Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Rumah Kurasi

Oleh: Kurniawan Muhammad

11 Oktober 2021, 10: 39: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

Rumah Kurasi

Kurniawan Muhammad (Radar Kediri)

Share this      

Jika ada satu lembaga yang sangat dibutuhkan oleh UMKM (usaha mikro kecil menengah) saat ini, salah satunya adalah "rumah kurasi”. Lembaga ini punya tugas mulia, yakni mengangkat harkat dan martabat UMKM agar naik kelas.

Naik kelas mulai dari produknya, kemasannya, sistemnya, hingga pemasarannya. Dan Kota Kediri boleh bangga, karena “rumah kurasi” itu lahir dari kota ini. Salah satu insiatornya adalah Kadin Kota Kediri.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut “rumah kurasi” yang ada di Kota Kediri itu adalah satu-satunya di Jatim, bahkan di Indonesia. Ini dia sampaikan saat meresmikan “rumah kurasi” di Kota Kediri, di Hotel Grand Surya, Juli lalu.

Baca juga: Identity Confusion

Jadi, rumah kurasi ini didirikan untuk UMKM. Berbicara tentang UMKM, setidaknya ada enam problem yang khas. Pertama, pengelolaan masih sederhana. Kedua, akses terhadap lembaga kredit/perbankan yang masih rendah. Biasanya terbentur pada problem agunan dan suku bunga. Ketiga, belum banyak yang berstatus badan hukum. Keempat, terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu. Biasanya, begitu ada temannya yang sukses menjual produk tertentu, yang lain rame-rame meniru dan mengikutinya. Kelima, kemampuan dalam memproses produksi yang masih terbatas. Keenam, problem pemasaran. Kesulitan dalam memasarkan produk-produknya.

Kehadiran “rumah kurasi” diharapkan mampu meminimalisasi berbagai problem tersebut.  Melalui tangan gubernur, diharapkan pula, “rumah kurasi” itu bisa diduplikasikan, bisa disebarluaskan spirit, gaung, dan sistemnya ke seluruh Jatim.

Apalagi Jatim termasuk satu dari tiga provinsi yang jumlah UMKM-nya terbesar di Indonesia (rata-rata di atas 4 juta UMKM). Selain Jatim, dua provinsi lainnya adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Khusus di Jatim, merujuk pada hasil Sensus Ekonomi Nasional, populasi UMKM-nya meningkat drastis. Pada 2012 berjumlah 6,8 juta. Pada 2017 meningkat menjadi 9,59 juta. Dari 9,59 juta UMKM yang ada di Jatim itu, jika dirinci: 4,61 juta di sektor nonpertanian. Dan 4,98 juta di sektor pertanian. Dan masih merujuk pada data Sensus Ekonomi Nasional, pada 2019, dari PDRB Jatim yang mencapai Rp 2.019 triliun, sebesar 1.290 triliun berasal dari kinerja UMKM.

Artinya, keberadaan UMKM di Jatim, adalah “sesuatu” banget. Sangat penting dan sangat potensial (sebenarnya). Tapi sayangnya, eksistensi UMKM terkesan masih dipandang sebelah mata. Berbagai program yang diberikan kepada UMKM oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, masih kurang tepat sasaran. Sehingga, berbagai problem yang dirasakan oleh pelaku UMKM juga belum bisa ditangani secara taktis.

Contoh paling sederhana adalah, hingga kini, produk olahan makanan dan minuman UMKM Jatim masih sulit menembus ritel modern. Alasannya klasik: terkait kualitas produk dan standardisasi produk.

Sebagai gambaran, tahun 2010, produk olahan makanan dan minuman UMKM Jatim yang masuk ke ritel modern hanya sebesar 7 persen. Setahun berikutnya (2011) meningkat menjadi 18 persen. Hingga kini, persentasenya belum mampu menyentuh angka 30 persen. Artinya, masih sangat rendah, akses produk olahan makanan dan minuman UMKM Jatim untuk masuk ke ritel modern.

Di sini lah peran dari “rumah kurasi” itu sangat dibutuhkan. Meski lahir di Kota Kediri, “rumah kurasi” itu didedikasikan untuk membantu dan menangani UMKM di seluruh Jatim. Bahkan Indonesia. Beberapa kali saya bertemu dengan Ketua Kadin Kota Kediri, Pak Solikhin, dan setiap kali bertemu, selalu menceritakan dengan penuh semangat tentang “rumah kurasi” itu. Salut untuk “rumah kurasi”. Dan salut untuk semangatnya Pak Solikhin yang menggebu-nggebu itu. Semoga terwujud, Pak. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia