26.2 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Selama Tiga Bulan, Terjadi 10 Kali Bencana Longsor di Kabupaten Kediri

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan memprediksi hujan deras akan mengguyur wilayah Kediri Raya hingga awal April. Merespons hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri mewaspadai lereng Wilis yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Apalagi, selama tiga bulan terakhir ada 10 bencana longsor yang mayoritas terjadi di sana.

          Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, longsor terjadi di Desa Blimbing, Mojo; Desa Kalipang, Grogol; serta Desa Kedak dan Desa Kanyoran, Semen. Selanjutnya, longsor juga terjadi di Desa Batuaji, Ringinrejo; Desa Mlancu, Kandangan; Desa Tambakrejolor, Gurah.

          Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kediri Randy Agatha mengungkapkan, dari 10 kejadian longsor selama tiga bulan terakhir, peristiwa longsor di Desa Blimbing, Mojo; dan Desa Kalipang, Grogol yang materialnya menimpa badan jalan. “Untuk longsor di Desa Kanyoran, Semen, lokasinya di hutan,” kata Randy memastikan tidak ada kerugian materiil dan korban jiwa.

Baca Juga :  Belasan Ribu Pekerja Tidak Lagi Terima Bantuan

          Adapun longsor di Desa Mlancu, Kandangan; serta di Desa Tambakrejolor, Gurah, material longsor hanya mengenai bahu jalan. Ada pula tembok penahan tanah (TPT) yang runtuh dan tidak menimbulkan korban jiwa.

          Yang terbaru, longsor terjadi di Desa Jugo, Mojo, pada Sabtu (26/3) lalu. Material tebing di desa setempat ambrol mengenai sebagian badan jalan. Meski demikian, aktivitas lalu lintas di sana tetap lancar karena material tidak menutup jalan. “Hari ini (kemarin, Red) ada warung ambruk di kompleks wisata Besuki, tapi itu tidak terkait dengan bencana longsor,” terang Randy yang kemarin sudah meninjau lokasi.

          Menyusul peringatan cuaca ekstrem selama beberapa hari ke depan, Randy menjelaskan, BPBD mewaspadai sejumlah daerah rawan longsor di Kediri. Selain Kecamatan Semen, Mojo, Tarokan, Grogol, dan Banyakan yang ada di lereng Wilis, pihaknya juga mewaspadai Desa Medowo, Kandangan. Relawan tangguh bencana di beberapa daerah tersebut diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.   

Baca Juga :  Tawon Endas Menyerang, Jaket Caping Disiapkan

          Selain ancaman tanah longsor, bencana banjir juga rawan terjadi dalam kondisi sekarang. “Bencana tidak bisa ditangani oleh BPBD sendiri, masyarakat juga harus aktif,” pintanya.

          Sementara itu, peristiwa ambruknya warung milik Senen, 70, warga Desa Jugo, Mojo di kompleks wisata Besuki dibenarkan oleh pemerintah desa (pemdes) setempat. Kaur Pembangunan Desa Jugo Sunawan menyebut, warung milik lansia itu ambruk karena bangunannya sudah lapuk dan tiang penyangganya tidak kuat. “(Warungnya, Red) ambruk tadi pagi (kemarin pagi, Red),” jelas Sunawan.

          Akibat kejadian tersebut, Senen dan dua pengunjung yang sedang berada di sana mengalami luka-luka. Mereka adalah Fredi Hermanto, 22, asal Bojonegoro, dan Anti Wahyu Lestari, 15, asal Desa Sidomulyo, Semen. Tiga orang tersebut langsung meninggalkan lokasi setelah mendapatkan pengobatan.

          Terkait penyebab ambruknya warung, menurut Sunawan bukan karena longsor. “Bangunannya memang lapuk dan diguyur hujan,” tegas Sunawan. (syi/ut)

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan memprediksi hujan deras akan mengguyur wilayah Kediri Raya hingga awal April. Merespons hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri mewaspadai lereng Wilis yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Apalagi, selama tiga bulan terakhir ada 10 bencana longsor yang mayoritas terjadi di sana.

          Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, longsor terjadi di Desa Blimbing, Mojo; Desa Kalipang, Grogol; serta Desa Kedak dan Desa Kanyoran, Semen. Selanjutnya, longsor juga terjadi di Desa Batuaji, Ringinrejo; Desa Mlancu, Kandangan; Desa Tambakrejolor, Gurah.

          Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kediri Randy Agatha mengungkapkan, dari 10 kejadian longsor selama tiga bulan terakhir, peristiwa longsor di Desa Blimbing, Mojo; dan Desa Kalipang, Grogol yang materialnya menimpa badan jalan. “Untuk longsor di Desa Kanyoran, Semen, lokasinya di hutan,” kata Randy memastikan tidak ada kerugian materiil dan korban jiwa.

Baca Juga :  Masih Banyak Fasilitas Publik yang Tidak Ramah bagi Kaum Difabel

          Adapun longsor di Desa Mlancu, Kandangan; serta di Desa Tambakrejolor, Gurah, material longsor hanya mengenai bahu jalan. Ada pula tembok penahan tanah (TPT) yang runtuh dan tidak menimbulkan korban jiwa.

          Yang terbaru, longsor terjadi di Desa Jugo, Mojo, pada Sabtu (26/3) lalu. Material tebing di desa setempat ambrol mengenai sebagian badan jalan. Meski demikian, aktivitas lalu lintas di sana tetap lancar karena material tidak menutup jalan. “Hari ini (kemarin, Red) ada warung ambruk di kompleks wisata Besuki, tapi itu tidak terkait dengan bencana longsor,” terang Randy yang kemarin sudah meninjau lokasi.

          Menyusul peringatan cuaca ekstrem selama beberapa hari ke depan, Randy menjelaskan, BPBD mewaspadai sejumlah daerah rawan longsor di Kediri. Selain Kecamatan Semen, Mojo, Tarokan, Grogol, dan Banyakan yang ada di lereng Wilis, pihaknya juga mewaspadai Desa Medowo, Kandangan. Relawan tangguh bencana di beberapa daerah tersebut diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.   

Baca Juga :  Razia Tempat Karaoke, Satpol PP Kabupaten Kediri Sita Miras

          Selain ancaman tanah longsor, bencana banjir juga rawan terjadi dalam kondisi sekarang. “Bencana tidak bisa ditangani oleh BPBD sendiri, masyarakat juga harus aktif,” pintanya.

          Sementara itu, peristiwa ambruknya warung milik Senen, 70, warga Desa Jugo, Mojo di kompleks wisata Besuki dibenarkan oleh pemerintah desa (pemdes) setempat. Kaur Pembangunan Desa Jugo Sunawan menyebut, warung milik lansia itu ambruk karena bangunannya sudah lapuk dan tiang penyangganya tidak kuat. “(Warungnya, Red) ambruk tadi pagi (kemarin pagi, Red),” jelas Sunawan.

          Akibat kejadian tersebut, Senen dan dua pengunjung yang sedang berada di sana mengalami luka-luka. Mereka adalah Fredi Hermanto, 22, asal Bojonegoro, dan Anti Wahyu Lestari, 15, asal Desa Sidomulyo, Semen. Tiga orang tersebut langsung meninggalkan lokasi setelah mendapatkan pengobatan.

          Terkait penyebab ambruknya warung, menurut Sunawan bukan karena longsor. “Bangunannya memang lapuk dan diguyur hujan,” tegas Sunawan. (syi/ut)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/