29.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Targetkan Dua Ribu Orang Masuk Program Prakerja

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pendaftaran kartu prakerja yang ke sepuluh sudah ditutup kemarin (27/9). Dibuka selama empat hari sejak Kamis, program ini akan menyaring 116.216 orang. Dari jumlah tersebut Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disnakerkop UM) hanya menargetkan dua ribu warga Nganjuk.  

Sejauh ini warga Kota Angin yang masuk program kartu prakerja sudah mencapai sekitar 10 ribu orang. Karenanya, dari gelombang ke sepuluh ini, sasaran utamanya adalah warga yang tidak menerima Program  Keluarga Harapan (PKH). “Awalnya untuk mereka yang belum bekerja. Sekarang untuk membantu pekerja yang terdampak Covid-19,” ujarnya.

Program kartu prakerja, lanjut Agus, sekaligus untuk pemulihan ekonomi warga. Yakni, sebagai bantuan stimulus ekonomi. Sebab, mayoritas yang mendaftar adalah pekerja yang dirumahkan atau yang diputus hubungan kerja (PHK).

Baca Juga :  Kriminalitas Tahun 2020 Turun Seratus Kasus

Dikatakan Agus, anggaran dari pusat yang semula Rp 10 triliun naik menjadi Rp 20 triliun. Seperti sebelumnya, bantuan itu berupa uang senilai Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan. Selain itu, ada pula uang untuk pelatihan kerja senilai Rp 1 juta. Ada pun Rp 100 ribu digunakan untuk pendaftaran untuk pelatihan.

Terkait penggunaan uang Rp 1 juta untuk pelatihan kerja, pria berkacamata itu mengaku sempat mengusulkan ke Pemprov Jatim agar uang tersebut bisa diserahkan pada penerima. Alasannya, mayoritas warga yang mendaftar itu sudah punya skill. Sebab, mereka sudah pernah bekerja.

Agar banyak warga Nganjuk yang terjaring program kartu prakerja, Agus menyebut disnakerkop UM mendorong desa untuk mendaftarkan warganya. Yakni, dengan memanfaatkan tenaga IT yang ada di desa. “Dengan begitu kesempatannya diterima bisa lebih besar,” jelasnya.  

Baca Juga :  Gumpalan Awan Tinggi, Hujan Guyur Nganjuk

Diakui Agus, pendaftaran selama ini kerap memakan waktu yang lama. Hal itu disebabkan karena servernya down. Karenanya, agar peserta bisa mendaftar disarankan untuk dilakukan pada jam tertentu.

Terpisah, M. Fais, 18, asal Desa Tanjungkalag, Kecamatan Ngronggot mengaku sempat mendaftar program prakerja kemarin. Saat memasukkan data melalui online,  ia terkendala usia. “Sistemnya langsung menolak karena usia saya kurang dua bulan,” sesalnya.

Selama berselancar, pria berambut lurus ini tidak merasa terkendala internet. Hanya saja, saat nomor induk kependudukan dimasukkan, sistem langsung menolak dan tidak bisa melangkah ke proses selanjutnya. “Pasrah,” lanjutnya tersenyum kecut. 

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pendaftaran kartu prakerja yang ke sepuluh sudah ditutup kemarin (27/9). Dibuka selama empat hari sejak Kamis, program ini akan menyaring 116.216 orang. Dari jumlah tersebut Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disnakerkop UM) hanya menargetkan dua ribu warga Nganjuk.  

Sejauh ini warga Kota Angin yang masuk program kartu prakerja sudah mencapai sekitar 10 ribu orang. Karenanya, dari gelombang ke sepuluh ini, sasaran utamanya adalah warga yang tidak menerima Program  Keluarga Harapan (PKH). “Awalnya untuk mereka yang belum bekerja. Sekarang untuk membantu pekerja yang terdampak Covid-19,” ujarnya.

Program kartu prakerja, lanjut Agus, sekaligus untuk pemulihan ekonomi warga. Yakni, sebagai bantuan stimulus ekonomi. Sebab, mayoritas yang mendaftar adalah pekerja yang dirumahkan atau yang diputus hubungan kerja (PHK).

Baca Juga :  Suyanto Bersedia Terima Limbah dari Babadan

Dikatakan Agus, anggaran dari pusat yang semula Rp 10 triliun naik menjadi Rp 20 triliun. Seperti sebelumnya, bantuan itu berupa uang senilai Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan. Selain itu, ada pula uang untuk pelatihan kerja senilai Rp 1 juta. Ada pun Rp 100 ribu digunakan untuk pendaftaran untuk pelatihan.

Terkait penggunaan uang Rp 1 juta untuk pelatihan kerja, pria berkacamata itu mengaku sempat mengusulkan ke Pemprov Jatim agar uang tersebut bisa diserahkan pada penerima. Alasannya, mayoritas warga yang mendaftar itu sudah punya skill. Sebab, mereka sudah pernah bekerja.

Agar banyak warga Nganjuk yang terjaring program kartu prakerja, Agus menyebut disnakerkop UM mendorong desa untuk mendaftarkan warganya. Yakni, dengan memanfaatkan tenaga IT yang ada di desa. “Dengan begitu kesempatannya diterima bisa lebih besar,” jelasnya.  

Baca Juga :  Kriminalitas Tahun 2020 Turun Seratus Kasus

Diakui Agus, pendaftaran selama ini kerap memakan waktu yang lama. Hal itu disebabkan karena servernya down. Karenanya, agar peserta bisa mendaftar disarankan untuk dilakukan pada jam tertentu.

Terpisah, M. Fais, 18, asal Desa Tanjungkalag, Kecamatan Ngronggot mengaku sempat mendaftar program prakerja kemarin. Saat memasukkan data melalui online,  ia terkendala usia. “Sistemnya langsung menolak karena usia saya kurang dua bulan,” sesalnya.

Selama berselancar, pria berambut lurus ini tidak merasa terkendala internet. Hanya saja, saat nomor induk kependudukan dimasukkan, sistem langsung menolak dan tidak bisa melangkah ke proses selanjutnya. “Pasrah,” lanjutnya tersenyum kecut. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/