Kamu sudah menonton film The Amazing Spiderman 2 yang villainnya bernama Electro? Musuh si Manusia Laba-Laba ini diperankan oleh Jamie Foxx. Berkisah orang yang mampu mengendalikan kekuatan listrik. Termasuk menyedot daya listrik di seluruh kota untuk dia gunakan di tubuhnya.
Nah, pertanyaannya, apakah di dunia nyata ada manusia yang seperti itu? Ya jelas sampai sekarang tidak pernah ada orang yang seperti tokoh komik dan film itu. Tapi, sebenarnya, tubuh kita ini sudah tidak asing dengan yang namanya listrik.
Mungkin, kamu pernah merasakan menyentuh orang atau benda lalu tiba-tiba merasa kayak kesetrum? Sensasi seperti tersengat listrik ini sering bikin kita bertanya-tanya, “Eh, jangan-jangan tanganku bisa menghasilkan listrik?”
Nah, coba kita bahas fakta ilmiahnya. Sebenarnya, manusia memang tidak punya kekuatan seperti belut listrik. Yang bisa nyetrum mangsanya buat self defense alias pertahanan diri.
Namun, tubuh kita, secara alami, memiliki hubungan erat dengan listrik. Bahkan, jantung kita bisa berdetak dan otak kita bisa berpikir karena adanya sinyal listrik di dalam tubuh.
Karena itu, ketika orang merasa “nyetrum” pas menyentuh benda logam atau orang lain, itu adalah listrik statis. Bukan listrik aktif seperti yang dimiliki belut listrik.
So, apa itu listrik statis? Listrik statis terjadi saat tubuh mengumpulkan muatan listrik dari gesekan. Lalu tiba-tiba melepaskannya ke benda lain.
Kondisi ini sering terjadi saat udara kering. Atau saat kamu memakai pakaian berbahan sintetis. Misalnya, habis jalan di atas karpet pakai kaos kaki, lalu nyentuh gagang pintu—ZAP! Tanganmu nyetrum. Tapi tenang, itu bukan kekuatan super. Itu hanya fisika dasar.
Tubuh manusia memang bisa menghantarkan listrik. Karena mengandung air dan ion mineral. Tapi itu sangat beda dengan menghasilkan listrik dalam arti sebenarnya. Kita hanya bisa mengalirkan listrik, bukan menciptakannya dari nol seperti belut listrik.
Belut listrik punya organ khusus bernama elektrosit. Organ tersebut yang menyusun “baterai alami” di tubuhnya.
Manusia tidak punya organ seperti itu. Jadi, kalaupun kamu sering merasa “punya listrik”, itu bukan karena tubuhmu bikin listrik sendiri. Melainkan akumulasi listrik dari lingkungan.
Beberapa orang memang lebih sering mengalami listrik statis dibandingkan yang lain. Bisa jadi karena jenis kulitnya, baju yang dipakai, atau rutinitas harian yang melibatkan banyak gesekan.
Tapi sekali lagi, ini hanya efek lingkungan. Bukan kemampuan spesial tubuh.
Yang menarik, tubuh manusia punya listrik internal yang sangat penting. Otak mengirim sinyal ke tubuh melalui impuls listrik kecil.
Jantung berdetak karena pacu jantung menghasilkan sinyal listrik. Serta, otot bisa bergerak juga karena listrik biologis.
Sinyal listrik di tubuh kita sangat kecil. Umumnya hanya beberapa milivolt. Karena itulah kamu butuh alat khusus seperti EKG untuk melihat sinyal listrik jantung. Atau juga EEG untuk membaca aktivitas otak. Tanpa alat itu, kita enggak akan sadar kalau tubuh kita “berlistrik”.
Kadang ada juga orang merasa tangan mereka “nyetrum” terus-menerus. Terutama di jari atau telapak.
Kalau kamu ngalamin ini tanpa sebab jelas, bisa jadi itu gejala gangguan saraf. Seperti carpal tunnel syndrome, neuropati, atau sirkulasi darah yang buruk. Jadi, enggak selalu karena listrik statis.
Ada juga kepercayaan di budaya tertentu yang menganggap manusia punya “energi dalam” atau “tenaga batin” yang bisa dipancarkan dari tangan. Meskipun menarik, konsep ini belum terbukti secara ilmiah. Lebih berkaitan dengan keyakinan spiritual atau teknik pernapasan dan meditasi.
Mungkin kamu juga pernah dengar orang-orang yang katanya bisa “menyalurkan energi” lewat tangan. Seperti dalam pengobatan alternatif reiki atau prana. Walaupun banyak yang merasa manfaatnya, secara ilmiah belum ada bukti bahwa itu benar-benar berupa aliran listrik seperti pada alat elektronik.
Bahkan, di dunia teknologi, para peneliti sedang mengembangkan bahan dan alat yang bisa menghasilkan listrik dari gerakan tubuh. Misalnya dari langkah kaki atau getaran kulit.
Tapi itu bukan kemampuan alami tubuh. Melainkan teknologi tambahan yang dirancang buat menghasilkan energi.
Satu hal yang jelas, tubuh manusia tidak dirancang buat menyetrum makhluk lain. Jadi, kalau kamu nyetrum temanmu saat salaman, itu bukan kamu yang “ngasih listrik”. Melainkan akumulasi listrik statis yang kebetulan dilepas saat itu juga.
Kalau kamu sering nyetrum orang atau benda, tipsnya gampang. Pakai pelembap udara di ruangan kering. Kenakan pakaian dari bahan katun. Lalu, sebelum menyentuh benda logam, sentuh dulu tembok atau tanah agar muatan listriknya netral.
Jadi, kesimpulannya: tangan manusia memang bisa "nyetrum" tapi itu bukan karena kamu punya kekuatan listrik kayak belut atau tokoh film superhero. Itu hanya efek dari listrik statis atau gangguan saraf tertentu, bukan hasil dari organ penghasil listrik di tubuh.(*)
Editor : Mahfud