24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Terapkan Kebiasaan untuk AKB

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kasus korona masih terjadi di Kabupaten Kediri. Meski sudah banyak pasien dinyatakan sembuh, pemkab tetap mengupayakan tindakan preventif. Itu agar kasus penularan kian teratasi.

Tindakan tersebut tentu saja tak lepas dari upaya sosialisasi pada masyarakat. Termasuk ketegasan imbauan hingga tingkat bawah. Jubir GTPP Covid-19 Kabupaten Kediri dr Ahmad Chotib menegaskan, mulai saat ini kebiasaan hidup disiplin pada kesehatan harus diterapkan.

Utamanya penggunaan masker. Ini sangatlah penting untuk menjaga agar tetap aman dari virus. Hal tersebut harus dibiasakan. Istilahnya membiasakan adaptasi kehidupan baru (AKB). Termasuk jaga jarak aman dan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

“Dengan beradaptasi kebiasaan baru ini, kita bisa beraktivitas tanpa khawatir tertular virus sekaligus membantu meringankan beban tenaga kesehatan menangani Covid-19,” jelasnya.

Menurut Chotib, disiplin menjalankan protokol kesehatan harus dilakukan bersama-sama dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. “Kebiasaan ini pula yang bisa dibangun dan dimulai di lingkup terkecil, yaitu keluarga,” pesannya.

Apalagi setiap hari pula terdapat pasien terkonfirmasi korona. Tadi malam saja, ada tambahan tiga kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka dari tiga klaster. Satu pasien klaster Sidoarjo merupakan warga Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. “Yang bersangkutan dirawat di RS HVA Toeloengredjo Pare,” ungkapnya.

Sementara dua lainya dari klaster baru. Yakni warga Desa Wanengpaten, Kecamatan Gampengrejo. Saat ini isolasi mandiri. Kemudian ada satu lagi warga terkonfirmasi asal Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan. Yang bersangkutan, kata Chotib, meninggal dunia di RS HVA Toeloengredjo Pare pada 19 Juli 2020. “Yang bersangkutan meninggal sebelum hasil swab-nya keluar,” jelasnya.

Baca Juga :  Danbrigif 16 Wira Yudha: Endra Saputra Gantikan Slamet Riad

Kabar baiknya, tadi malam ada lima pasien telah dinyatakan sembuh. Mereka dari klaster berbeda. Yakni dari klaster Desa Gampeng merupakan warga Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo. Kemudian klaster Desa Woromarto, yakni warga Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri. Dan satu klaster Desa Mlati, yang merupakan warga Desa Mlati, Kecamatan Mojo.

Selanjutnya, yang sembuh lagi adalah dua orang dari Kecamatan Ngasem. Yakni klaster Desa Kambingan, yang merupakan warga Desa Paron, dan klaster baru dari warga Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem.

Dengan demikian, saat ini terdapat 338 kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kediri, dengan rincian 144 orang dirawat, 176 orang sembuh dan 18 orang meninggal dunia.

Sementara di Kota Kediri, pemkot menganjurkan salat Idul Adha di rumah. Ini demi menghindari persebaran klaster baru. Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengatakan, sudah rapat koordinasi bersama Forkompimda terkait pelaksanaan Hari Raya Kurban. “Salat boleh dilakukan dengan protokol kesehatan, namun dianjurkan salat di rumah saja,” ujarnya.

Yang menjalankan salat Id berjamaah harus tetap melakukan protokol kesehatan. Mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. “Kalau bisa tempat mengadakan salat dengan sirkulasi udara yang bagus,” tutur Mas Abu.

Baca Juga :  Percantik Kota Angin, Tanam Ratusan Tabebuya

Ia menjelaskan, kurban bisa dilakukan sampai hari tasyrik berakhir. Karena, untuk kegiatan kurban selalu ada massa yang berkumpul. Ini lebih susah dikontrol. Makanya lebih baik dilakukan dengan memberikan kupon dan diantar panitia kurban. “Harapannya agar setiap elemen masyarakat menaati imbauan yang disepakati pemkot dan forkompimda,” imbuhnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Abu Bakar Abdul Jalil mengatakan, mengikuti anjuran yang sudah ditetapkan. Untuk menjaga jarak, lelaki yang akrab disapa Gus Ab ini memberikan solusi melaksanakan salat di musala saja. “Kita ngikuti aja agar tidak terlalu banyak kumpul di satu masjid,” urainya.

Soal proses pemotongan hewan kurban hingga pembagiannya, Gus Ab juga menyetujui anjuran wali kota. Panitia bisa menggunakan kupon agar dibagikan secara bergantian. “Atau diantar, jadi dipecah gitu, tugasnya,” jelasnya.

Sementara ini, di Kota Kediri ini masih belum ada tanda-tanda menuju Zona Hijau. Pasalnya masih ada 49 warga yang sedang dipantau dan dirawat karena terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal tersebut dijelaskan di media sosial resmi Mas Abu sekitar pukul 20.00 tadi malam. Dengan bertambahnya satu kasus berarti total ada 105 warga kota yang terkonfirmasi. Sebanyak 53 orang dinyatakan sembuh. Tiga orang meninggal dunia. Berdasarkan data dari website corona.kedirikota.go.id per (22/7) malam. Tiga orang meninggal dari Kelurahan Blabak, Kelurahan Bangsal, dan Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren.(din/syi/ndr)

 

 

 

 

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kasus korona masih terjadi di Kabupaten Kediri. Meski sudah banyak pasien dinyatakan sembuh, pemkab tetap mengupayakan tindakan preventif. Itu agar kasus penularan kian teratasi.

Tindakan tersebut tentu saja tak lepas dari upaya sosialisasi pada masyarakat. Termasuk ketegasan imbauan hingga tingkat bawah. Jubir GTPP Covid-19 Kabupaten Kediri dr Ahmad Chotib menegaskan, mulai saat ini kebiasaan hidup disiplin pada kesehatan harus diterapkan.

Utamanya penggunaan masker. Ini sangatlah penting untuk menjaga agar tetap aman dari virus. Hal tersebut harus dibiasakan. Istilahnya membiasakan adaptasi kehidupan baru (AKB). Termasuk jaga jarak aman dan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

“Dengan beradaptasi kebiasaan baru ini, kita bisa beraktivitas tanpa khawatir tertular virus sekaligus membantu meringankan beban tenaga kesehatan menangani Covid-19,” jelasnya.

Menurut Chotib, disiplin menjalankan protokol kesehatan harus dilakukan bersama-sama dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. “Kebiasaan ini pula yang bisa dibangun dan dimulai di lingkup terkecil, yaitu keluarga,” pesannya.

Apalagi setiap hari pula terdapat pasien terkonfirmasi korona. Tadi malam saja, ada tambahan tiga kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka dari tiga klaster. Satu pasien klaster Sidoarjo merupakan warga Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. “Yang bersangkutan dirawat di RS HVA Toeloengredjo Pare,” ungkapnya.

Sementara dua lainya dari klaster baru. Yakni warga Desa Wanengpaten, Kecamatan Gampengrejo. Saat ini isolasi mandiri. Kemudian ada satu lagi warga terkonfirmasi asal Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan. Yang bersangkutan, kata Chotib, meninggal dunia di RS HVA Toeloengredjo Pare pada 19 Juli 2020. “Yang bersangkutan meninggal sebelum hasil swab-nya keluar,” jelasnya.

Baca Juga :  Percantik Kota Angin, Tanam Ratusan Tabebuya

Kabar baiknya, tadi malam ada lima pasien telah dinyatakan sembuh. Mereka dari klaster berbeda. Yakni dari klaster Desa Gampeng merupakan warga Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo. Kemudian klaster Desa Woromarto, yakni warga Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri. Dan satu klaster Desa Mlati, yang merupakan warga Desa Mlati, Kecamatan Mojo.

Selanjutnya, yang sembuh lagi adalah dua orang dari Kecamatan Ngasem. Yakni klaster Desa Kambingan, yang merupakan warga Desa Paron, dan klaster baru dari warga Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem.

Dengan demikian, saat ini terdapat 338 kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kediri, dengan rincian 144 orang dirawat, 176 orang sembuh dan 18 orang meninggal dunia.

Sementara di Kota Kediri, pemkot menganjurkan salat Idul Adha di rumah. Ini demi menghindari persebaran klaster baru. Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengatakan, sudah rapat koordinasi bersama Forkompimda terkait pelaksanaan Hari Raya Kurban. “Salat boleh dilakukan dengan protokol kesehatan, namun dianjurkan salat di rumah saja,” ujarnya.

Yang menjalankan salat Id berjamaah harus tetap melakukan protokol kesehatan. Mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. “Kalau bisa tempat mengadakan salat dengan sirkulasi udara yang bagus,” tutur Mas Abu.

Baca Juga :  Danbrigif 16 Wira Yudha: Endra Saputra Gantikan Slamet Riad

Ia menjelaskan, kurban bisa dilakukan sampai hari tasyrik berakhir. Karena, untuk kegiatan kurban selalu ada massa yang berkumpul. Ini lebih susah dikontrol. Makanya lebih baik dilakukan dengan memberikan kupon dan diantar panitia kurban. “Harapannya agar setiap elemen masyarakat menaati imbauan yang disepakati pemkot dan forkompimda,” imbuhnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Abu Bakar Abdul Jalil mengatakan, mengikuti anjuran yang sudah ditetapkan. Untuk menjaga jarak, lelaki yang akrab disapa Gus Ab ini memberikan solusi melaksanakan salat di musala saja. “Kita ngikuti aja agar tidak terlalu banyak kumpul di satu masjid,” urainya.

Soal proses pemotongan hewan kurban hingga pembagiannya, Gus Ab juga menyetujui anjuran wali kota. Panitia bisa menggunakan kupon agar dibagikan secara bergantian. “Atau diantar, jadi dipecah gitu, tugasnya,” jelasnya.

Sementara ini, di Kota Kediri ini masih belum ada tanda-tanda menuju Zona Hijau. Pasalnya masih ada 49 warga yang sedang dipantau dan dirawat karena terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal tersebut dijelaskan di media sosial resmi Mas Abu sekitar pukul 20.00 tadi malam. Dengan bertambahnya satu kasus berarti total ada 105 warga kota yang terkonfirmasi. Sebanyak 53 orang dinyatakan sembuh. Tiga orang meninggal dunia. Berdasarkan data dari website corona.kedirikota.go.id per (22/7) malam. Tiga orang meninggal dari Kelurahan Blabak, Kelurahan Bangsal, dan Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren.(din/syi/ndr)

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/