JP Radar Kediri- Jangan sepelekan bau kaki taknsedap. Secara medis, bau kaki ini dikenal sebagai bromodosis. Merupakan masalah yang sering dialami banyak orang sehingga membuat penderitanya merasa tidak percaya diri.
Banyak yang mengira bau ini muncul karena seseorang kurang menjaga kebersihan, padahal penyebabnya tidak sesederhana itu. Aroma tidak sedap tersebut terjadi akibat reaksi antara keringat dan bakteri yang secara alami tinggal di permukaan kulit.
Saat kaki berkeringat dan lembap di dalam kaus kaki atau sepatu, bakteri akan memecah keringat tersebut dan menghasilkan asam yang mengeluarkan bau kuat. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat menentukan cara penanganan yang lebih tepat dan efektif.
Salah satu faktor pemicu yang sering tidak disadari adalah perubahan hormon. Pada fase-fase tertentu seperti pubertas atau kehamilan, tubuh mengalami naik-turun hormon yang cukup drastis. Kondisi ini membuat kelenjar keringat bekerja lebih aktif dan menghasilkan keringat dalam jumlah lebih banyak.
Area kaki—yang memang memiliki banyak kelenjar keringat—menjadi bagian yang paling mudah terkena dampaknya. Karena perubahan hormon merupakan proses alami yang tidak bisa dihentikan, langkah yang dapat dilakukan adalah mengontrol produksi keringat berlebih, bukan mencoba menghilangkan penyebab hormonalnya.
Masalah medis bernama hiperhidrosis juga dapat menjadi penyebab utama bau kaki. Kondisi ini membuat tubuh mengeluarkan keringat dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan normal untuk mendinginkan tubuh.
Hiperhidrosis dapat muncul akibat gangguan metabolisme maupun masalah pada sistem saraf. Pada orang yang mengalaminya, telapak kaki cenderung selalu lembap, sehingga menjadi lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan bakteri.
Dampaknya, bau kaki bisa menjadi lebih kuat dan sulit diatasi hanya dengan mencuci kaki. Dalam banyak kasus, kondisi ini membutuhkan perawatan medis khusus agar dapat tertangani dengan baik.
Faktor eksternal lain yang turut memicu bau kaki adalah infeksi jamur atau kutu air (athlete’s foot). Kondisi ini bisa dialami siapa saja, bukan hanya atlet, terutama mereka yang sering berada di area lembap.
Gejalanya biasanya berupa rasa gatal, kulit mengelupas, serta retakan di sela-sela jari kaki. Kulit yang mengalami iritasi dan terinfeksi tersebut menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang, sehingga bau kaki pun semakin kuat. Untuk menghilangkan bau yang disebabkan kondisi ini, langkah utama adalah menangani infeksi jamurnya dengan obat antijamur yang tepat.
Jangan mengabaikan peran stres dalam memengaruhi kondisi kaki. Ketika sedang tertekan, tubuh memproduksi hormon tertentu yang dapat memicu reaksi fisik, salah satunya meningkatkan produksi keringat.
Berbeda dari keringat karena suhu panas, keringat akibat stres berasal dari kelenjar apokrin yang menghasilkan cairan lebih pekat dan cenderung beraroma kuat. Pada banyak orang, telapak tangan dan kaki justru menjadi bagian yang paling cepat berkeringat saat rasa cemas muncul, yang akhirnya ikut memperburuk bau kaki.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa bau kaki muncul dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Mulai dari perubahan dalam tubuh seperti fluktuasi hormon dan masalah medis seperti hiperhidrosis, hingga penyebab luar seperti infeksi jamur dan reaksi tubuh saat mengalami stres.
Dengan memahami sumber utamanya—apakah berasal dari hormon, kondisi kesehatan, infeksi, atau faktor psikologis—Anda bisa menentukan cara penanganan yang lebih tepat sasaran. Menghilangkan bau kaki tidak cukup hanya dengan menjaga kebersihan, tetapi memerlukan langkah yang menyeluruh sesuai penyebab yang mendasarinya.
Artikel ini ditulis Dita Amelia Ningsih, Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian