22.7 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Terdengar Gamelan dari Puthuk-Puthuk

Masyarakat setempat meyakini lokasi ini memiliki aura majis yang kuat. Sebuah kawasan yang masih menyimpan peninggalan sejarah terpendam.

 

Desa Bogem berada di Kecamatan Gurah. Yah, memang tak seperti Kecamatan Plosoklaten yang tepat berada di lereng barat Gunung Kelud. Tetapi jika ditarik garis lurus, lokasi ini tepat berada di sebelah barat gunung api teraktif di Pulau Jawa tersebut.

Bogem juga tak jauh dari Situs Panjer. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari desa yang juga memiliki peninggalan sejarah terpendam itu. Salah satu bukti adanya peradaban di sana adalah struktur bata yang kini berada di tengah areal persawahan warga. Tepat berada di lahan milik Sukar dan Sutrisno.

Struktur ini sekilas tidak terlihat, karena di atasnya terdapat sejumlah pohon besar. Termasuk tanaman budidaya. Hanya saja, dari segi karakteristiknya, lokasi yang berupa gudukan tanah. Ukurannya kurang lebih 20 x 20 meter.

Baca Juga :  Jadi Plt Ketua DPC PDIP Kediri, Kanang Masih Tutup Mulut Soal Rekom

Warga setempat meyakini bahwa lokasi itu disakralkan. Terlebih pernah ditemukan benda-benda purbakala di sana. Benda kuno itu sebagian disimpan di museum desa.

Sementara yang masih bisa dilihat di lokasi penemuan adalah bongkahan bata kuno berukuran jumbo. Bahkan di beberapa sisinya bata kuno itu masih membentuk struktur. Hanya saja sebagian besar kondisinya sudah hancur karena aktivitas budidaya pertanian.

“Di Desa bogem memiliki sejarah masa Hindu-Buddha yang cukup menarik,” ujar pemerhati sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib.

Tak hanya peninggalan sejarah yang menarik di lokasi ini. Cerita masyarakat tentang aura majis di sana juga kerap menimbulkan tanda tanya. Yang paling terkenal dari areal Puthuk-Phuthuk itu adalah cerita tentang suara gamelan di malam hari.

“Ceritanya di puthuk-outhuk ini sering terdengar gamelan dan pertunjukan wayang. Tapi itu cuma suara saja tidak ada wujudnya,” ujar Tikno, warga setempat.

Baca Juga :  Persik Kediri Ingin Liga 1 Indonesia Tetap Dilanjutkan

Cerita itu menurutnya mulai berkembang pada 1970-an, bahkan saat ini beberapa orang juga masih pernah mendengar suara serupa. “Dicari tidak ada. Padahal terdengar jelas, biasanya terdengar malam jumlat legi. Tengah malam sampai jam 3 pagi baru suaranya hilang,” ungkapnya.

Sumber suara itu, warga meyakini dari Puthuk-Puthuk yang terdapat struktur bata kuno yang saat ini masih terpendam itu. Hingga saat ini pula beberapa orang masih ada yang pergi ke lokasi itu, entah hanya sekadar berkunjung untuk belajar sejarah atau kepentingan lainnya.

Yang jelas, keberadaan struktur terpendam di areal persawahan Desa Bogem ini menjadi bukti adanya dugaan kuat peradaban di desa itu pada masa lampau. (din/ndr/bersambung)

 

- Advertisement -

Masyarakat setempat meyakini lokasi ini memiliki aura majis yang kuat. Sebuah kawasan yang masih menyimpan peninggalan sejarah terpendam.

 

Desa Bogem berada di Kecamatan Gurah. Yah, memang tak seperti Kecamatan Plosoklaten yang tepat berada di lereng barat Gunung Kelud. Tetapi jika ditarik garis lurus, lokasi ini tepat berada di sebelah barat gunung api teraktif di Pulau Jawa tersebut.

Bogem juga tak jauh dari Situs Panjer. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari desa yang juga memiliki peninggalan sejarah terpendam itu. Salah satu bukti adanya peradaban di sana adalah struktur bata yang kini berada di tengah areal persawahan warga. Tepat berada di lahan milik Sukar dan Sutrisno.

Struktur ini sekilas tidak terlihat, karena di atasnya terdapat sejumlah pohon besar. Termasuk tanaman budidaya. Hanya saja, dari segi karakteristiknya, lokasi yang berupa gudukan tanah. Ukurannya kurang lebih 20 x 20 meter.

Baca Juga :  Lebih Banyak Yang Sembuh

Warga setempat meyakini bahwa lokasi itu disakralkan. Terlebih pernah ditemukan benda-benda purbakala di sana. Benda kuno itu sebagian disimpan di museum desa.

Sementara yang masih bisa dilihat di lokasi penemuan adalah bongkahan bata kuno berukuran jumbo. Bahkan di beberapa sisinya bata kuno itu masih membentuk struktur. Hanya saja sebagian besar kondisinya sudah hancur karena aktivitas budidaya pertanian.

“Di Desa bogem memiliki sejarah masa Hindu-Buddha yang cukup menarik,” ujar pemerhati sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib.

Tak hanya peninggalan sejarah yang menarik di lokasi ini. Cerita masyarakat tentang aura majis di sana juga kerap menimbulkan tanda tanya. Yang paling terkenal dari areal Puthuk-Phuthuk itu adalah cerita tentang suara gamelan di malam hari.

“Ceritanya di puthuk-outhuk ini sering terdengar gamelan dan pertunjukan wayang. Tapi itu cuma suara saja tidak ada wujudnya,” ujar Tikno, warga setempat.

Baca Juga :  Pandemi Covid, Laju Tuberkulosis Tertahan

Cerita itu menurutnya mulai berkembang pada 1970-an, bahkan saat ini beberapa orang juga masih pernah mendengar suara serupa. “Dicari tidak ada. Padahal terdengar jelas, biasanya terdengar malam jumlat legi. Tengah malam sampai jam 3 pagi baru suaranya hilang,” ungkapnya.

Sumber suara itu, warga meyakini dari Puthuk-Puthuk yang terdapat struktur bata kuno yang saat ini masih terpendam itu. Hingga saat ini pula beberapa orang masih ada yang pergi ke lokasi itu, entah hanya sekadar berkunjung untuk belajar sejarah atau kepentingan lainnya.

Yang jelas, keberadaan struktur terpendam di areal persawahan Desa Bogem ini menjadi bukti adanya dugaan kuat peradaban di desa itu pada masa lampau. (din/ndr/bersambung)

 

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/