembatan (Lama) Brawijaya

Share this      

Berita Terkait

Anda warga Kota Kediri pasti sudah tahu Jembatan Brawijaya. Anda juga pasti sudah tahu, bahwa di sebelah jembatan itu, ada jembatan lama peninggalan Belanda, yang sangat bersejarah. Disebut-sebut sebagai jembatan dengan konstruksi besi tertua di Jawa. Bahkan di dunia.

Jembatan Brooklyn, salah satu jembatan suspensi tertua di Amerika Serikat yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York City, selesai dibangun pada 1883. Sedangkan “Brug Over Den Brantas te Kediri”, jembatan lama di sebelahnya Jembatan Brawijaya itu mulai dibangun pada 1854, dan resmi dioperasikan pada 1869.

Jadi, betapa bersejarahnya “Brug Over Den Brantas te Kediri” itu. Dan betapa istimewanya jembatan lama itu. Sayangnya, sesuatu yang sebenarnya sangat bersejarah, dan sesuatu yang sangat istimewa itu dibiarkan teronggok begitu saja. Seakan-akan tak ada harganya.

Baca juga: Jalan Dhoho

Saya membayangkan, jembatan lama itu direkonstruksi  sesuai dengan desain awalnya. Diperkuat kerangka-kerangka besinya. Lalu di atasnya diberi lampu hias bernuansa vintage, agar bisa dinikmati di malam hari. Akan lebih bagus jika dibangun mini museum tentang jembatan lama itu. Ada narasi yang lengkap, tapi padat, tentang sejarahnya. Syukur, jika bisa mendapatkan foto tempo dulu, ketika jembatan tersebut menjadi saksi pernikahan Putri Juliana, Ratu Kerajaan Belanda  dan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937. Saat itu, di sepanjang jembatan dihiasi  berbagai lampu hias dari ujung hingga ke ujung, untuk menyambut pernikahan agung sang ratu Belanda. Ada nggak ya fotonya?

Sisi menarik yang lain adalah, jembatan itu berada di atas Sungai Brantas, sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Dan kini bersebelahan dengan Jembatan Brawijaya yang diresmikan wali kota Kediri pada 18 Maret 2019. Jadi, ada dua jembatan di satu lokasi. Yang satu, jembatan lama bernilai sejarah tinggi, dan sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Dan satunya lagi, jembatan baru. Saya belum pernah mendapati pemandangan seperti itu, dimana dua jembatan--yang tempo dulu dan yang tempo kini—bersebelahan di satu lokasi.  Ini termasuk langka. Dan (sebetulnya) bisa “dijual” untuk daya tarik wisata. Yakni wisata edukasi yang berbasis sejarah.

Jika mendesainnya keren, mengemasnya bagus, dan narasinya menarik, jembatan itu menurut saya bisa menjadi destinasi wisata menarik bagi turis-turis asing, terutama dari Belanda. Apalagi, data tentang pembangunan jembatan itu ada di buku yang tersimpan di Belanda, yang berjudul: “Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek”.

Tentu bukan hanya spot jembatan itu saja yang dikunjungi. Di sekitar jembatan itu juga terdapat spot-spot bangunan tempo dulu yang juga bernilai sejarah. Misalnya yang ada di Pakelan dan Jalan Dhoho.

Ketika berkesempatan mengunjungi Roma beberapa tahun lalu, saya pernah hampir seharian diajak si tour guide hanya untuk mengunjungi gedung-gedung tua, jembatan tua, dan juga tempat-tempat bersejarah lainnya. Si tour guide-nya sangat cakap dan menguasai sejarah di setiap spot yang kami kunjungi. Cara menyampaikannya kepada pengunjung juga sangat menarik. Intonasinya pas, artikulasinya bagus, dan sesekali diselingi joke dan guyonan segar. Jika mau, kita bisa menirunya.

Akhirnya, tulisan ini hanyalah usul. Setengah bermimpi. Tujuannya baik. Agar bangunan-bangunan bersejarah di Kota Kediri itu bisa dimanfaatkan maksimal sebagaimana nilainya. Dan bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Serta bisa menjadi daya tarik yang kuat sebagai destinasi wisata edukasi dan sejarah. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia