23.6 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Mengenal Jayastamba, Ikon Kabupaten Nganjuk (4)

Prasasti Jayastamba yang terletak di Candi Lor tidak hanya istimewa dari bentuknya saja. Tetapi juga istimewa lantaran predikat pemberian tanah perdikan tersebut.

Kebanyakan tanah perdikan yang diberikan oleh seorang raja merupakan permohonan dari warga yang mendiami suatu wilayah tertentu. Namun hal ini berbeda dengan status tanah perdikan yang diberikan oleh Mpu Sindok kepada warga di sekitar Candi Lor.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk, tanah perdikan tersebut diberikan tanpa adanya proses permohonan terlebih dahulu. Melainkan langsung dari raja kepada warga setempat.

“Ini yang menjadi istimewa untuk tanah perdikan di lokasi Jayastamba,” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi kemarin.

Baca Juga :  Targetkan Realisasi di Atas 70 Persen

Luas tanah sima atau perdikan yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak tercatat 6 lamwit atau  sekitar 82-92 hektare.

Tanah perdikan ini dulunya merupakan sebuah kakatikan yaitu tanah bekas penggembalaan kuda. Tanah perdikan ini diberikan oleh Mpu Sindok karena rakyat setempat telah banyak membantu memenangkan perang melawan musuh-musuhnya. “Tanah perdikan ini diberikan karena jasa rakyat setempat kepada Mpu Sindok,” imbuh Amin.

Saat ini, tanah perdikan itu menjadi Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Tanah itu sudah menjadi rumah warga dan jalan raya. Sebagian masih ditempati bangunan Candi Lor. Sayang, Candi Lor ini semakin rusak. Karena cengkeraman akar pohon pule berusia ratusan tahun membuat candi yang terbuat dari batu bata.

Baca Juga :  Demi Pengamanan Pilkades, Polres Kediri Gelar Pasukan

Keberadaan pohon ini diperkirakan ada sebelum tahun 1887. Itu pun terus mengalami pertumbuhan. “Pertumbuhan pesat pohon itu mulai tahun 1950, terlihat besar sebelumnya relatif stabil,” pungkas ayah tiga anak ini.

- Advertisement -

Prasasti Jayastamba yang terletak di Candi Lor tidak hanya istimewa dari bentuknya saja. Tetapi juga istimewa lantaran predikat pemberian tanah perdikan tersebut.

Kebanyakan tanah perdikan yang diberikan oleh seorang raja merupakan permohonan dari warga yang mendiami suatu wilayah tertentu. Namun hal ini berbeda dengan status tanah perdikan yang diberikan oleh Mpu Sindok kepada warga di sekitar Candi Lor.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk, tanah perdikan tersebut diberikan tanpa adanya proses permohonan terlebih dahulu. Melainkan langsung dari raja kepada warga setempat.

“Ini yang menjadi istimewa untuk tanah perdikan di lokasi Jayastamba,” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi kemarin.

Baca Juga :  Targetkan Realisasi di Atas 70 Persen

Luas tanah sima atau perdikan yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak tercatat 6 lamwit atau  sekitar 82-92 hektare.

Tanah perdikan ini dulunya merupakan sebuah kakatikan yaitu tanah bekas penggembalaan kuda. Tanah perdikan ini diberikan oleh Mpu Sindok karena rakyat setempat telah banyak membantu memenangkan perang melawan musuh-musuhnya. “Tanah perdikan ini diberikan karena jasa rakyat setempat kepada Mpu Sindok,” imbuh Amin.

Saat ini, tanah perdikan itu menjadi Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Tanah itu sudah menjadi rumah warga dan jalan raya. Sebagian masih ditempati bangunan Candi Lor. Sayang, Candi Lor ini semakin rusak. Karena cengkeraman akar pohon pule berusia ratusan tahun membuat candi yang terbuat dari batu bata.

Baca Juga :  DD Belum Kunjung Cair Hingga Akhir Maret

Keberadaan pohon ini diperkirakan ada sebelum tahun 1887. Itu pun terus mengalami pertumbuhan. “Pertumbuhan pesat pohon itu mulai tahun 1950, terlihat besar sebelumnya relatif stabil,” pungkas ayah tiga anak ini.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/