23.8 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Herihono, Mantan Pesilat Nasional asal Pace

Herihono alias Bruno merupakan mantan pesilat nasional. Namanya disegani.  Tidak hanya di Indonesia tetapi hingga kawasan Asia Tenggara. Berbagai prestasi gemilang telah diukir tetapi hidupnya sekarang mengenaskan.

ANDHIKA ATTAR. PACE, JP Radar Nganjuk.

 

“Hidup saya bagikan tebu. Habis manis sepah dibuang,” keluh Herihono, mantan pesilat nasional saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di teras rumahnya, Desa Mlandangan, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk kemarin siang.

Heri alias Bruno dikenal luas karena prestasinya di kancah olahraga silat. Namanya harum sejak masih berada di bangku SMA. Kejuaraan dunia pertama yang diikutinya berlangsung pada 2004 silam. Tak main-main, ia menjadi salah satu kontingen Indonesia pada Kejuaraan Dunia Silat yang digelar di London, Inggris kala itu.

Bruno langsung menunjukkan tajinya dalam kejuaraan tersebut. Padahal, usianya belum genap 19 tahun saat itu. Pria dengan tinggi 181 sentimeter  tersebut berhasil menggondol medali emas. Ia bertarung di kelas fighter 90 kilogram.

Berkat prestasinya tersebut, karirnya sebagai atlet terus menanjak. Mulai dari gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga SEA Games pernah ia rasakan. Tidak hanya menjadi penggembira saja. Bruno pasti pulang dengan medali terkalung di lehernya.

Total, ada enam gelaran PON yang diikutinya dengan membawa nama  kontingen Jawa Timur. Lima di antaranya ia berhasil menyabet medali emas. Sedangkan, satunya hanya mendapat perunggu. Itu pun lantaran dia mengalami cedera di tangan kanannya.

Baca Juga :  Rp 2,27 Miliar untuk Tiga Ambulans

“Jari saya mengalami dislokasi. Jadi tidak bisa maksimal saat dapat perunggu,” imbuh ayah dua anak ini.

Di SEA Games 2005 yang digelar di Filipina diakuinya menjadi momen yang paling membanggakan. Meskipun, dalam gelaran ini, dia hanya mendapatkan perak. Namun, baginya membawa nama Indonesia memberi semangat tersendiri.

Sayang seribu sayang. Semua kisah pasti akan berakhir. Bedanya, ada yang berakhir bahagia. Namun ada pula yang berakhir dengan air mata. Bruno mendapati kenyataan yang kedua. Ia terpaksa mengakhiri karir sebagai atlet pada 2016.

Saat persiapan PON 2016, Bruno tiba-tiba merasakan badannya  menggigil. Ia pun izin kepada pelatihnya untuk pulang dan berobat. Bukannya mendapatkan kesembuhan. Ia justru menerima kenyataan jika tidak bisa lagi menjadi pesilat. “Saya divonis gagal ginjal,” ungkapnya.

Hal itu pun lantas disampaikan kepada tim pelatih dan pengurus KONI Jawa Timur. Namun, kenyataan yang didapatkannya semakin membuatnya terpuruk. Ia didepak dari tim. Tak hanya itu, untuk pengobatannya ia harus mengeluarkan biaya dari uangnya pribadi.

Baca Juga :  Disnakerkop UM Cari Data TKI asal Nganjuk

Padahal, untuk sekali cuci darah saja dibutuhkan uang tak kurang dari Rp 800 ribu. Itu untuk sekali cuci darah. Padahal, dalam seminggu ia harus melakukan cuci darah sebanyaj dua kali. Sertifikat rumahnya digadaikan ke bank untuk membiayai pengobatan tersebut.

Cobaan hidupnya tidak hanya sampai di situ saja. Tahun lalu, kontraknya sebagai tenaga honorer di Pemprov Jawa Timur diputus. Praktis, tidak ada lagi pemasukan yang didapat. Kini hidupnya hanya bergantung kepada Nena Ekasari, sang istri.

Padahal, Nena sendiri hanya bekerja serabutan. Tidak ada penghasilan pasti yang didapatkannya setiap bulan. Belum lagi, keduanya masih harus merawat dan membesarkan anak-anaknya yang masih kecil. Anak pertamanya baru menginjak umur 6 tahun. Sedangkan yang kedua berumur 3 tahun.

“Harapan kami tidak muluk-muluk sekarang. Yang penting bisa menyekolahkan anak,” ujarnya.

Kekecewaannya terhadap para pengurus tidak lagi bisa terbendung. Ia bahkan sampai antipati dengan apapun yang berkaitan dengan olahraga silat. Untuk sekadar melihat penerusnya berlatih pun Bruno sudah enggan. Bahkan, ia sampai membuang seluruh medali yang pernah didapatkannya.

“Saya buang semuanya. Dedikasi yang saya berikan selama ini seakan tidak ada harganya. Untuk berobat saja saya sampai harus utang sana-sini,” pungkasnya.

- Advertisement -

Herihono alias Bruno merupakan mantan pesilat nasional. Namanya disegani.  Tidak hanya di Indonesia tetapi hingga kawasan Asia Tenggara. Berbagai prestasi gemilang telah diukir tetapi hidupnya sekarang mengenaskan.

ANDHIKA ATTAR. PACE, JP Radar Nganjuk.

 

“Hidup saya bagikan tebu. Habis manis sepah dibuang,” keluh Herihono, mantan pesilat nasional saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di teras rumahnya, Desa Mlandangan, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk kemarin siang.

Heri alias Bruno dikenal luas karena prestasinya di kancah olahraga silat. Namanya harum sejak masih berada di bangku SMA. Kejuaraan dunia pertama yang diikutinya berlangsung pada 2004 silam. Tak main-main, ia menjadi salah satu kontingen Indonesia pada Kejuaraan Dunia Silat yang digelar di London, Inggris kala itu.

Bruno langsung menunjukkan tajinya dalam kejuaraan tersebut. Padahal, usianya belum genap 19 tahun saat itu. Pria dengan tinggi 181 sentimeter  tersebut berhasil menggondol medali emas. Ia bertarung di kelas fighter 90 kilogram.

Berkat prestasinya tersebut, karirnya sebagai atlet terus menanjak. Mulai dari gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga SEA Games pernah ia rasakan. Tidak hanya menjadi penggembira saja. Bruno pasti pulang dengan medali terkalung di lehernya.

Total, ada enam gelaran PON yang diikutinya dengan membawa nama  kontingen Jawa Timur. Lima di antaranya ia berhasil menyabet medali emas. Sedangkan, satunya hanya mendapat perunggu. Itu pun lantaran dia mengalami cedera di tangan kanannya.

Baca Juga :  Usia 12 Tahun ke Bawah Tak Boleh Naik KA

“Jari saya mengalami dislokasi. Jadi tidak bisa maksimal saat dapat perunggu,” imbuh ayah dua anak ini.

Di SEA Games 2005 yang digelar di Filipina diakuinya menjadi momen yang paling membanggakan. Meskipun, dalam gelaran ini, dia hanya mendapatkan perak. Namun, baginya membawa nama Indonesia memberi semangat tersendiri.

Sayang seribu sayang. Semua kisah pasti akan berakhir. Bedanya, ada yang berakhir bahagia. Namun ada pula yang berakhir dengan air mata. Bruno mendapati kenyataan yang kedua. Ia terpaksa mengakhiri karir sebagai atlet pada 2016.

Saat persiapan PON 2016, Bruno tiba-tiba merasakan badannya  menggigil. Ia pun izin kepada pelatihnya untuk pulang dan berobat. Bukannya mendapatkan kesembuhan. Ia justru menerima kenyataan jika tidak bisa lagi menjadi pesilat. “Saya divonis gagal ginjal,” ungkapnya.

Hal itu pun lantas disampaikan kepada tim pelatih dan pengurus KONI Jawa Timur. Namun, kenyataan yang didapatkannya semakin membuatnya terpuruk. Ia didepak dari tim. Tak hanya itu, untuk pengobatannya ia harus mengeluarkan biaya dari uangnya pribadi.

Baca Juga :  Kuota NPK dan Organik Paling Sedikit

Padahal, untuk sekali cuci darah saja dibutuhkan uang tak kurang dari Rp 800 ribu. Itu untuk sekali cuci darah. Padahal, dalam seminggu ia harus melakukan cuci darah sebanyaj dua kali. Sertifikat rumahnya digadaikan ke bank untuk membiayai pengobatan tersebut.

Cobaan hidupnya tidak hanya sampai di situ saja. Tahun lalu, kontraknya sebagai tenaga honorer di Pemprov Jawa Timur diputus. Praktis, tidak ada lagi pemasukan yang didapat. Kini hidupnya hanya bergantung kepada Nena Ekasari, sang istri.

Padahal, Nena sendiri hanya bekerja serabutan. Tidak ada penghasilan pasti yang didapatkannya setiap bulan. Belum lagi, keduanya masih harus merawat dan membesarkan anak-anaknya yang masih kecil. Anak pertamanya baru menginjak umur 6 tahun. Sedangkan yang kedua berumur 3 tahun.

“Harapan kami tidak muluk-muluk sekarang. Yang penting bisa menyekolahkan anak,” ujarnya.

Kekecewaannya terhadap para pengurus tidak lagi bisa terbendung. Ia bahkan sampai antipati dengan apapun yang berkaitan dengan olahraga silat. Untuk sekadar melihat penerusnya berlatih pun Bruno sudah enggan. Bahkan, ia sampai membuang seluruh medali yang pernah didapatkannya.

“Saya buang semuanya. Dedikasi yang saya berikan selama ini seakan tidak ada harganya. Untuk berobat saja saya sampai harus utang sana-sini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/