22.3 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Ribuan KPM Terancam Coret

Takut Terjerat Hukum, Pemdes-Kecamatan Enggan Menyalurkan BPNT

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) terancam tercoret dari daftar penerima bantuan pangan non-tunai (BPNT). Penyebabnya, proses penyaluran bantuan yang tahap keempat belum juga beres. Padahal, sebentar lagi sudah masuk pada pencairan bantuan tahap keenam.

Nah, terhambatnya pencairan di tahap empat tersebut akan berpengaruh pada nasib para KPM itu. Bila tidak segera dibereskan, mereka bisa tercoret dari daftar penerima bantuan.

Lalu, apa penyebab macetnya bantuan pada tahap tersebut? “Salah satunya adalah pergantian model penyaluran,” terang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Dyah Saktiana.

Penyaluran BPNT memang mengalami beberapa kali perubahan. Dulu, penyaluran melalui elektronik warung gotong royong (e-warong). Kemudian, modelnya berganti menjadi penyaluran melalui kantor pos. Nah, saat ini, pencairan dana kembali melalui model dengan melewai e-warong tersebut.

Permasalahan muncul ketika beberapa pemerintah desa (pemdes) ketakutan. Mereka khawatir bakal terjerat masalah hukum akibat penyaluran yang tak sesuai. Akhirnya, penyaluran pun terhambat karena pemdes, dan bahkan pihak kecamatan-tak mau mengambil risiko.

Baca Juga :  Awas, Cacingan Masih Mengintai di Kediri meski Sudah Bebas Sejak 2015

Hal itu dibenarkan Camat Banyakan Hari Utomo. Menurutnya, banyak pemdes di kecamatannya yang memilih menunda pencairan. Alasannya karena menunggu kepastian aturan. Saat pencairan tahap empat berlangsung April lalu, pengelola e-warong kebingungan. Apakah mencairkan dalam bentuk barang atau dalam bentuk uang?

“Daripada bermasalah dengan hukum, e-warong di tiap desa memilih untuk menundanya,” kilah Hari ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Padahal, penyaluran diberi batas hanya tiga bulan saja. Karena itu, penyaluran tahap keempat harus dilakukan smapai akhir bulan ini. Bila tidak, ribuan KPM tersebut bisa tercoret dari daftar penerima bantuan.

Berapa total KPM yang terancam tercoret itu? Menurut Nana-panggilan Dyah Saktiana-angkanya hampir mencapai lima ribuan. Terbanyak di wilayah Kecamatan Banyakan.

Baca Juga :  Rawan Kemacetan, Akan Uji Coba Parkir Pararel di Jalan Brawijaya

“(Di Kecamatan Banyakan) angkanya mencapai 4,200-1n KPM. Lalu di Kecamatan Puncu ada sekitar 700 KPM,” terangnya. Di kecamatan lain, untungnya, sudah banyak yang terealisasi.

Sementara itu, di Kecamatan Banykan, penyaluran sudah mulai dilaksanakan lagi di desa-desa yang ada. Prosesnya mulai Sabtu (25/6) lalu. Setidaknya, pencairan BPNT tahap empat ini sudah berlangsung di Desa Sendang dan Desa Ngeblak.

“Memang sempat tertunda karena belum ada kejelasan aturan,” aku Kades Sendang Ahmad Suhadi.

Kepala Kantor Pos Indonesia Cabang Kediri Kusnadi mengatakan, mereka hanya menyalurkan pencairan bantuan pada Januari-Maret, serta di tahap lima Mei lalu. Untuk tahap enam nanti, Kusnadi mengaku penyaluran BPNT sudah tidak lagi lewat Pos Indonesia. “Untuk penyaluran dari Pos Indonesia sudah selesai semua,” aku pria berkacamata itu.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) terancam tercoret dari daftar penerima bantuan pangan non-tunai (BPNT). Penyebabnya, proses penyaluran bantuan yang tahap keempat belum juga beres. Padahal, sebentar lagi sudah masuk pada pencairan bantuan tahap keenam.

Nah, terhambatnya pencairan di tahap empat tersebut akan berpengaruh pada nasib para KPM itu. Bila tidak segera dibereskan, mereka bisa tercoret dari daftar penerima bantuan.

Lalu, apa penyebab macetnya bantuan pada tahap tersebut? “Salah satunya adalah pergantian model penyaluran,” terang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Dyah Saktiana.

Penyaluran BPNT memang mengalami beberapa kali perubahan. Dulu, penyaluran melalui elektronik warung gotong royong (e-warong). Kemudian, modelnya berganti menjadi penyaluran melalui kantor pos. Nah, saat ini, pencairan dana kembali melalui model dengan melewai e-warong tersebut.

Permasalahan muncul ketika beberapa pemerintah desa (pemdes) ketakutan. Mereka khawatir bakal terjerat masalah hukum akibat penyaluran yang tak sesuai. Akhirnya, penyaluran pun terhambat karena pemdes, dan bahkan pihak kecamatan-tak mau mengambil risiko.

Baca Juga :  Pandemi, Kader KB Bisa Bagikan Alat Kontrasepsi

Hal itu dibenarkan Camat Banyakan Hari Utomo. Menurutnya, banyak pemdes di kecamatannya yang memilih menunda pencairan. Alasannya karena menunggu kepastian aturan. Saat pencairan tahap empat berlangsung April lalu, pengelola e-warong kebingungan. Apakah mencairkan dalam bentuk barang atau dalam bentuk uang?

“Daripada bermasalah dengan hukum, e-warong di tiap desa memilih untuk menundanya,” kilah Hari ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Padahal, penyaluran diberi batas hanya tiga bulan saja. Karena itu, penyaluran tahap keempat harus dilakukan smapai akhir bulan ini. Bila tidak, ribuan KPM tersebut bisa tercoret dari daftar penerima bantuan.

Berapa total KPM yang terancam tercoret itu? Menurut Nana-panggilan Dyah Saktiana-angkanya hampir mencapai lima ribuan. Terbanyak di wilayah Kecamatan Banyakan.

Baca Juga :  Tol Kediri-Kertosono di Atas Rel KA Kedungsuko, Sukomoro

“(Di Kecamatan Banyakan) angkanya mencapai 4,200-1n KPM. Lalu di Kecamatan Puncu ada sekitar 700 KPM,” terangnya. Di kecamatan lain, untungnya, sudah banyak yang terealisasi.

Sementara itu, di Kecamatan Banykan, penyaluran sudah mulai dilaksanakan lagi di desa-desa yang ada. Prosesnya mulai Sabtu (25/6) lalu. Setidaknya, pencairan BPNT tahap empat ini sudah berlangsung di Desa Sendang dan Desa Ngeblak.

“Memang sempat tertunda karena belum ada kejelasan aturan,” aku Kades Sendang Ahmad Suhadi.

Kepala Kantor Pos Indonesia Cabang Kediri Kusnadi mengatakan, mereka hanya menyalurkan pencairan bantuan pada Januari-Maret, serta di tahap lima Mei lalu. Untuk tahap enam nanti, Kusnadi mengaku penyaluran BPNT sudah tidak lagi lewat Pos Indonesia. “Untuk penyaluran dari Pos Indonesia sudah selesai semua,” aku pria berkacamata itu.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/