Selasa, 18 Jan 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Kota Angin

Oleh: Kurniawan Muhammad

06 Desember 2021, 09: 56: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

Kota Angin

Share this      

Berita Terkait

Apa manfaatnya, julukan “Kota Angin” bagi Nganjuk? Apakah bisa, julukan itu membuat orang penasaran dengan Nganjuk? Lalu berbondong-bondong datang ke Nganjuk?

Konon, Nganjuk disebut sebagai Kota Angin karena punya tingkat frekuensi angin yang sangat tinggi dan besar. Baik pada pagi, siang, apalagi malam hari. Itu tidak terlepas dari posisi Nganjuk yang diapit oleh dua gunung. Yaitu: Gunung Wilis dan Gunung Kendeng.

Tapi, ketika saya sempat berjalan-jalan menyusuri beberapa kawasan di Nganjuk, dan bermalam di sana, nuansa sebagai Kota Angin tidak bisa saya rasakan. Alias, rasanya biasa-biasa saja. Sama seperti halnya daerah-daerah lainnya. Jadi, antara julukan sebagai “Kota Angin”, dengan realitas atau kenyataan di lapangan, kesannya tidak nyambung.

Baca juga: Hotel Bukit Daun

Kita ambil contoh saja Banyuwangi. Daerah ini punya julukan: The Sunrise of Java. Julukan ini cukup relevan dengan posisi Banyuwangi sebagai daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Dan julukan itu berusaha dilinierkan dengan kondisi di lapangan, yakni dengan menciptakan beberapa spot terbaik di sana, untuk melihat matahari terbit. Dan ketika sunrise itu, bisa disaksikan perpaduan warna biru dengan jingga, sehingga memberikan pemandangan yang susah untuk dilupakan.

Satu lagi contoh, Kota Bandung yang dijuluki sebagai Kota Kembang. Ini juga masih linier antara julukan dengan realitas di lapangan. Karena di kota itu banyak bunga yang tumbuh subur dengan warna-warna indah. Misalnya seperti yang terdapat di Kebun Begonia, Lembang; lalu Taman Bunga Lembang Cihideung; Kampung Tulip; Taman Pustaka Bunga; Rumah Bunga Rizal, dan masih ada sejumlah tempat yang lain.

Bisa dikatakan, julukan sebuah daerah adalah intangible (tak berwujud), jika tidak dilinierkan dengan eksistensi spot-spot yang ada di lapangan. Julukan bagi Banyuwangi dan Kota Bandung menjadi tangible (berwujud), karena di daerah itu terdapat spot-spot menarik dan mengesankan yang linier dengan julukannya.

Nah, kembali ke Nganjuk dengan julukannya sebagai “Kota Angin”. Seharusnya, di Nganjuk dibikin spot-spot menarik, dimana orang bisa merasakan embusan angin di Nganjuk. Lebih spesifik lagi, orang harus dibikin terkesan untuk merasakan sensasi angin di Nganjuk, yang berbeda dengan angin di daerah-daerah lain.

Atau, bisa juga dengan membuat event yang memanfaatkan angin. Misalnya, bikin event paralayang. Atau bikin event festival layang-layang. Event-event itu dikemas secara profesional. Dipromosikan secara besar-besaran. Dengan cara ini, para pengunjung yang datang ke Nganjuk dan mengikuti event itu, benar-benar bisa merasakan sensasi anginnya Nganjuk.

Sayangnya, sejauh yang saya amati, kebijakan dari bupati-bupati di Nganjuk, belum ada yang benar-benar mengesankan dalam meng-up grade potensi wisata di Nganjuk. Yang terjadi adalah, bupati-bupatinya malah terlibat kasus korupsi.

Pak Marhaen Djumadi yang sekarang menjadi Plt Bupati Nganjuk, semoga membaca tulisan ini. Dan semoga, jika kelak sudah menjadi bupati definitif, benar-benar membuat kebijakan yang signifikan dalam rangka meng-up grade atau menciptakan spot-spot wisata yang mengesankan.

Syukur, bisa melinierkan antara julukan sebagai “Kota Angin” dengan kenyataan di lapangan. Sehingga bisa merasakan sensasi angin di Nganjuk. Bukan merasakan “masuk angin” di Nganjuk. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia