30.2 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Awas! Air di Tiga Kelurahan di Kota Kediri Tercemar Logam Berat

Tiga kelurahan di Kota Kediri yang sudah terdampak pencemaran air akibat limbah logam berat. Menjadi ancaman serius bagi kesehatan warganya.

Catatan Dinas Kesehatan(Dinkes) Kota Kediri, ada tiga kelurahan yang terdampak pencemaran air. Tiga kelurahan itu adalah Pesantren di Kecamatan Pesantren, Blabak di Kecamatan Pesantren, dan terakhir, Bujel Kecamatan Mojoroto. Kondisi yang menimpa tiga kelurahan itu sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir.

Kadar pencemarannya berbeda-beda di setiap kelurahan. Misalnya di Kelurahan Pesantren, pada 2018 wilayah ini tercemar limbah pabrik. Warga sampai kesulitan air bersih karena air sumurnya kotor dan berbau.

Setahun kemudian, 2019, hal serupa terjadi Kelurahan Blabak. Warga merasakan situasi serupa seperti yang terjadi di Pesantren. Untungnya, kondisi ini tak berlarut-larut.

“Di Blabak bisa cepat di atasi karena diketahui lebih awal,” terang Kepala Dinkes dr Fauzan Adima.

Pencemaran di tempat ini terjadi akibat limbah slag alumunium. Untungnya, titik asal bisa diketahui. Sehingga pemerintah bisa lebih awal menangani.

Agak berbeda dengan yang terjadi di Kelurahan Bujel. Pencemaran baru diketahui tahun ini. Setelah warga mengeluhkan kondisi air sumur yang tak layak. Selain keruh, berwarna kuning, juga mengeluarkan bau.

Baca Juga :  Pasokan Telur Melimpah

Pencemaran air sumur ini diperkirakan terjadi sejak puluhan tahun lalu. Yaitu selepas warga menutup lubang bekas galian pembuatan bata merah. Karena hendak dijadikan permukiman, lubang-lubang yang luas itu diisi dengan limbah dari pabrik rokok.

Karena berlangsung bertahun-tahun, pencemarannya sudah meluas ketika diketahui. Area yang terdampak mencapai radius satu kilometer.

“(Pencemaran yang terjadi di) tiga kelurahan itu cukup parah,” ujar dr Fauzan.

Mengapa dinkes menyebut pencemaran sudah parah? Karena rata-rata air yang tercemar mengandung unsur kimia yang bisa membahayakan kesehatan. Apalagi jumlahnya sudah melebihi ambang batas.

Fauzan mengklaim, kualitas air di kelurahan lainnya masih aman. Itu diketahui karena tiap enam bulan sekali puskemas setempat selalu melakukan pengecekan kualitas air minum. Terutama di kawasan yang dianggap rawan tercemar.

Menurut dr Fauzan, kawasan yang airnya rawan tercemar berada di tempat padat penduduk. “Jarak air sumur dan tempat buang air besarnya berdekatan,” terangnya.

Baca Juga :  Ora Waleh Ngajak Nom-noman Nyenengi Budaya

Keadaan itu menyebabkan pencemaran air. Sumur warga akhirnya terkontaminasi bakteri E-Coli. Menurut Fauzan, E-Coli masih bisa dihilangkan, tapi bila kandungan logam tidak bisa diolah.

Terpisah, ahli kesehatan lingkungan Indasah menyebut, tubuh manusia memang membutuhkan logam. Tapi, jumlahnya tidak banyak. Bila konsumsi tubuh berlebihan akan berbahaya bagi tubuh.

“Bisa menyebabkan penyakit kronis,” ujar lulusan S3 Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Perempuan yang juga Direktur Pascasarjana IIK Strada Indonesia menjelaskan, ada perbedaan antara kandungan logam dengan E-Coli yang bisa mengakibatkan penyakit akut. Jika kandungan E-Coli terlalu banyak maka penyakitnya bisa langsung terasa. Seperti sakit perut dan diare. Sedangkan bila penyakit kronis, terasanya bisa dalam waktu lama. Namun, dampaknya juga berbahaya.

Menurut Indasah, problem permukiman padat penduduk adalah sumurnya kerap tercemar. Salah satunya karena jarak buangan WC dengan sumur kurang dari 10 meter. Belum lagi, pencemaran limbah rumah tangga menambah problematika kesehatan lingkungan. Dan itu perlu solusi yang tepat. (rekian/fud)

- Advertisement -

Tiga kelurahan di Kota Kediri yang sudah terdampak pencemaran air akibat limbah logam berat. Menjadi ancaman serius bagi kesehatan warganya.

Catatan Dinas Kesehatan(Dinkes) Kota Kediri, ada tiga kelurahan yang terdampak pencemaran air. Tiga kelurahan itu adalah Pesantren di Kecamatan Pesantren, Blabak di Kecamatan Pesantren, dan terakhir, Bujel Kecamatan Mojoroto. Kondisi yang menimpa tiga kelurahan itu sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir.

Kadar pencemarannya berbeda-beda di setiap kelurahan. Misalnya di Kelurahan Pesantren, pada 2018 wilayah ini tercemar limbah pabrik. Warga sampai kesulitan air bersih karena air sumurnya kotor dan berbau.

Setahun kemudian, 2019, hal serupa terjadi Kelurahan Blabak. Warga merasakan situasi serupa seperti yang terjadi di Pesantren. Untungnya, kondisi ini tak berlarut-larut.

“Di Blabak bisa cepat di atasi karena diketahui lebih awal,” terang Kepala Dinkes dr Fauzan Adima.

Pencemaran di tempat ini terjadi akibat limbah slag alumunium. Untungnya, titik asal bisa diketahui. Sehingga pemerintah bisa lebih awal menangani.

Agak berbeda dengan yang terjadi di Kelurahan Bujel. Pencemaran baru diketahui tahun ini. Setelah warga mengeluhkan kondisi air sumur yang tak layak. Selain keruh, berwarna kuning, juga mengeluarkan bau.

Baca Juga :  Jembatan Besi Pertama di Jawa Itu Makin Aman

Pencemaran air sumur ini diperkirakan terjadi sejak puluhan tahun lalu. Yaitu selepas warga menutup lubang bekas galian pembuatan bata merah. Karena hendak dijadikan permukiman, lubang-lubang yang luas itu diisi dengan limbah dari pabrik rokok.

Karena berlangsung bertahun-tahun, pencemarannya sudah meluas ketika diketahui. Area yang terdampak mencapai radius satu kilometer.

“(Pencemaran yang terjadi di) tiga kelurahan itu cukup parah,” ujar dr Fauzan.

Mengapa dinkes menyebut pencemaran sudah parah? Karena rata-rata air yang tercemar mengandung unsur kimia yang bisa membahayakan kesehatan. Apalagi jumlahnya sudah melebihi ambang batas.

Fauzan mengklaim, kualitas air di kelurahan lainnya masih aman. Itu diketahui karena tiap enam bulan sekali puskemas setempat selalu melakukan pengecekan kualitas air minum. Terutama di kawasan yang dianggap rawan tercemar.

Menurut dr Fauzan, kawasan yang airnya rawan tercemar berada di tempat padat penduduk. “Jarak air sumur dan tempat buang air besarnya berdekatan,” terangnya.

Baca Juga :  Jujur saat Positif Bisa Akhiri Pandemi

Keadaan itu menyebabkan pencemaran air. Sumur warga akhirnya terkontaminasi bakteri E-Coli. Menurut Fauzan, E-Coli masih bisa dihilangkan, tapi bila kandungan logam tidak bisa diolah.

Terpisah, ahli kesehatan lingkungan Indasah menyebut, tubuh manusia memang membutuhkan logam. Tapi, jumlahnya tidak banyak. Bila konsumsi tubuh berlebihan akan berbahaya bagi tubuh.

“Bisa menyebabkan penyakit kronis,” ujar lulusan S3 Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Perempuan yang juga Direktur Pascasarjana IIK Strada Indonesia menjelaskan, ada perbedaan antara kandungan logam dengan E-Coli yang bisa mengakibatkan penyakit akut. Jika kandungan E-Coli terlalu banyak maka penyakitnya bisa langsung terasa. Seperti sakit perut dan diare. Sedangkan bila penyakit kronis, terasanya bisa dalam waktu lama. Namun, dampaknya juga berbahaya.

Menurut Indasah, problem permukiman padat penduduk adalah sumurnya kerap tercemar. Salah satunya karena jarak buangan WC dengan sumur kurang dari 10 meter. Belum lagi, pencemaran limbah rumah tangga menambah problematika kesehatan lingkungan. Dan itu perlu solusi yang tepat. (rekian/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/