24 C
Kediri
Friday, August 19, 2022

Kabupaten Nganjuk Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Penanganan bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Nganjuk bisa dilakukan dengan cepat. Hal tersebut menyusul turunnya surat keputusan (SK) dari Bupati Novi Rahman Hidhayat terkait status siaga darurat kekeringan dan karhutla. 

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono mengungkapkan, dengan turunnya SK tersebut, pihaknya bsa segera melakukan asesmen terhadap daerah yang berpotensi mengalami bencana kekeringan dan karhutla. Demikian juga menyiapkan perlengkapan dan logistik selama masa darurat. 

Soeko menuturkan, masa darurat dimulai Juli hingga November nanti. Untuk desa-desa yang masih belum tersedia tandon kelak akan disiapkan oleh BPBD. Soeko menyebut, beberapa desa yang masuk pemantauan BPBD tersebar di beberapa kecamatan.

Baca Juga :  Puluhan Pelanggaran sebelum Coblosan

Mulai Ngepung, Kecamatan Lengkong. Kemudian, Desa Gampeng, Desa Tempuran, dan Desa Lengkonglor, di Kecamatan Ngluyu. Ada pula Desa Pule, Kecamatan Jatikalen; Desa Genjeng, Kecamatan Loceret; dan Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Ngetos. 

Untuk antisipasi, tim BPBD akan lakukan pemantaun dan cek ke lokasi. “Beberapa desa sudah ada pengeboran bantuan pamsimas dari Provinsi,” lanjut Soeko.  

- Advertisement -

Apakah sudah ada desa yang mengajukan bantuan air bersih? Ditanya demikian, Soeko menyebut Desa Genjeng, Kecamatan Loceret sudah mengajukan bantuan air bersih. Tim BPBD menurutnya juga sudah turun melakukan asesmen. Ternyata, ketersediaan air di sana dinilai masih cukup. 

Kondisi berbeda terjadi pada Desa Ngepung, Lengkong yang biasanya mengajukan bantuan air bersih paling awal.“Alhamdulillah masih aman,” aku Dwiyana Bekti, kepala Desa Ngepung, Lengkong. Menurutnya, stok air di desanya masih tercukupi sehingga belum berkirim surat ke BPBD untuk bantuan air bersih. 

Baca Juga :  Kunjungan ke Saudi Dihentikan, Biro Umrah Terpaksa Jadwal Ulang

Sementara itu, selain kekeringan yang mengakibatkan kekurangan air bersih, BPBD juga memberi atensi ancaman kebakaran hutan. Hampir semua hutan di Nganjuk menurutnya punya potensi kebakaran. 

Data di BPBD, sejak bulan Juli lalu sampai sekarang wilayah hutan yang terbakar ada di delapan kecamatan. Yakni, Gondang, Jatikalen, Rejoso, Berbek, Ngluyu, Bagor, Wilangan dan Loceret. 

Sejauh ini, kebakaran hutan yang belum terpantau ada di hutan Kecamatan Ngetos dan Sawahan. “Selama masa darurat nanti akan ditambah pos pantau untuk wilayah yang rawan terbakar tersebut,” ucap Soeko. 

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Penanganan bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Nganjuk bisa dilakukan dengan cepat. Hal tersebut menyusul turunnya surat keputusan (SK) dari Bupati Novi Rahman Hidhayat terkait status siaga darurat kekeringan dan karhutla. 

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono mengungkapkan, dengan turunnya SK tersebut, pihaknya bsa segera melakukan asesmen terhadap daerah yang berpotensi mengalami bencana kekeringan dan karhutla. Demikian juga menyiapkan perlengkapan dan logistik selama masa darurat. 

Soeko menuturkan, masa darurat dimulai Juli hingga November nanti. Untuk desa-desa yang masih belum tersedia tandon kelak akan disiapkan oleh BPBD. Soeko menyebut, beberapa desa yang masuk pemantauan BPBD tersebar di beberapa kecamatan.

Baca Juga :  Kurang Lima Hari, Proyek Paving di Lengkong Belum Selesai

Mulai Ngepung, Kecamatan Lengkong. Kemudian, Desa Gampeng, Desa Tempuran, dan Desa Lengkonglor, di Kecamatan Ngluyu. Ada pula Desa Pule, Kecamatan Jatikalen; Desa Genjeng, Kecamatan Loceret; dan Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Ngetos. 

Untuk antisipasi, tim BPBD akan lakukan pemantaun dan cek ke lokasi. “Beberapa desa sudah ada pengeboran bantuan pamsimas dari Provinsi,” lanjut Soeko.  

Apakah sudah ada desa yang mengajukan bantuan air bersih? Ditanya demikian, Soeko menyebut Desa Genjeng, Kecamatan Loceret sudah mengajukan bantuan air bersih. Tim BPBD menurutnya juga sudah turun melakukan asesmen. Ternyata, ketersediaan air di sana dinilai masih cukup. 

Kondisi berbeda terjadi pada Desa Ngepung, Lengkong yang biasanya mengajukan bantuan air bersih paling awal.“Alhamdulillah masih aman,” aku Dwiyana Bekti, kepala Desa Ngepung, Lengkong. Menurutnya, stok air di desanya masih tercukupi sehingga belum berkirim surat ke BPBD untuk bantuan air bersih. 

Baca Juga :  Waspada Covid-19: Semprot Disinfektan dan Bubarkan Resepsi Pernikahan

Sementara itu, selain kekeringan yang mengakibatkan kekurangan air bersih, BPBD juga memberi atensi ancaman kebakaran hutan. Hampir semua hutan di Nganjuk menurutnya punya potensi kebakaran. 

Data di BPBD, sejak bulan Juli lalu sampai sekarang wilayah hutan yang terbakar ada di delapan kecamatan. Yakni, Gondang, Jatikalen, Rejoso, Berbek, Ngluyu, Bagor, Wilangan dan Loceret. 

Sejauh ini, kebakaran hutan yang belum terpantau ada di hutan Kecamatan Ngetos dan Sawahan. “Selama masa darurat nanti akan ditambah pos pantau untuk wilayah yang rawan terbakar tersebut,” ucap Soeko. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/