26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Dinkes Temukan DBD Paling Tinggi pada Januari–Maret

KOTA, JP Radar Kediri– Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tahun menurun pada pertengahan Mei ini. Hal tersebut berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, hingga pertengahan Mei ini ada sembilan kasus. Kondisi itu menandakan sudah mulai ada tanda penurunan dibanding bulan sebelumnya. Pasalnya, sejak Januari hingga April rata-rata ada 30 kasus DBD setiap bulannya.

“Untuk tahun ini tidak ada pasien yang meninggal akibat terserang penyakit demam berdarah. Begitu juga dengan tahun 2021 lalu,” ujarnya.

Secara total pada 2020 lalu, Hendik mengungkapkan, ada 160 kasus dengan satu pasien meninggal dunia. Sementara pada tahun 2021, jumlahnya menurun menjadi 121 kasus. “Juga tanpa ada pasien yang meninggal dunia,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sembilan Bulan, Hampir Rp 1 Triliun Masuk ke Nganjuk

Sedangkan untuk tahun ini hingga pertengahan Mei, secara total ada 66 kasus penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Dinkes mencatat belum menemukan ada pasien yang meninggal. Menurut Hendik, selama Januari hingga Maret merupakan periode yang paling banyak dijumpai kasus demam berdarah. “Memang pada bulan tersebut merupakan puncak kasusnya,” paparnya.

Hal itu, lanjut Hendik, seiring dengan intensitas hujan yang tinggi. Karena itu, dinas kesehatan mengambil langkah untuk mengedukasi dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka diminta untuk memberantas sarang nyamuk yang ada di sekitarnya.

Seperti yang diketahui, penyebaran penyakit DBD sendiri disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang suka bertelur pada air yang bersih. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungannya, terutama di rumahnya sendiri, baik halaman rumah maupun dalam rumah.

Baca Juga :  Ketika Fasilitas Umum di Kediri Masih Belum Ramah Difabel

Tempat–tempat yang dapat menampung air harus diperhatikan, kaleng atau plastik yang tidak digunakan lagi sebaiknya diamankan agar tidak menampung air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Masyarakat juga diimbau untuk memperhatikan dan membersihkan bak mandinya secara rutin. Pasalnya, hal itu juga berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Menurut Hendik, menggunakan bak mandi yang terbuat dari plastik atau timba juga bisa menjadi alternatif. Ini karena lebih mudah untuk dikuras dan dibersihkan. “Meskipun kemarau bukan berarti kasusnya tidak ada. Karena saat hujan datang lalu hari berikutnya panas berturut-turut itu justru peluang tempat jentik nyamuk bertelur jika tidak dibersihkan,” pungkasnya. (ica/ndr)

 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri– Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tahun menurun pada pertengahan Mei ini. Hal tersebut berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, hingga pertengahan Mei ini ada sembilan kasus. Kondisi itu menandakan sudah mulai ada tanda penurunan dibanding bulan sebelumnya. Pasalnya, sejak Januari hingga April rata-rata ada 30 kasus DBD setiap bulannya.

“Untuk tahun ini tidak ada pasien yang meninggal akibat terserang penyakit demam berdarah. Begitu juga dengan tahun 2021 lalu,” ujarnya.

Secara total pada 2020 lalu, Hendik mengungkapkan, ada 160 kasus dengan satu pasien meninggal dunia. Sementara pada tahun 2021, jumlahnya menurun menjadi 121 kasus. “Juga tanpa ada pasien yang meninggal dunia,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dua Orang CJH di Kabupaten Nganjuk Meninggal Dunia sebelum Berangkat

Sedangkan untuk tahun ini hingga pertengahan Mei, secara total ada 66 kasus penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Dinkes mencatat belum menemukan ada pasien yang meninggal. Menurut Hendik, selama Januari hingga Maret merupakan periode yang paling banyak dijumpai kasus demam berdarah. “Memang pada bulan tersebut merupakan puncak kasusnya,” paparnya.

Hal itu, lanjut Hendik, seiring dengan intensitas hujan yang tinggi. Karena itu, dinas kesehatan mengambil langkah untuk mengedukasi dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka diminta untuk memberantas sarang nyamuk yang ada di sekitarnya.

Seperti yang diketahui, penyebaran penyakit DBD sendiri disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang suka bertelur pada air yang bersih. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungannya, terutama di rumahnya sendiri, baik halaman rumah maupun dalam rumah.

Baca Juga :  Relokasi Semantok Tahap II Digelontor Rp 32 Miliar

Tempat–tempat yang dapat menampung air harus diperhatikan, kaleng atau plastik yang tidak digunakan lagi sebaiknya diamankan agar tidak menampung air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Masyarakat juga diimbau untuk memperhatikan dan membersihkan bak mandinya secara rutin. Pasalnya, hal itu juga berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Menurut Hendik, menggunakan bak mandi yang terbuat dari plastik atau timba juga bisa menjadi alternatif. Ini karena lebih mudah untuk dikuras dan dibersihkan. “Meskipun kemarau bukan berarti kasusnya tidak ada. Karena saat hujan datang lalu hari berikutnya panas berturut-turut itu justru peluang tempat jentik nyamuk bertelur jika tidak dibersihkan,” pungkasnya. (ica/ndr)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/