24.3 C
Kediri
Wednesday, June 29, 2022

Proyek Bandara Kediri: 19 Warga Belum Lepas Lahan

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Batas waktu jelang konsinyasi pembebasan lahan calon Bandara Kediri tinggal dua hari saja. Yakni hari ini (30/1) dan besok (31/1). Hingga kemarin, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kediri mencatat, warga yang belum melepaskan hak kepemilikan tanahnya hanya tinggal belasan orang.

“Data selalu bergerak, mungkin malam ini (tadi malam, Red) bisa saja bertambah. Karena beberapa masih proses,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Kediri Sukadi.

Dia menjelaskan bahwa data terakhir hanya tinggal 19 orang yang belum melepas lahannya. “Hari ini (kemarin, Red) progresnya di Desa Grogol tambah enam orang yang melepas,” imbuhnya.

Dari data yang dihimpun koran ini terakhir, tadi malam pukul 19.30 WIB disebutkan di Desa Grogol semuanya adalah lahan permukiman. Sementara untuk Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, hanya kurang satu bidang tanah sawah.

Pada waktu tersebut, lanjut Sukadi, petugas yang terlibat termasuk kepala desa (kades) dan camat yang warganya terdampak. Baik dari Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan; Desa/Kecamatan Grogol, maupun Desa Jatirejo, Banyakan, terus terjun ke lapangan. Sukadi menegaskan bahwa mereka menindaklanjuti pengajuan warga. Di antaranya permintaan appraisal atau ukur ulang. Maupun permintaan untuk pelepasan lahan.

“Ini teman-teman camat dan kepala desa masih di lapangan. Dan itu memang tugas kita untuk mengingatkan warga. Jangan sampai mereka kena konsinyasi,” terang pejabat pemkab tersebut.

Baca Juga :  Pelepasan Lahan Bandara Kediri: Deadline Konsinyasi Semakin Dekat

Dalam satu minggu ini, Sukadi menyatakan, perkembangan warga yang melepaskan lahan sangat pesat. Selain mengajukan langsung, beberapa di antara mereka meminta untuk appraisal dan pengukuran lahan ulang. Meski telah diukur, hanya ada beberapa yang berbeda dengan pengukuran awal. Itu pun tak terlalu signifikan.

Terkait kompensasi yang diberikan pada warga terdampak, Sukadi menegaskan bahwa hal itu atas usulan warga. Sebelumnya, dia telah mengingatkan warga untuk mencatat dan mengusulkan aktivitas usaha apa saja yang dilakukan di rumah mereka. Seperti ternak unggas maupun ternak ruminansia (sapi). Dari keterangan Sukadi, itu dikategorikan sebagai usaha.

Sekali lagi, dia menjelaskan, untuk hewan ternak, bagi warga yang memiliki empat sapi akan diberi kompensasi sampai Rp 50 juta. Itu bisa digunakan sebagai dana pemindahan dan pembuatan kandang.

“Karena mereka yang ternak sapi dianggap sebagai usaha,” ungkap pria yang pernah menjabat Kabag Hukum Pemkab Kediri ini.

“Saya juga menunggu terkait mereka menyampaikan usahanya. Jadi mereka sendiri yang harus laporan ke saya, terkait apa saja yang dimiliki,” pesannya.

Apalagi, waktu hanya tinggal dua hari terhitung sejak kemarin (29/1). Sukadi menegaskan, yang perlu dilaporkan itu semua yang termasuk usaha rumahan. Misalkan di dalam rumah ada mesin jahit, selepan kopi atau mereka punya alat penggilingan padi. “Itu nanti bisa dilaporkan dan akan diperhitungkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Belasan Perwira Polres Nganjuk Dimutasi

Sukadi menyebut, peralatan itu nanti nilainya akan berbeda-beda. Disesuaikan dengan besar kecilnya dan harga barang tersebut. Nah, jika ada warga yang meminta appraisal atau pengukuran ulang, Sukadi menyarankan, agar mereka segera melaporkannya. “Jika sekarang ada permintaan, besok langsung ditindaklanjuti,” paparnya.

Untuk diketahui, batas waktu konsinyasi lahan pembebasan bandara sudah ditetapkan pada 1 Februari. Jika dalam waktu tersebut warga terdampak belum juga melepaskan tanah mereka, maka secara otomatis akan dibawa ke pengadilan dan harganya akan ditentukan negara, yakni lebih rendah dari penawaran saat ini.

      Terkait pelepasan lahan ini, sebelumnya sudah ada warga Tanjung harus rela pindah akibat pembebasan lahan pembangunan bandara. Keinginan  tetap tinggal bertetangga memunculkan permukiman bernama Tanjung Baru. Pemukiman baru ini berada jalan penghubung antara Dusun Bedrek Selatan di Desa Grogol, Kecamatan Grogol dengan Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan. Suasana di permukiman anyar ini masih sangat asri. Terletak di tengah areal persawahan. Dekat dengan kantor baru Imigrasi Kediri yang berada di jalan utama Desa Grogol. Jika ditarik garis lurus, hanya berjarak 100 meter saja.

 

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Batas waktu jelang konsinyasi pembebasan lahan calon Bandara Kediri tinggal dua hari saja. Yakni hari ini (30/1) dan besok (31/1). Hingga kemarin, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kediri mencatat, warga yang belum melepaskan hak kepemilikan tanahnya hanya tinggal belasan orang.

“Data selalu bergerak, mungkin malam ini (tadi malam, Red) bisa saja bertambah. Karena beberapa masih proses,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Kediri Sukadi.

Dia menjelaskan bahwa data terakhir hanya tinggal 19 orang yang belum melepas lahannya. “Hari ini (kemarin, Red) progresnya di Desa Grogol tambah enam orang yang melepas,” imbuhnya.

Dari data yang dihimpun koran ini terakhir, tadi malam pukul 19.30 WIB disebutkan di Desa Grogol semuanya adalah lahan permukiman. Sementara untuk Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, hanya kurang satu bidang tanah sawah.

Pada waktu tersebut, lanjut Sukadi, petugas yang terlibat termasuk kepala desa (kades) dan camat yang warganya terdampak. Baik dari Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan; Desa/Kecamatan Grogol, maupun Desa Jatirejo, Banyakan, terus terjun ke lapangan. Sukadi menegaskan bahwa mereka menindaklanjuti pengajuan warga. Di antaranya permintaan appraisal atau ukur ulang. Maupun permintaan untuk pelepasan lahan.

“Ini teman-teman camat dan kepala desa masih di lapangan. Dan itu memang tugas kita untuk mengingatkan warga. Jangan sampai mereka kena konsinyasi,” terang pejabat pemkab tersebut.

Baca Juga :  Tak Berizin, Ratusan Reklame Diturunkan

Dalam satu minggu ini, Sukadi menyatakan, perkembangan warga yang melepaskan lahan sangat pesat. Selain mengajukan langsung, beberapa di antara mereka meminta untuk appraisal dan pengukuran lahan ulang. Meski telah diukur, hanya ada beberapa yang berbeda dengan pengukuran awal. Itu pun tak terlalu signifikan.

Terkait kompensasi yang diberikan pada warga terdampak, Sukadi menegaskan bahwa hal itu atas usulan warga. Sebelumnya, dia telah mengingatkan warga untuk mencatat dan mengusulkan aktivitas usaha apa saja yang dilakukan di rumah mereka. Seperti ternak unggas maupun ternak ruminansia (sapi). Dari keterangan Sukadi, itu dikategorikan sebagai usaha.

Sekali lagi, dia menjelaskan, untuk hewan ternak, bagi warga yang memiliki empat sapi akan diberi kompensasi sampai Rp 50 juta. Itu bisa digunakan sebagai dana pemindahan dan pembuatan kandang.

“Karena mereka yang ternak sapi dianggap sebagai usaha,” ungkap pria yang pernah menjabat Kabag Hukum Pemkab Kediri ini.

“Saya juga menunggu terkait mereka menyampaikan usahanya. Jadi mereka sendiri yang harus laporan ke saya, terkait apa saja yang dimiliki,” pesannya.

Apalagi, waktu hanya tinggal dua hari terhitung sejak kemarin (29/1). Sukadi menegaskan, yang perlu dilaporkan itu semua yang termasuk usaha rumahan. Misalkan di dalam rumah ada mesin jahit, selepan kopi atau mereka punya alat penggilingan padi. “Itu nanti bisa dilaporkan dan akan diperhitungkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Hitung Internal, PAN Tembus 10 Ribu di Mojoroto

Sukadi menyebut, peralatan itu nanti nilainya akan berbeda-beda. Disesuaikan dengan besar kecilnya dan harga barang tersebut. Nah, jika ada warga yang meminta appraisal atau pengukuran ulang, Sukadi menyarankan, agar mereka segera melaporkannya. “Jika sekarang ada permintaan, besok langsung ditindaklanjuti,” paparnya.

Untuk diketahui, batas waktu konsinyasi lahan pembebasan bandara sudah ditetapkan pada 1 Februari. Jika dalam waktu tersebut warga terdampak belum juga melepaskan tanah mereka, maka secara otomatis akan dibawa ke pengadilan dan harganya akan ditentukan negara, yakni lebih rendah dari penawaran saat ini.

      Terkait pelepasan lahan ini, sebelumnya sudah ada warga Tanjung harus rela pindah akibat pembebasan lahan pembangunan bandara. Keinginan  tetap tinggal bertetangga memunculkan permukiman bernama Tanjung Baru. Pemukiman baru ini berada jalan penghubung antara Dusun Bedrek Selatan di Desa Grogol, Kecamatan Grogol dengan Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan. Suasana di permukiman anyar ini masih sangat asri. Terletak di tengah areal persawahan. Dekat dengan kantor baru Imigrasi Kediri yang berada di jalan utama Desa Grogol. Jika ditarik garis lurus, hanya berjarak 100 meter saja.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/