Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Marketing On Wednesday #38

---Jumud---

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

11 Mei 2022, 09: 19: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

---Jumud---

Share this      

Pernahkah Anda, atau tim di dalam tempat Anda bekerja, merasa jumud atau statis atau bosan dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari? Sehingga semangat dalam bekerja pun cenderung menurun? Jika hal ini pernah Anda alami, bagaimana cara mengatasinya? 

Kejumudan dalam berbisinis bisa melahirkan produk yang loyo. Dan kejumudan itu bisa terjadi karena di dalam perusahaan itu sudah cukup lama tidak melakukan inovasi atau perubahan yang mengikuti zaman. Padahal, konsumen terus berubah dan selera mereka pun berubah-ubah. 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulihkan stamina produk yang statis atau jumud. Kita bisa melihat bagaimana Coca-Cola berinovasi dalam hal kemasan produknya. 

Baca juga: Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Selama puluhan tahun, Coca-Cola dikenal dengan botolnya yang “unik” yang bentuknya menyerupai pinggang wanita. Bentuk botol Coca-Cola ini diciptakan oleh desainer gelas Swedia, Alexander Samuelson pada 1915. Botol Coca-Cola yang berpinggang ini sering sekali dianggap sebagai objek yang seksi seperti seksinya pinggang wanita. 

Selama puluhan tahun, keunikan botol yang menyerupai bentuk pinggang wanita itu merupakan ciri khas penting yang membentuk sejarah Coca-Cola. Dan ini sering menjadi elemen penting dalam semua iklan mereka. Hingga suatu ketika, pada 1960, Coca-Cola “memecah kejumudan” dengan cara membuat kemasan Coca-Cola dalam bentuk kaleng. Pada saat itu, peran botol tampak surut. Dan langkah ini pun berhasil, kembali membuat angka penjualan Coca-Cola melejit. 

Satu lagi contoh kasus yang bisa kita jadikan pelajaran, adalah yang pernah dilakukan boneka Barbie. Strategi yang dilakukan mirip “turun mesin”. Boneka Barbie diciptakan pertama kali oleh Ruth Handler sejak 1959. Nah, selama puluhan tahun, boneka Barbie yang diproduksi perusahaan mainan Mattel.Inc ini menjadi ikon yang mendunia, yang sejajar dengan Coke dan Mercedes, saking populernya. 

Penjualan boneka Barbie mengalami puncaknya pada 1997 di seluruh dunia, yang kala itu nilainya mencapai USD 1,8 miliar. Nilai ini jika dikurskan dengan rupiah, saat ini mencapai sekitar Rp 25,2 Triliun. 

Dua tahun berikutnya, pada 1999, penjualan Barbie merosot. Bisa jadi, ini dipengaruhi adanya perubahan pada kebiasaan bermain anak-anak. Bisa jadi pula, saat itu, Barbie mengalami kejumudan. Maka, pada saat itu lah, Mattel.Inc memecah kejumudan dengan cara merubah secara ekstrem konsep dan bentuk boneka Barbie. Strateginya sering disebut strategi “turun mesin”. 

Saat itu, boneka Barbie tampil dengan logo baru. Kemasan baru. Juga bikin product line yang berbeda. Potongan tubuh Barbie yang semula hanya seksi, dibikin lebih atletis. Pendek kata, Barbie dibikin kebih ngetren. Selain itu, Barbie juga punya situs web. 

Perubahan demi perubahan pun terus dilakukan Mattel. Menyesuaikan dengan perubahan zaman. Pada ajang “American International Toys Fair” di New York pada 2016, kembali boneka Barbie tampil dengan perubahan yang signifikan. Mereka melaunching seri 2016 Barbie Fashionistas Dolls. Saat itu Barbie tersedia dalam empat variasi bentuk badan. Yaitu petite (kecil, kurus), curvy (pinggul besar mirip bentuk gitar spanyol), tall (tinggi), dan original (pinggul lebih kecil). 

Selain bentuk tubuh, seri Barbie pada 2016 itu juga memproduksi varian warna kulit. Ada tujuh warna kulit, 22 warna mata, dan 24 gaya rambut yang bisa merefleksikan para perempuan di seluruh dunia. Rupanya Barbie ingin tampil dengan berbagai macam model, berbagai macam varian, yang itu mencerminkan model, gaya, style, dan performa para perempuan di seluruh dunia. 

Jadi, produk memang perlu diremajakan secara terus menerus. Produk kita, harus selalu menjadi busa yang bisa menyerap aspirasi, keinginan dan kebutuhan konsumen. Produk kita harus tetap memiliki kontak dengan konsumen. 

Jadi, mengalami kejumudan itu lumrah. Yang terpenting, jangan larut dengan kejumudan yang dialami. Kita harus bangun dari kejumudan. Harus bangkit, bikin sesuatu yang bisa memecahkan kejumudan itu. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia