Minggu, 29 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Marketing On Wednesday #37

The Power of Momentum

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

04 Mei 2022, 07: 00: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

The Power of Momentum

By Kurniawan Muhammad Marketing Practitioner 

Share this      

Lebaran tahun ini berbeda dengan dua lebaran sebelumnya. Pada dua lebaran sebelumnya, masih serba ketat akibat pandemi covid-19. Tahun ini, lebih longgar. Mudik sudah boleh. Maka, masyarakat pun bereuforia mudik. Maka, kemacetan pun kembali terjadi dimana-mana. Di tol Cipali dan Cipularang sempat dilanda kemacetan hingga berjam-jam. Mobil-mobil di rest area mengantre masuk-keluar. Pelabuhan Merak, dan pelabuhan-pelabuhan lain yang menghubungkan antar pulau juga dipadati pemudik. 

Di satu sisi, arus mudik memang menimbulkan kemacetan. Tapi di sisi lain, arus mudik menggerakkan perekonomian untuk bangkit kembali. UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan pelaku ekonomi lain, yang panen rejeki di saat-saat lebaran seperti ini mulai bergairah kembali. Mereka lah yang selama ini memanfaatkan momentum lebaran, momentum mudik untuk mendapatkan rejeki. 

Momentum menjelang lebaran hingga lebaran, adalah momentum ekonomi bergerak secara lebih cepat. Karena selalu ditandai dengan semakin banyaknya perputaran uang. Lebaran tahun lalu (2021) saja, ketika suasananya masih agak dibatasi, perputaran uang tunai melonjak 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Sekretaris Menko Bidang Perekonomian Susiwijono. Ini menandakan bahwa aktivitas berbelanja meningkat. 

Baca juga: Peluncuran Buku Warnai Peringatan Satu Tahun Agus Sunyoto

Bagaimana dengan tahun ini? Belum ada data resmi yang dirilis. Tapi, sangat mungkin terjadi peningkatan dalam hal perputaran uang. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudistira memprediksi, total uang yang beredar pada momen lebaran tahun ini mencapai Rp 250 triliun. Dia mengatakan, peredaran total uang tahun ini selama lebaran diperkirakan naik di atas 60 persen dibandingkan tahun lalu. 

Setidaknya ada tiga penjelasan, terkait dengan prediksi tersebut. Pertama, tahun ini ada pembayaran THR penuh bagi pegawai swasta. Ini bisa memicu pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang lebih tinggi. Kedua, kelas menengah ke atas, sudah tidak sabar ingin membelanjakan uangnya saat lebaran. Sehingga, diperkirakan pusat-pusat perbelanjaan bakal diserbu oleh kelas menengah ke atas ini. Selama pandemi, uang mereka disimpan di bank atau deposito. Ketiga, dipulihkannya sektor transportasi sejak sebelum Ramadhan. Seperti aturan naik pesawat sudah tak seketat sebelumnya.  

Ini lah yang disebut momentum. Lebaran adalah salah satu momentum. 

Ada dua pendekatan dalam menemukan momentum. Pertama, “riding the momentum”. Artinya, memanfaatkan momentum yang sudah ada. Orang yang bisa memanfaatkan momentum yang ada, ibaratnya adalah peselancar yang bisa menunggangi ombak. Lebaran adalah salah satu contoh dari “riding the momentum”.

Momentum lebaran ini, sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh merek (brand) untuk kampanye pemasaran, membangun brand awareness, atau memperkenalkan produk dan layanan baru. 

Misalnya yang dilakukan Telkomsel dalam menyambut lebaran tahun ini. Mereka gancar mempromosikan untuk memperkuat akses broadband di titik transit transportasi dan jalur mudik selama lebaran 2022. Mereka mengklaim telah melakukan penambahan infrastruktur BTS 4G/LTE, pengoperasian Compact Mobile BTS (Combat), penambahan kapasitas jaringan, serta monitoring berkala untuk pengamanan kualitas akses jaringan, demi memastikan kenyamanan pelanggan di momen mudik lebaran hingga arus balik lebaran 2022. 

Contoh lainnya, seperti yang dilakukan Toyota Astra Motor. Menyambut Ramadhan dan Lebaran tahun ini, mereka bikin program: “Silaturahmi Lebaran-Tenang dan Aman Bersama Toyota”. Program ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama selama puasa, dimulai sejak 4 – 23 April 2022. Pada tahapan ini di antaranya diberikan diskon hingga 25 persen untuk jasa service. 

Tahap kedua dimulai 28 April – 8 Mei 2022. Pada tahapan ini Toyota menghadirkan posko siaga di sejumlah titik mudik, serta siap dengan ratusan bengkel siaga yang tersebar di seluruh Indonesia.  

Jadi, momentum untuk bisa ditunggangi, ini yang disebut dengan “riding the momentum”. 

Kedua, “creating the momentum”. Artinya, kita tidak sekadar menunggu momentum. Tapi, justeru harus menciptakan momentum. Misalnya yang rutin dilakukan oleh e-commerce raksasa asal China: Alibaba. Mereka menciptakan momentum dengan cara bikin event “Alibaba Singles Day”. Yakni hari belanja terbesar untuk merayakan para jomblo di China. Sejak pertama digelar pada 2011, program ini hampir selalu memecahkan rekor penjualan. 

Alibaba Singles Day selalu dilaksanakan pada 11 November (11.11). Tahun lalu, pada 11 November 2021, mencatat rekor diikuti 290 ribu brand. Dan berhasil membukukan total transaksi (gross merchandise value) mencapai USD 84,54 miliar (sekitar Rp 1.183 Triliun). Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai USD 75 miliar (sekitar Rp 1.057 Triliun). Sukses besar Alibaba ini lantas ditiru merek-merek di dunia untuk menggelar event serupa. 

Nah, untuk menciptakan momentum, butuh kreativitas. Dan, dalam menciptakan momentum tidak harus berskala besar. Momentum skala kecil atau bahkan mikro, seperti di tingkat individual, tidak lah masalah. Bila dikelola dengan baik, ditelateni dengan sungguh-sungguh, sebuah momentum itu bisa memberikan hasil maksimal bagi perusahaan.  

Wal akhir, dalam situasi apa pun, pebisnis selalu ditantang untuk jeli dalam melihat peluang. Dan peluang itu ada di dalam setiap momentum. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/baz/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia