Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Marketing on Wednesday #7

Marketing and Imagination

by Kurniawan Muhammad

13 Oktober 2021, 12: 34: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Marketing and Imagination

Kurniawan Muhammad (Radar Kediri)

Share this      

Saya membagi staf marketing saya menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang sering on target (berhasil memenuhi target omset). Kedua, kelompok yang sering gagal mencapai target. 

Saya melakukan eksperimen (kecil-kecilan), dengan cara mengamati mereka. Mulai dari cara mereka bicara, cara mereka bekerja, dari membuat penawaran, mendekati klien, hingga hasil akhir mereka. 

Pada kelompok kedua, yang sering gagal mencapai target, saya sering mendengar mereka menggunakan kata-kata: “saya coba”, “saya usahakan”, dan “belum tahu” ketika akan mengerjakan sesuatu. Pada kata-kata “saya coba”, “saya usahakan” dan “belum tahu”, ini menyiratkan perilaku ragu-ragu. 

Baca juga: Gara-gara Sudrun Kecanduan ‘Bermain’ Sendiri

Pada kelompok pertama yang sering mencapai target, saya sering mendengar mereka mengucapkan kata “siap” dengan intonasi tegas, setiap kali akan mengerjakan sesuatu. Ada “keyakinan” yang tercermin pada kata “siap” itu. 

Jadi, jika kelompok pertama sering mencapai target, bisa jadi karena perilakunya selalu mencerminkan “optimisme” setiap kali merencanakan sesuatu. Sebaliknya, pada kelompok kedua sering gagal mencapai target, bisa jadi karena perilakunya selalu mencerminkan keragu-raguan. 

Saya selalu menekankan kepada tim marketing saya, bahwa dalam mengejar dan mencapai apa pun, yang harus didahulukan adalah “kemauan”. Bukan “kemampuan”. Karena menurut saya,  “kemampuan” selalu ada batasnya. Sedangkan “kemauan” tak pernah ada batasnya. 

Orang yang selalu mendahulukan “kemauan” ketimbang “kemampuan”, biasanya dia selalu punya daya imajinasi yang tinggi. Dalam buku yang ditulis Deng Ming-Dao berjudul “365 Tao” menyebut “imajinasi” mirip dengan mimpi. Bentuknya merupakan “mental involvement”.  Hanya saja, bedanya mimpi dihasilkan lewat alam bawah sadar. Sedangkan imajinasi sengaja diciptakan. Imajinasi adalah alat kreatif milik otak, cara kerjanya mirip proyektor yang menyatukan aneka gambar dan rencana, membuatnya menjadi film hidup. 

Kemampuan proyektor ini lah yang menentukan daya inovasi seseorang. 

Anda pasti tahu Walt Disney. Jauh sebelum ada Disneyland, dikisahkan Walt Disney suatu hari menunggu putrinya bermain komedi putar di sebuah taman dekat rumahnya. Sambil menikmati camilan, dia berimajinasi. Saat itu dia begitu gembira dan bahagia melihat anaknya bermain. Dia berimajinasi, membayangkan taman yang lebih besar, penuh dengan permainan yang bisa dinikmati ribuan keluarga. Saat itu lah, dia menyalakan proyektor imajinasinya. Dalam benak Walt Disney, lahirlah untuk pertama kalinya Taman Hiburan Dunia Disney dalam imajinasinya. Dan taman itu pun kini terwujud. Lahirlah Disneyland dimana-mana. Hingga kini, ada enam Disneyland yang ada di seluruh dunia. 

Maka, jangan takut untuk selalu berimajinasi. Ketika seorang marketing ditarget dengan jumlah omset tertentu, saat itu mulailah berimajinasi untuk bisa mencapai target tersebut. Nyalakan proyektor dalam imajinasi Anda.  Bangun lah tahapan demi tahapan dalam mencapai target, seperti menyusun adegan demi adegan dalam sebuah film yang dinyalakan dengan proyektor imajinasi Anda. 

Muhammad Ali, sang petinju legendaris dunia pernah berkata: “Imajinasi mirip sayap. Bisa membawa kita terbang, kemana pun”.  Selamat berimajinasi ….!!! 

(kritik dan saran:Ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia