26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Kemarau Basah, Petani Nganjuk Menjadi Resah

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani di Kabupaten Nganjuk resah. Penyebabnya, saat ini musim kemarau mundur. Hujan masih sering terjadi di Nganjuk. Padahal, seharusnya saat ini sudah masuk musim kemarau. “Bingung mau tanam apa kalau musimnya tidak jelas seperti sekarang,” keluh Suwito, 45, salah satu petani asal Kecamatan Nganjuk.

Jika salah menanam, Suwito mengatakan, bisa mengalami kerugian yang besar. Karena saat musim kemarau, seharusnya petani menanam jagung. Namun, jika hujan turun setiap hari, tanaman jagung bisa mati. “Mau nanam padi takut hujannya tidak turun,” keluhnya. 

Sementara itu, Sumber Harto, Koordinator Kelompok Teknisi (Kapoksi) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk mengatakan, hujan yang turun di musim kemarau ini karena adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MGO) yang muncul sejak dua minggu lalu. MGO adalah fenomena atmosfer yang mengindikasikan pergerakan uap udara berskala besar. Nantinya, pergerakan uap itulah yang menyebabkan terjadinya awan hujan.

Baca Juga :  Tingkatkan Kinerja, Anggota DPRD Nganjuk Ikut Bimtek

Menurut pria asal Kelurahan Warujayeng itu, ada 3 faktor sebagai pembentuk hujan. Ketiga faktor tersebut adalah lokal, regional, dan global. Dalam kasus kali ini, penyebab hujan diakibatkan oleh penyebab global.

Harto mengatakan,  fenomena tersebut termasuk hal yang lumrah terjadi. Lebih lanjut, Harto menceritakan kondisi panas beberapa minggu lalu yang menyebabkan kondisi permukaan Samudera Hindia menjadi lebih hangat.

Dalam kondisi hangat tersebut, penguapan mulai terjadi. Uap yang nantinya menjadi awan hujan itu akhirnya terombang-ambing di atmosfer bumi. “Karena terbawa angin, akhirnya uap tersebut sampai di wilayah Jawa dan Sumatera,” ucapnya.

Lebih lanjut, Harto menceritakan fenomena seperti ini tidak akan bertahan hingga lama. Hal tersebut merujuk dari volume hujan yang masih dinilai normal. “Sekarang ini adalah kemarau basah,” tandasnya.

Baca Juga :  KSPPS TAM Syariah Bagikan Ribuan Paket Sembako

Lalu sampai kapan fenomena tersebut terjadi? Harto memprediksi, hingga bulan depan hujan masih terjadi. Namun, tidak akan terjadi sesering beberapa hari terakhir. Pasalnya, saat ini sebenarnya sudah memasuki bulan kemarau. “Juli akan jarang turun hujan,” ujarnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Petani di Kabupaten Nganjuk resah. Penyebabnya, saat ini musim kemarau mundur. Hujan masih sering terjadi di Nganjuk. Padahal, seharusnya saat ini sudah masuk musim kemarau. “Bingung mau tanam apa kalau musimnya tidak jelas seperti sekarang,” keluh Suwito, 45, salah satu petani asal Kecamatan Nganjuk.

Jika salah menanam, Suwito mengatakan, bisa mengalami kerugian yang besar. Karena saat musim kemarau, seharusnya petani menanam jagung. Namun, jika hujan turun setiap hari, tanaman jagung bisa mati. “Mau nanam padi takut hujannya tidak turun,” keluhnya. 

Sementara itu, Sumber Harto, Koordinator Kelompok Teknisi (Kapoksi) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk mengatakan, hujan yang turun di musim kemarau ini karena adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MGO) yang muncul sejak dua minggu lalu. MGO adalah fenomena atmosfer yang mengindikasikan pergerakan uap udara berskala besar. Nantinya, pergerakan uap itulah yang menyebabkan terjadinya awan hujan.

Baca Juga :  Fajar Akhirnya Meninggal Dunia

Menurut pria asal Kelurahan Warujayeng itu, ada 3 faktor sebagai pembentuk hujan. Ketiga faktor tersebut adalah lokal, regional, dan global. Dalam kasus kali ini, penyebab hujan diakibatkan oleh penyebab global.

Harto mengatakan,  fenomena tersebut termasuk hal yang lumrah terjadi. Lebih lanjut, Harto menceritakan kondisi panas beberapa minggu lalu yang menyebabkan kondisi permukaan Samudera Hindia menjadi lebih hangat.

Dalam kondisi hangat tersebut, penguapan mulai terjadi. Uap yang nantinya menjadi awan hujan itu akhirnya terombang-ambing di atmosfer bumi. “Karena terbawa angin, akhirnya uap tersebut sampai di wilayah Jawa dan Sumatera,” ucapnya.

Lebih lanjut, Harto menceritakan fenomena seperti ini tidak akan bertahan hingga lama. Hal tersebut merujuk dari volume hujan yang masih dinilai normal. “Sekarang ini adalah kemarau basah,” tandasnya.

Baca Juga :  Dinas PUPR Kabupaten Kediri Baru Bisa Memasang Bronjong Akhir Tahun

Lalu sampai kapan fenomena tersebut terjadi? Harto memprediksi, hingga bulan depan hujan masih terjadi. Namun, tidak akan terjadi sesering beberapa hari terakhir. Pasalnya, saat ini sebenarnya sudah memasuki bulan kemarau. “Juli akan jarang turun hujan,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/