28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Divaksin, ODGJ di Kediri Berteriak-teriak

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri mulai melakukan vaksinasi terhadap kelompok difabel dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berbeda dengan sasaran lain, petugas terpaksa menyuntikkan vaksin di rumah karena tidak sedikit sasaran yang tidak datang ke puskesmas.

          Seperti yang dilakukan terhadap pemuda asal Desa Badalpandean, Ngadiluwih kemarin. Pemuda itu dijadwalkan divaksin di Puskesmas Wonorejo, Ngadiluwih. Tetapi, dia tidak bisa datang ke puskesmas karena kondisinya tidak memungkinkan.

          Setelah vaksinasi reguler di puskesmas selesai, tim lantas mendatangi satu per satu sasaran yang tidak datang. Begitu tim tiba, pemuda berkaus lengan pendek itu terlihat panik. Dia lantas berteriak-teriak saat tim mengecek tekanan darahnya. Di saat yang sama, dia juga menempelkan wajah ke tembok saat hendak disuntik.

          Posiah, 68, ODGJ lainnya, memberikan respons yang berbeda. Saat tim vaksinator tiba di rumah dia langsung hilir mudik, keluar masuk rumah. Berputar-putar terlihat kebingungan. “Sejak pagi sudah keluyuran keluar rumah,” ujar Siti Kodijah, adik Posiah tentang alasannya tak bisa mengantar sang kakak mengikuti vaksinasi di puskesmas.

          Di saat yang sama, Siti juga tidak bisa mengantar kakaknya karena harus bekerja. Karenanya, dia mengaku senang saat tim bersedia datang ke rumah untuk menyuntik Posiah.

          Ketua Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri (PDKK) Umi Salamah mengatakan, kesulitan dalam vaksinasi ODGJ rata-rata sama. Yakni, kondisi mereka menyulitkan keluarga untuk membawa ke puskesmas.

Baca Juga :  Organisasi Buruh Kediri Desak Cabut Permenaker

Tidak sedikit ODGJ yang sulit diatur hingga membuat pendampingnya kewalahan. “Seperti yang sampeyan lihat sendiri barusan,” kata Umi saat melihat tingkah laku Posiah.

Adapun untuk penyandang disabilitas menurutnya juga hampir sama. Tidak ada anggota keluarga yang mengantar ke puskesmas hingga mereka tak bisa memenuhi undangan.

          Umi menegaskan, sebelumnya mereka juga sudah melakukan sosialisasi kepada keluarga. Termasuk memberi tahu secara langsung. Anggota PDKK di tiap kecamatan juag diturunkan untuk memberi semangat kepada penyandang disabilitas, keluarga, hingga keluarga ODGJ. “Tapi memang banyak yang tidak datang karena pendampingnya bekerja atau (ODGJ, Red) tidak mau keluar rumah,” terangnya.

          Melihat respons ODGJ yang beragam saat divaksinasi di rumah, Nana Sulistyaningsih dan Rina Nurhayati, dua bidan UPTD Puskesmas Wonorejo mengaku bisa memaklumi hal tersebut. “Masing-masing orang kan berbeda,” ujar Nana diamini Rina saat usai menyuntikkan vaksin kepada Posiah kemarin. 

          Terpisah, Kepala UPTD Puskesmas Wonorejo drg Muchoiyaroh menuturkan, penyandang disabilitas yang datang ke puskesmas harus didampingi keluarganya. Sebab, jumlah tenaga di puskesmas terbatas dan mereka belum memahami kebutuhan khusus penyandang disabilitas.

          Sesuai tahapan peserta umum, vaksinasi terhadap disabilitas dan ODGJ juga tetap dilakukan screening. Tahap inilah yang menurut Muchoiyaroh butuh pendampingan. Misalnya, untuk disabilitas dan ODGJ yang kesulitan berkomunikasi.

          Vaksinasi kemarin menurut Muchoiyaroh bukanlah yang pertama. Sebelumnya sudah ada disabilitas dan ODGJ yang divaksin bersama masyarakat umum. “Alhamdulillah tidak apa-apa. Yang ikut bareng dengan kategori masyarakat umum juga sehat semua,” urainya.

Baca Juga :  Dhito Optimistis, PDIP Sebut Bukos Hanya Kuat di Pare

          Sementara itu, jika vaksinasi di Kabupaten Kediri menyasar ODGJ dan difabel, di Kota Kediri vaksinasi kembali digencarkan dengan sasaran masyarakat umum. Jika sebelumnya dinkes fokus menuntaskan vaksinasi dosis kedua, kemarin kembali dilakukan vaksinasi dosis pertama.

          Jubir Satgas Penanggulangan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan, vaksinasi dosis pertama untuk masyarakat umum menggunakan vaksin AstraZeneca. Vaksin merk ini menurut Fauzan juga ampuh membentuk antibodi melawan Covid-19. “Makanya peminatnya juga tak kalah dengan vaksin jenis Sinovac,” bebernya.

          Terkait dampak vaksinasi, menurut Fauzan biasanya orang yang divaksin AstraZeneca bisa merasakan demam atau pusing. Meski demikian, hingga kemarin belum ada warga yang mengeluh sakit usai divaksinasi.

          Bagaimana jika ke depan ada masyarakat yang mengalami sakit usai vaksinasi? Pria yang juga kepala dinas kesehatan ini menyebut ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Yang pertama, mengobati gejala penyakit yang dirasakan. Selebihnya, dia meminta agar masyarakat tetap tenang dan menghindari stres pascavaksinasi. “Banyak minum, dan obati penyakit sesuai gejalanya,” tandas Fauzan. (syi/ica/ut)

 

Kabupaten Kediri:

Konfirmasi : 13377 (+22)

Aktif : 508 (-52)

Sembuh : 11749 (+63)

Meninggal : 1120 (+11)

 

Kota Kediri :

Konfirmasi : 3853 (+ 10)

Aktif : 238

Sembuh : 3290 (+28)

Meninggal : 369 (+3)

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri mulai melakukan vaksinasi terhadap kelompok difabel dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berbeda dengan sasaran lain, petugas terpaksa menyuntikkan vaksin di rumah karena tidak sedikit sasaran yang tidak datang ke puskesmas.

          Seperti yang dilakukan terhadap pemuda asal Desa Badalpandean, Ngadiluwih kemarin. Pemuda itu dijadwalkan divaksin di Puskesmas Wonorejo, Ngadiluwih. Tetapi, dia tidak bisa datang ke puskesmas karena kondisinya tidak memungkinkan.

          Setelah vaksinasi reguler di puskesmas selesai, tim lantas mendatangi satu per satu sasaran yang tidak datang. Begitu tim tiba, pemuda berkaus lengan pendek itu terlihat panik. Dia lantas berteriak-teriak saat tim mengecek tekanan darahnya. Di saat yang sama, dia juga menempelkan wajah ke tembok saat hendak disuntik.

          Posiah, 68, ODGJ lainnya, memberikan respons yang berbeda. Saat tim vaksinator tiba di rumah dia langsung hilir mudik, keluar masuk rumah. Berputar-putar terlihat kebingungan. “Sejak pagi sudah keluyuran keluar rumah,” ujar Siti Kodijah, adik Posiah tentang alasannya tak bisa mengantar sang kakak mengikuti vaksinasi di puskesmas.

          Di saat yang sama, Siti juga tidak bisa mengantar kakaknya karena harus bekerja. Karenanya, dia mengaku senang saat tim bersedia datang ke rumah untuk menyuntik Posiah.

          Ketua Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri (PDKK) Umi Salamah mengatakan, kesulitan dalam vaksinasi ODGJ rata-rata sama. Yakni, kondisi mereka menyulitkan keluarga untuk membawa ke puskesmas.

Baca Juga :  Sedimen Menumpuk, Aliran Sungai Brantas Menyempit

Tidak sedikit ODGJ yang sulit diatur hingga membuat pendampingnya kewalahan. “Seperti yang sampeyan lihat sendiri barusan,” kata Umi saat melihat tingkah laku Posiah.

Adapun untuk penyandang disabilitas menurutnya juga hampir sama. Tidak ada anggota keluarga yang mengantar ke puskesmas hingga mereka tak bisa memenuhi undangan.

          Umi menegaskan, sebelumnya mereka juga sudah melakukan sosialisasi kepada keluarga. Termasuk memberi tahu secara langsung. Anggota PDKK di tiap kecamatan juag diturunkan untuk memberi semangat kepada penyandang disabilitas, keluarga, hingga keluarga ODGJ. “Tapi memang banyak yang tidak datang karena pendampingnya bekerja atau (ODGJ, Red) tidak mau keluar rumah,” terangnya.

          Melihat respons ODGJ yang beragam saat divaksinasi di rumah, Nana Sulistyaningsih dan Rina Nurhayati, dua bidan UPTD Puskesmas Wonorejo mengaku bisa memaklumi hal tersebut. “Masing-masing orang kan berbeda,” ujar Nana diamini Rina saat usai menyuntikkan vaksin kepada Posiah kemarin. 

          Terpisah, Kepala UPTD Puskesmas Wonorejo drg Muchoiyaroh menuturkan, penyandang disabilitas yang datang ke puskesmas harus didampingi keluarganya. Sebab, jumlah tenaga di puskesmas terbatas dan mereka belum memahami kebutuhan khusus penyandang disabilitas.

          Sesuai tahapan peserta umum, vaksinasi terhadap disabilitas dan ODGJ juga tetap dilakukan screening. Tahap inilah yang menurut Muchoiyaroh butuh pendampingan. Misalnya, untuk disabilitas dan ODGJ yang kesulitan berkomunikasi.

          Vaksinasi kemarin menurut Muchoiyaroh bukanlah yang pertama. Sebelumnya sudah ada disabilitas dan ODGJ yang divaksin bersama masyarakat umum. “Alhamdulillah tidak apa-apa. Yang ikut bareng dengan kategori masyarakat umum juga sehat semua,” urainya.

Baca Juga :  Dhito Optimistis, PDIP Sebut Bukos Hanya Kuat di Pare

          Sementara itu, jika vaksinasi di Kabupaten Kediri menyasar ODGJ dan difabel, di Kota Kediri vaksinasi kembali digencarkan dengan sasaran masyarakat umum. Jika sebelumnya dinkes fokus menuntaskan vaksinasi dosis kedua, kemarin kembali dilakukan vaksinasi dosis pertama.

          Jubir Satgas Penanggulangan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan, vaksinasi dosis pertama untuk masyarakat umum menggunakan vaksin AstraZeneca. Vaksin merk ini menurut Fauzan juga ampuh membentuk antibodi melawan Covid-19. “Makanya peminatnya juga tak kalah dengan vaksin jenis Sinovac,” bebernya.

          Terkait dampak vaksinasi, menurut Fauzan biasanya orang yang divaksin AstraZeneca bisa merasakan demam atau pusing. Meski demikian, hingga kemarin belum ada warga yang mengeluh sakit usai divaksinasi.

          Bagaimana jika ke depan ada masyarakat yang mengalami sakit usai vaksinasi? Pria yang juga kepala dinas kesehatan ini menyebut ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Yang pertama, mengobati gejala penyakit yang dirasakan. Selebihnya, dia meminta agar masyarakat tetap tenang dan menghindari stres pascavaksinasi. “Banyak minum, dan obati penyakit sesuai gejalanya,” tandas Fauzan. (syi/ica/ut)

 

Kabupaten Kediri:

Konfirmasi : 13377 (+22)

Aktif : 508 (-52)

Sembuh : 11749 (+63)

Meninggal : 1120 (+11)

 

Kota Kediri :

Konfirmasi : 3853 (+ 10)

Aktif : 238

Sembuh : 3290 (+28)

Meninggal : 369 (+3)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/