Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Marketing On Wednesday #15

-- Madu Hitam --

By Kurniawan Muhammad

08 Desember 2021, 10: 48: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

-- Madu Hitam --

Kurniawan Muhammad, Presiden Chapter Indonesia Marketing Association

Share this      

Berita Terkait

“Madu hitam” ini adalah merek rokok varian baru dari Djarum 76, jenis SKT (Sigaret Kretek Tangan). Sejumlah reviewer mengapresiasi keberanian Djarum melaunching varian barunya bernama “Madu Hitam” itu pada kuartal ketiga tahun ini (2021). Sebab, melaunching produk baru ketika umur tahun ini kurang dua bulan, dianggap sebagai langkah yang tanggung waktu. Karena seperti biasa, kenaikan cukai untuk 2022, biasanya baru bisa diketahui paling cepat pada Desember. 

Tapi “Madu Hitam” tetap dilaunching akhir Oktober lalu, dan dipromosikan cukup gencar. Saya mudah sekali mendapati banner promosi “Madu Hitam” di pinggir-pinggir jalan, dan di kios-kios rokok. 

Dari sisi nama, terbilang unik dan berbeda. Yakni, berdimensi herbal atau obat. Djarum mengklaim, dalam meracik “Madu Hitam” digunakan saus khusus yang dibuat dengan madu hitam alami. Sehingga, mereka yang menghisap rokok ini bisa merasakan aroma serta rasa madunya. Jadi, jika dihisap, katanya serasa mencicipi madu.  

Baca juga: Mandalika Effect

Setidaknya ada dua keunggulan yang dimiliki oleh “Madu Hitam”. Pertama, dari sisi diferensiasi. Yakni, sesuatu yang membedakan sebuah produk dengan produk sejenis yang lain. Semakin unik, atau semakin berbeda sebuah produk, maka semakin tinggi kadar diferensiasinya. 

Di kalangan para reviewer rokok, terobosan yang dilakukan Djarum 76 dengan memproduksi “Madu Hitam” ini dianggap sebuah inovasi yang diperkirakan akan menjadi trendsetter di dunia sigaret. Racikan dan aroma madu yang diciptakan pada “Madu Hitam” dianggap unik, dan ini menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh produk rokok yang lain. Apalagi, nama “Madu Hitam” identik dengan obat. Tapi, ini dipakai sebagai nama merek rokok. Rokok diidentikkan dengan gaya hidup tidak sehat. Sedangkan “Madu Hitam” identik dengan obat atau herbal untuk menjaga kesehatan. Di sini lah uniknya. Ada nuansa paradoksnya. 

Kedua, dari sisi harga, “Madu Hitam” tergolong murah. Survei empirik di kalangan para perokok menyebutkan, sebuah produk rokok yang saat ini dianggap murah jika harganya di bawah Rp 15.000 per bungkus. Dan harga “Madu Hitam” ini di pasaran berkisar antara Rp 12.000 – Rp 13.000. Dengan harga ini, tentu sangat lah jelas segmentasi dari produk tersebut. 

Jadi, melalui “Madu Hitam”, Djarum sedang berinovasi. Dan di dalam bisnis, kata Peter F. Drucker hanya memiliki dua fungsi dasar. Yakni pemasaran dan inovasi. Pemasaran dan inovasi memberikan hasil. Selebihnya adalah biaya-biaya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia