22.7 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Tinjau Vaksinasi, Wali Kota Kediri Minta Karantina Kandang 

KOTA, JP Radar Kediri – Wali Kota Abdullah Abu Bakar berharap agar masyarakat tidak takut berlebihan menghadapi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, meskipun penularannya sangat cepat namun hanya terjadi antar-hewan ternak saja. Sementara, sampai saat ini virus penyebab penyakit itu tidak menular ke manusia.

Meskipun demikian, sang wali kota juga mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dalam mengolah daging. Terutama saat Hari Raya Idul Adha, ketika banyak daging kurban yang dibagikan.

“Jadi, nanti kurban insya Allah aman. Yang penting dimasak secara benar. Di atas suhu 70 derajat celcius selama 30 menit,” sarannya ketika melihat proses vaksinasi hewan ternak di salah satu kandang milik peternak Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto kemarin (28/6).

Terkait dengan merebaknya wabah PMK ini, Abu tegas menyebut bahwa pemkot sangat berkomitmen untuk melakukan pencegahan. Salah satunya dengan menyalurkan vaksin PMK sesegera mungkin. Hanya, karena terkait jumlah dosis yang diterima dari Pemerintah Pusat, alokasi vaksin masih terbatas.

Khusus Kota Kediri, tahap pertama ini menerima suplai sebanyak 500 dosis vaksin. Jumlah itu tak sebanding dengan populasi ternak yang ada. Yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.

Baca Juga :  Sungai Kedak Meluap, Plengsengan Ambrol 

“Di Kota Kediri ada sekitar 4 ribu sapi,” ucap wali kota yang juga biasa disapa dengan panggilan Mas Abu ini.

Selain vaksinasi, Abu juga mengimbau agar peternak melakukan upaya preventif. Yaitu agar masing-masing peternak melakukan karantina kandang. Menjaga sapinya tidak sampai tertular. Kemudian, bila menemukan ada hewan ternak yang terjangkit harus segera melakukan penanganan. Agar memperlambat laju penularan.

Sementara itu, menjelang pelaksanaan kurban, Pemkot Kediri menyiapkan surat keterangan kesehatan hewan. Surat keterangan kesehatan itu diberikan bagi hewan-hewan yang akan disembelih saat Hari Raya Kurban nanti. Sebagai bukti bahwa hewan yang akan disembelih benar-benar dalam kondisi sehat. Dengan begitu, kegiatan kurban di Kota Kediri tetap bisa berlangsung dan diharapkan peternak maupun pedagang kambing dan sapi tetap baik-baik saja.

“Yang penting, kalau ada yang sakit segera dilaporkan ke DKPP (dinas ketahanan pangan dan peternakan, Red). Lapor saja, gratis. Nanti kami bantu obati,” ujar Abu.

Baca Juga :  Basmi Ulat dengan Racun Lambung

Salah seorang peternak, Paidi, 60, mengaku tetap berusaha tenang saat wabah menyerang ternak seperti saat ini. Dia berusaha mengikuti imbauan dari pemerintah. Termasuk melakukan vaksinasi.  Vaksinasi tersebut telah mengurangi kekhawatiran yang ia rasakan.  Karena sapi yang ia pelihara dia anggap sebagai tabungan  bagi keperluan hidupnya.

“Selain menjaga kebersihan, saya juga memberikan racikan jamu tradisional. Jamu ini merupakan ajaran turun-temurun. Berupa campuran telur, madu, dan jahe untuk menambah kekuatan dan daya tahan tubuh sapi,” urainya.

Kemarin, empat ekor sapi milik Paidi mendapat vaksinasi. Terdiri dari dua indukan dan dua anakan. Sebenarnya, satu indukan dalam kondisi hamil namun dia tetap meminta untuk divaksinasi.

Menurut Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran DKPP drh Pujiono,  sapi yang sedang hamil boleh diberi vaksin. Sedangkan untuk termuda adalah minimal usia dua minggu.

“Vaksin ini juga akan diberikan tidak hanya sekali. Vaksinasi kedua akan dilakukan satu bulan setelah vaksin pertama. Sementara yang ketiga minimal enam bulan setelah vaksin sebelumnya,” terangnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Wali Kota Abdullah Abu Bakar berharap agar masyarakat tidak takut berlebihan menghadapi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, meskipun penularannya sangat cepat namun hanya terjadi antar-hewan ternak saja. Sementara, sampai saat ini virus penyebab penyakit itu tidak menular ke manusia.

Meskipun demikian, sang wali kota juga mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dalam mengolah daging. Terutama saat Hari Raya Idul Adha, ketika banyak daging kurban yang dibagikan.

“Jadi, nanti kurban insya Allah aman. Yang penting dimasak secara benar. Di atas suhu 70 derajat celcius selama 30 menit,” sarannya ketika melihat proses vaksinasi hewan ternak di salah satu kandang milik peternak Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto kemarin (28/6).

Terkait dengan merebaknya wabah PMK ini, Abu tegas menyebut bahwa pemkot sangat berkomitmen untuk melakukan pencegahan. Salah satunya dengan menyalurkan vaksin PMK sesegera mungkin. Hanya, karena terkait jumlah dosis yang diterima dari Pemerintah Pusat, alokasi vaksin masih terbatas.

Khusus Kota Kediri, tahap pertama ini menerima suplai sebanyak 500 dosis vaksin. Jumlah itu tak sebanding dengan populasi ternak yang ada. Yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.

Baca Juga :  Tuntut 13 Tahun Pembunuh Asrokah Warga Kecamatan Kepung

“Di Kota Kediri ada sekitar 4 ribu sapi,” ucap wali kota yang juga biasa disapa dengan panggilan Mas Abu ini.

Selain vaksinasi, Abu juga mengimbau agar peternak melakukan upaya preventif. Yaitu agar masing-masing peternak melakukan karantina kandang. Menjaga sapinya tidak sampai tertular. Kemudian, bila menemukan ada hewan ternak yang terjangkit harus segera melakukan penanganan. Agar memperlambat laju penularan.

Sementara itu, menjelang pelaksanaan kurban, Pemkot Kediri menyiapkan surat keterangan kesehatan hewan. Surat keterangan kesehatan itu diberikan bagi hewan-hewan yang akan disembelih saat Hari Raya Kurban nanti. Sebagai bukti bahwa hewan yang akan disembelih benar-benar dalam kondisi sehat. Dengan begitu, kegiatan kurban di Kota Kediri tetap bisa berlangsung dan diharapkan peternak maupun pedagang kambing dan sapi tetap baik-baik saja.

“Yang penting, kalau ada yang sakit segera dilaporkan ke DKPP (dinas ketahanan pangan dan peternakan, Red). Lapor saja, gratis. Nanti kami bantu obati,” ujar Abu.

Baca Juga :  Harus Bersaing dengan Stunting

Salah seorang peternak, Paidi, 60, mengaku tetap berusaha tenang saat wabah menyerang ternak seperti saat ini. Dia berusaha mengikuti imbauan dari pemerintah. Termasuk melakukan vaksinasi.  Vaksinasi tersebut telah mengurangi kekhawatiran yang ia rasakan.  Karena sapi yang ia pelihara dia anggap sebagai tabungan  bagi keperluan hidupnya.

“Selain menjaga kebersihan, saya juga memberikan racikan jamu tradisional. Jamu ini merupakan ajaran turun-temurun. Berupa campuran telur, madu, dan jahe untuk menambah kekuatan dan daya tahan tubuh sapi,” urainya.

Kemarin, empat ekor sapi milik Paidi mendapat vaksinasi. Terdiri dari dua indukan dan dua anakan. Sebenarnya, satu indukan dalam kondisi hamil namun dia tetap meminta untuk divaksinasi.

Menurut Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran DKPP drh Pujiono,  sapi yang sedang hamil boleh diberi vaksin. Sedangkan untuk termuda adalah minimal usia dua minggu.

“Vaksin ini juga akan diberikan tidak hanya sekali. Vaksinasi kedua akan dilakukan satu bulan setelah vaksin pertama. Sementara yang ketiga minimal enam bulan setelah vaksin sebelumnya,” terangnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/