Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Merebut Makna Seksualitas

Oleh : Citra Orwela

12 Oktober 2021, 15: 07: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Merebut Makna Seksualitas

Share this      

“Dia main tangan, bu….,” keluh perempuan muda itu, di satu waktu.

“Dia bohongi saya bu, saya ga tahu kalau dia sudah punya istri dan anak.” keluhan perempuan muda lainnya di waktu yang berbeda.

Sejak mendirikan Women Crisis Center (WCC) pada awal 2018, saya menerima laporan berbagai permasalahan mengenai relasi tidak sehat antara perempuan dan laki-laki. Pernah suatu waktu, seorang korban kekerasan yang dilakukan oleh suaminya mengatakan bahwa untuk sementara waktu, saya tidak diperbolehkan ke rumahnya. Ibu korban meminta dia menjauhi saya. Bagi ibunya, saya hanya memberi pengaruh buruk karena menguatkan dia untuk berani speak up. Melawan segala bentuk tindak kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis.

Baca juga: Squid Game

****

Kekerasan seksual diartikan sebagai setiap tindakan baik berupa ucapan ataupun perbuatan yang dilakukan seseorang untuk menguasai atau memanipulasi orang lain. Serta membuatnya terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki. Rayuan manipulatif yang terus menerus menerus dilakukan sehingga menimbulkan ketidaknyaman pada psikis, juga berpotensi melahirkan kekerasan seksual. Yang kita tahu selama ini, kekerasan seksual terjadi jika tidak mendapatkan persetujuan dari korban. Namun, bisa juga ini terjadi karena korban tidak mampu/ belum bisa memberikan persetujuan. Anak di bawah usia 18 tahun dan difabel termasuk dalam kategori ini.

Membaca lini berita mulai dari pembunuhan siswi 14 tahun dalam kondisi hamil hingga seorang istri yang ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersimbah darah, mungkin banyak di antara kita yang belum sadar bahwa rangkaian kondisi tersebut mengindikasikan terjadinya kekerasan fisik dan psikis jauh sebelum tindak kejahatan itu terwujud. Bahkan, bisa jadi kejahatan seperti pembunuhan lahir karena sebuah tindakan yang awalnya ‘hanyalah’ sebuah kekerasan seksual yang didiamkan secara terus-menerus. Pertanyaannya, kenapa mereka diam?

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa berbicara mengenai seksualitas merupakan hal yang tabu. Banyak orang tua masih berpandangan seperti itu. Celakanya, mereka yang masih berusia muda, akhirnya juga tidak bisa terbuka mengenai masalah seks kepada orang tua. Padahal, informasi apa sih yang tidak bisa diakses dalam era digital ini? Jari kita menggeser layar handphone, semua data dan informasi yang kita cari langsung tersaji. Bahkan, hal yang terkait seksualitas.

Orang tua harus mulai memahami, bahwa hal-hal yang dulu dianggap tabu dibicarakan, saat ini bisa dilihat, dibaca, didengar, diunduh melalu internet. Orang tua memberikan gadget tapi lupa memberikan edukasi terkait isi dan efek dari gadget tersebut. Padahal, manusia itu mempunyai naluri keingintahuan. Anak muda zaman sekarang menyebutnya kepo.

Di usia baligh, mereka juga sudah mempunyai hasrat seksual. Itu manusiawi. Namun, ketika informasi dan pengetahuan mengenai seksualitas justru didapatkan pertama kali melalui internet, siapa yang bisa menjamin bahwa pengetahuan yang diterimanya itu positif? Jika kita mau mencoba untuk berpikir, sebenarnya saat ini, orang tua sedang ‘bertarung’ dengan internet untuk merebutkan makna seksualitas.

****

Kejadian seperti menggugurkan kandungan hingga balas dendam yang berujung pembunuhan (misal, korban yang pernah dihamili tidak terima diperlakukan buruk), sebenarnya bisa diminimalisasi jika kita sedari awal ada edukasi yang cukup mengenai seks dan seksualitas. Bahwa berbicara mengenai seks, tidak melulu soal bersenggama tapi menyeluruh pada efek, tanggung jawab, hak, kewajiban hingga konsekuensi yang harus diterima. Misal, “Le thole, kalau kamu sudah baligh, sudah mimpi basah, dijaga. Pas kamu suka sama cewek dan pengen melakukan hubungan kayak di mimpimu, ditahan dulu. Seusia itu, kalo gak kamu kontrol kepengenanmu, bahaya. Karena kamu itu udah masuk di usia bisa menghamili cewek”.

Edukasi mengenai seksualitas ini juga penting untuk meminimalisasi anak-anak menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual. Mereka harus tahu, area mana saja pada tubuhnya yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Dengan tahu dan paham mengenai seksualitas dalam dirinya, ketika terjadi ‘pemaksaan’, ada keberanian untuk melawan. Ada juga keberanian untuk menolak ketika medapat permintaan hubungan seksual dari pacar/kekasihnya.

Perlu diingat, bahwa ‘pemaksaan’ tidak melulu berupa ancaman melalui ucapan dan tulisan baik tersirat maupun tersurat. Kesenjangan jabatan, status ekonomi, hingga status sosial juga bisa dijadikan alat untuk memaksa tanpa melalui kata-kata. (Penulis adalah aktivis perempuan dan Founder WCC Kilisuci Kediri)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia