25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Prokes untuk Uji Coba Asesmen Nasional Semidaring di Kediri Diperketat

 

 

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sekolah-sekolah yang melakukan asesmen nasional (AN) secara semi-daring diminta untuk memperketat pelaksanaan protokol kesehatan (prokes). Sebab, saat ini pelaksanaan PPKM masih berlangsung. Ancaman penularan virus korona pun masih tinggi.

“Tetap harus patuhi protokol kesehatan,” ingat Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdispendik) Jatim wilayah Kediri Sidik Purnomo.

Sidik menekankan, simulasi memang harus dilakukan. Selain untuk menata pelaksanaan terkait prokes, juga terkait pengecekan pada sarana dan prasarana. Termasuk juga melihat kesiapan server di tiap sekolah.

Sidik memastikan setiap sekolah sudah melakukan pengecekan jaringan untuk AN yang sistemnya terpusat itu. Mereka pula yang akan memilih apakah menggunakan semi-daring atau daring secara penuh. Namun, juga ada  opsi bagi sekolah yang memutuskan melakukan AN melalui daring.

“Jika memang sekolah atau dari pihak murid yang terdaftar untuk mengikuti AN kesulitan mereka bisa langsung ke sekolah. Kami pastikan kendala untuk internet tidak akan terganggu,” imbuhnya.

Sementara itu sekolah-sekolah di kelompok SMK, SMA, dan MA di Kabupaten Kediri telah melakukan simulasi. Salah satunya di MAN 3 Kandangan. Simulasi yang dilakukan itu untuk siswa yang ikut AN semi-daring.

“Sudah (berlangsung) sejak Jumat (27/8, Red). Kami cuma undang sekitar belasan murid saja,” kata Kepala MAN 3 Kediri H Makhsun.

Baca Juga :  Ratusan Peserta Ikuti Ujian Luring dan Daring

Simulasi itu bertuan untuk melakukan pengecekan pada persiapan AN. Seperti seperti apa soalnya dan bagaimana cara pengerjaannya. Ia menjelaskan murid perlu datang ke sekolah. Karena banyak hal yang harus diterangkan. “Sudah daring sejak 2020 dan tahun ini kan ada AN. Juga perlu dikenalkan ke murid,” ujar lelaki yang kemarin berpeci hitam itu.

Setelah dilakukan simulasi secara terbatas itu, Makhsun menjelaskan bahwa hasil pengerjaan pun dilakukan evaluasi. Sekaligus untuk mempersiapkan bila ada murid yang mengerjakan di sekolah atau di rumah.

Terkait kesiapa server, Makhsun menegaskan tak ada masalah. “Insya Allah siap. Bisa di sekolah semi-daring ataupun langsung di rumah,” tukas Makhsun.

Sementara itu, AN juga akan diikuti oleh kelompok sekolah luar biasa (SLB). Namun, untuk SLB ini tak ada simulasi. Mereka akan langsung mengikuti pelaksanaannya pada September hingga November.

Berbeda dengan AN untuk sekolah umum, siswa SLB nanti akan mendapatkan pendampingan. “Saat pelaksanaan nanti siswa SLM akan didampingi satu guru,” terang Kasi Kurikulum dan Peserta Didik Dinas Pendidikan Kota Kediri Afando Okta Bahar.

Dalam juknis AN, jumlah siswa yang ditunjuk sama seperti jenjang sekolah lain. Untuk SD ada 30 siswa utama dan 5 cadangan. Untuk kelompok SMP, SMA, SMK sebanyak 45 siswa utama dan 5 siswa cadangan.

Baca Juga :  Bupati Kediri: Percayalah, Kami Siap untuk Terbuka

“SLB termasuk kategori khusus. Penunjukan peserta sama seperti yang lain, ditentukan Pusat,” paparnya.

Secara garis besar asesmen untuk siswa berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi dua. Yaitu asesmen perkembangan dan asesmen akademik. Asesmen perkembangan meliputi pada aspek-aspek yang berkaitan dengan keterampilan prasyarat yang diperlukan untuk keberhasilan bidang akademik.

Apek-aspek yang diakses dapat berupa perkembangan kognitif. Yang meliputi aspek bahasa dan komunikasi, persepsi, konsentrasi, memori perkembangan motorik, perkembangan sosial, dan perkembangan emosi.

Sementara untuk asesmen akademik menekankan pada upaya mengukur pencapaian prestasi belajar siswa. Pada asesmen akademik ini aspek yang diukur adalah bidang-bidang kemampuan dan keterampilan akademik. Seperti keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.

“Banyak siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan pada aspek berhitung. Pada kemampuan berhitung terdiri dari tiga aspek yaitu berhitung, pemecahan masalah dan aplikasi berhitung,” tuturnya.

Menurutnya tiga aspek asesmen perkembangan akademik ini sangat bersifat fundamental dalam pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai kurikulum. “Tanpa adanya pelaksanaan asesmen bisa dipastikan guru tidak akan mampu membuat perencanaan pembelajaran dengan baik dan perencanaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Sehingga pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tidak akan sesuai dengan siswa,” paparnya. (ica/syi/fud)

- Advertisement -

 

 

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sekolah-sekolah yang melakukan asesmen nasional (AN) secara semi-daring diminta untuk memperketat pelaksanaan protokol kesehatan (prokes). Sebab, saat ini pelaksanaan PPKM masih berlangsung. Ancaman penularan virus korona pun masih tinggi.

“Tetap harus patuhi protokol kesehatan,” ingat Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdispendik) Jatim wilayah Kediri Sidik Purnomo.

Sidik menekankan, simulasi memang harus dilakukan. Selain untuk menata pelaksanaan terkait prokes, juga terkait pengecekan pada sarana dan prasarana. Termasuk juga melihat kesiapan server di tiap sekolah.

Sidik memastikan setiap sekolah sudah melakukan pengecekan jaringan untuk AN yang sistemnya terpusat itu. Mereka pula yang akan memilih apakah menggunakan semi-daring atau daring secara penuh. Namun, juga ada  opsi bagi sekolah yang memutuskan melakukan AN melalui daring.

“Jika memang sekolah atau dari pihak murid yang terdaftar untuk mengikuti AN kesulitan mereka bisa langsung ke sekolah. Kami pastikan kendala untuk internet tidak akan terganggu,” imbuhnya.

Sementara itu sekolah-sekolah di kelompok SMK, SMA, dan MA di Kabupaten Kediri telah melakukan simulasi. Salah satunya di MAN 3 Kandangan. Simulasi yang dilakukan itu untuk siswa yang ikut AN semi-daring.

“Sudah (berlangsung) sejak Jumat (27/8, Red). Kami cuma undang sekitar belasan murid saja,” kata Kepala MAN 3 Kediri H Makhsun.

Baca Juga :  Penyidik Kejari Kota Kediri Telusuri Aliran Fee BPNT

Simulasi itu bertuan untuk melakukan pengecekan pada persiapan AN. Seperti seperti apa soalnya dan bagaimana cara pengerjaannya. Ia menjelaskan murid perlu datang ke sekolah. Karena banyak hal yang harus diterangkan. “Sudah daring sejak 2020 dan tahun ini kan ada AN. Juga perlu dikenalkan ke murid,” ujar lelaki yang kemarin berpeci hitam itu.

Setelah dilakukan simulasi secara terbatas itu, Makhsun menjelaskan bahwa hasil pengerjaan pun dilakukan evaluasi. Sekaligus untuk mempersiapkan bila ada murid yang mengerjakan di sekolah atau di rumah.

Terkait kesiapa server, Makhsun menegaskan tak ada masalah. “Insya Allah siap. Bisa di sekolah semi-daring ataupun langsung di rumah,” tukas Makhsun.

Sementara itu, AN juga akan diikuti oleh kelompok sekolah luar biasa (SLB). Namun, untuk SLB ini tak ada simulasi. Mereka akan langsung mengikuti pelaksanaannya pada September hingga November.

Berbeda dengan AN untuk sekolah umum, siswa SLB nanti akan mendapatkan pendampingan. “Saat pelaksanaan nanti siswa SLM akan didampingi satu guru,” terang Kasi Kurikulum dan Peserta Didik Dinas Pendidikan Kota Kediri Afando Okta Bahar.

Dalam juknis AN, jumlah siswa yang ditunjuk sama seperti jenjang sekolah lain. Untuk SD ada 30 siswa utama dan 5 cadangan. Untuk kelompok SMP, SMA, SMK sebanyak 45 siswa utama dan 5 siswa cadangan.

Baca Juga :  Hari Ketiga Masih Belum Dapat PIN

“SLB termasuk kategori khusus. Penunjukan peserta sama seperti yang lain, ditentukan Pusat,” paparnya.

Secara garis besar asesmen untuk siswa berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi dua. Yaitu asesmen perkembangan dan asesmen akademik. Asesmen perkembangan meliputi pada aspek-aspek yang berkaitan dengan keterampilan prasyarat yang diperlukan untuk keberhasilan bidang akademik.

Apek-aspek yang diakses dapat berupa perkembangan kognitif. Yang meliputi aspek bahasa dan komunikasi, persepsi, konsentrasi, memori perkembangan motorik, perkembangan sosial, dan perkembangan emosi.

Sementara untuk asesmen akademik menekankan pada upaya mengukur pencapaian prestasi belajar siswa. Pada asesmen akademik ini aspek yang diukur adalah bidang-bidang kemampuan dan keterampilan akademik. Seperti keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.

“Banyak siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan pada aspek berhitung. Pada kemampuan berhitung terdiri dari tiga aspek yaitu berhitung, pemecahan masalah dan aplikasi berhitung,” tuturnya.

Menurutnya tiga aspek asesmen perkembangan akademik ini sangat bersifat fundamental dalam pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai kurikulum. “Tanpa adanya pelaksanaan asesmen bisa dipastikan guru tidak akan mampu membuat perencanaan pembelajaran dengan baik dan perencanaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Sehingga pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tidak akan sesuai dengan siswa,” paparnya. (ica/syi/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/