29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Stok APD Mulai Menipis

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sekitar sebulan melayani kasus korona, stok alat pelindung diri (APD) di RSUD Nganjuk mulai menipis. Untuk menyiasati barang yang langka di pasaran itu, petugas kesehatan melakukan beberapa cara. Di antaranya, melapisi masker N95 agar bisa digunakan lagi.

Penanggung Jawab Pengendalian dan Pengawasan Covid-19 RSUD Nganjuk dr Tien Farida Yani mengatakan, ada beberapa stok APD yang mulai menipis. Di antaranya, sepatu boots, gown alias baju sekali pakai, dan masker N95. “Kalau lainnya masih ada,” ujar perempuan yang juga wakil direktur pelayanan RSUD Nganjuk itu.

Menyiasati kekurangan APD, lanjut Tien, petugas medis ada yang berinovasi membuat sendiri. Terutama untuk penutup wajah. “Gotong royong bikin sendiri. Ada teman di OK yang bisa,” lanjutnya.

Bagaimana dengan kekurangan APD lainnya? Tien menyebut, manajemen lebih selektif dalam penggunaan APD. Terutama untuk masker N95 yang langka di pasaran. Masker itu hanya digunakan oleh petugas kesehatan yang melakukan tindakan.

Baca Juga :  Bantu Jual Motor dan Mobil, Uang Warga Nganjuk Diembat

Itu pun, mereka harus menyiasati dengan melapisi masker di bagian dalam dan bagian luar. Yaitu, dengan memakai dua lapis masker bedah. “Masker N95 ada di tengah. Dua masker bedah yang berhubungan dengan luar dibuang. Masker N95 bisa dipakai lagi,” terangnya sembari menyebut manajemen sudah menghubungi pemasok dan stok dinyatakan kosong.

Kesulitan APD tidak hanya dialami oleh RSUD Nganjuk. Sejumlah rumah sakit rujukan korona di beberapa daerah lainnya juga mengalami hal yang sama. Beruntung, menurut Tien ada beberapa kolega dokter dan pihak luar yang mau menyumbang. “Ini banyak yang kontak mau menyumbang. Alhamdulillah,” tuturnya.

Ditanya tentang rencana pengadaan, Tien menjelaskan, dalam rapat anggaran bersama tim Pemkab Nganjuk, RSUD Nganjuk mendapat dana sekitar Rp 500 juta untuk penanganan bencana korona. Selain untuk pengadaan APD, dana tersebut akan digunakan untuk membeli laringoskop video. “Alat ini penting untuk intubasi kalau ada pasien yang kondisinya berat. Untuk melonggarkan saluran pernapasan,” tegasnya.

Baca Juga :  Bencana Longsor Mojo: Akses Terputus, Puluhan KK Jalan Kaki

Untuk diketahui, meski belum ada kasus positif di Kabupaten Nganjuk, jumlah kasus virus korona terus berkembang. Terkait antisipasi jika terjadi kasus korona, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Nganjuk Syaifulloh berujar pemkab sudah menyiapkan kelengkapannya.

Ditanya terkait stok rapid test kit dari pusat, Syaifulloh menyebut, hingga kemarin (25/3)  Dinkes Nganjuk masih belum mendapat pasokan dari pusat. Berdasar keterangan yang diterimanya, pemerintah pusat mendahulukan daerah di luar Jawa.         

Berapa kebutuhan rapid test kit di Nganjuk? Syaifulloh berujar, pemerintah pusat sudah punya data perkiraan risiko di masing-masing daerah. “Bukan daerah yang menentukan,” tandasnya.

Sementara itu, seperti halnya RSUD Nganjuk yang mendapat anggaran penanganan bencana korona, Dinkes Nganjuk juga mengalokasikan Rp 6,2 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk penanganan Covid-19. Terkait peruntukannya, selain APD mayoritas digunakan untuk pembelian disinfektan. “Kebutuhan untuk disinfektan sangat banyak,” jelasnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sekitar sebulan melayani kasus korona, stok alat pelindung diri (APD) di RSUD Nganjuk mulai menipis. Untuk menyiasati barang yang langka di pasaran itu, petugas kesehatan melakukan beberapa cara. Di antaranya, melapisi masker N95 agar bisa digunakan lagi.

Penanggung Jawab Pengendalian dan Pengawasan Covid-19 RSUD Nganjuk dr Tien Farida Yani mengatakan, ada beberapa stok APD yang mulai menipis. Di antaranya, sepatu boots, gown alias baju sekali pakai, dan masker N95. “Kalau lainnya masih ada,” ujar perempuan yang juga wakil direktur pelayanan RSUD Nganjuk itu.

Menyiasati kekurangan APD, lanjut Tien, petugas medis ada yang berinovasi membuat sendiri. Terutama untuk penutup wajah. “Gotong royong bikin sendiri. Ada teman di OK yang bisa,” lanjutnya.

Bagaimana dengan kekurangan APD lainnya? Tien menyebut, manajemen lebih selektif dalam penggunaan APD. Terutama untuk masker N95 yang langka di pasaran. Masker itu hanya digunakan oleh petugas kesehatan yang melakukan tindakan.

Baca Juga :  Gugus Tugas Dibubarkan, Perbup Terancam Tak Berlaku

Itu pun, mereka harus menyiasati dengan melapisi masker di bagian dalam dan bagian luar. Yaitu, dengan memakai dua lapis masker bedah. “Masker N95 ada di tengah. Dua masker bedah yang berhubungan dengan luar dibuang. Masker N95 bisa dipakai lagi,” terangnya sembari menyebut manajemen sudah menghubungi pemasok dan stok dinyatakan kosong.

Kesulitan APD tidak hanya dialami oleh RSUD Nganjuk. Sejumlah rumah sakit rujukan korona di beberapa daerah lainnya juga mengalami hal yang sama. Beruntung, menurut Tien ada beberapa kolega dokter dan pihak luar yang mau menyumbang. “Ini banyak yang kontak mau menyumbang. Alhamdulillah,” tuturnya.

Ditanya tentang rencana pengadaan, Tien menjelaskan, dalam rapat anggaran bersama tim Pemkab Nganjuk, RSUD Nganjuk mendapat dana sekitar Rp 500 juta untuk penanganan bencana korona. Selain untuk pengadaan APD, dana tersebut akan digunakan untuk membeli laringoskop video. “Alat ini penting untuk intubasi kalau ada pasien yang kondisinya berat. Untuk melonggarkan saluran pernapasan,” tegasnya.

Baca Juga :  Bersihkan Coretan di Tempat Cuci Tangan

Untuk diketahui, meski belum ada kasus positif di Kabupaten Nganjuk, jumlah kasus virus korona terus berkembang. Terkait antisipasi jika terjadi kasus korona, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Nganjuk Syaifulloh berujar pemkab sudah menyiapkan kelengkapannya.

Ditanya terkait stok rapid test kit dari pusat, Syaifulloh menyebut, hingga kemarin (25/3)  Dinkes Nganjuk masih belum mendapat pasokan dari pusat. Berdasar keterangan yang diterimanya, pemerintah pusat mendahulukan daerah di luar Jawa.         

Berapa kebutuhan rapid test kit di Nganjuk? Syaifulloh berujar, pemerintah pusat sudah punya data perkiraan risiko di masing-masing daerah. “Bukan daerah yang menentukan,” tandasnya.

Sementara itu, seperti halnya RSUD Nganjuk yang mendapat anggaran penanganan bencana korona, Dinkes Nganjuk juga mengalokasikan Rp 6,2 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk penanganan Covid-19. Terkait peruntukannya, selain APD mayoritas digunakan untuk pembelian disinfektan. “Kebutuhan untuk disinfektan sangat banyak,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/