26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Pohon Tumbang di Gampengrejo, Atap Terbang di Tempurejo

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hujan disertai angin kencang kembali menumbangkan pohon besar di tepi jalan. Kemarin, sebatang pohon jenis abar dengan diameter 100 cm tumbang diterjang sang bayu. Tak ayal, robohnya pohon yang berada di Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo itu memacetkan arus lalu lintas. Kendaraan-kendaraan baik dari arah Surabaya maupun dari Kota Kediri tak bisa bergerak selama satu jam. Kemacetan pun mengular hingga dua kilometer lebih.

Untungnya, tidak ada korban dalam kejadian itu. Saat pohon ambruk tidak ada kendaraan maupun orang yang melintas.

“Pohonnya menutup badan jalan. Selama pemindahan arus kendaraan kami alihkan. Yang dari arah Surabaya belok ke barat masuk Desa Ngebrak, tembusannya Desa Turus, lalu belok ke timur,” terang  Kapolsek Gampengrejo AKP Saiful Alam melalui Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Aiptu Ali Junaidi.

Selain kencangnya angin, faktor kondisi pohon juga berpengaruh pada peristiwa itu. Menurut Setiyo, seorang warga yang rumahnya di dekat lokasi, kondisi pohon memang sudah miring sejak lama. “Sebetulnya pohonnya itu suda lama  miring  Mas. Tapi tidak ada tindakan dari  pihak terkait. Padahal kan jalur provinsi.  Bahkan semalam oranga sudah rasan-rasan karena oyot (akar)-nya sudah naik ke atas,” terangnya.

Kondisi pohon yang seperti itu dibenarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Menurut Kepala Unit Reaksi Cepat (URC) Windoko, tumbangnya pohon abar itu selain angin kencang juga karena usia pohon yang sudah tua. “Akar pohon tersebut sudah lapuk.  Jadi jika terkena angin gampang roboh,” jelasnya.

Baca Juga :  Gerebek Penjual Miras Tak Berizin

Pihak BPBD langsung merespon peristiwa tersebut. Dibantu warga mereka langsung berusaha memotong batang pohon yang menutupi jalan. Kemudian meminggirkannya dengan alat berat.

“Kami mendapat laporan pukul 14.51 WIB dari warga sekitar.Selanjutnya pukul 15.29 kami tangani dengan memotong-motong dengan gergaji mesin sehingga lebih cepat,”  terang Windoko.

Sementara itu, bencana angin kencang disertai hujan lebat yang terjadi di Kota Kediri pada Jumat (20/12) sore, meruntuhkan tembok rumah milik Jumisri, 49, di Kelurahan Tempurejo, Pesantren. Selain pohon-pohon di sekitar ambruk, atap rumah Jumisri terlempar hingga 200 meter akibat angin kencang tersebut.

Saat didatangi wartawan koran ini, Jumisri tengah melakukan perbaikan atap rumahnya. Jumisri tidak sendiri, beberapa warga RT 03 RW 01 Lingkungan Kresek, Kelurahan Tempurejo turut membantu. “Dari pagi tadi dibenahinya,” ungkapnya.

Jumisri menjelaskan bahwa kejadian sudah terjadi Jumat (20/12) sore. Saat itu, Jumisri sedang bersantai bersama keluarga di ruang tengah. Sesaat setelah hujan lebat sekitar pukul 14.00 WIB, beberapa kawan-kawannya datang berteduh.

Baca Juga :  Belasan Ribu Unit Butuh Perbaikan

Lelaki yang berkeseharian sebagai penjual mainan itu menjelaskan bahwa tidak lama setelah hujan angin kencang juga bertiup. Awalnya Jumisri tidak khawatir. Karena seperti hari-hari sebelumnya hujan deras dan angin kencang juga terjadi. Saat itu rumahnya tak terdampak.

Namun, sesaat kemudian terdengar suara keras dari atap rumah. Mereka segera keluar rumah. “Saya lihat tiba-tiba atap dapur ambruk,” terang Jumisri.

Tidak peduli hujan, Jumisri segera mengajak keluarganya segera keluar rumah. Karena berpikir atap di ruang tengah juga akan mengalami hal serupa.

Mereka berlari ke tengah jalan. Saat itu Jumisri melihat atap rumahnya yang dari seng terlempar hingga ke jalan raya. Padahal jaraknya sekitar 200 meter. Selain itu kayu penyangga atap dan genteng juga beterbangan. Terlempar ke pekarangan tetangganya. Juga ke tanah kosong di sebelah rumah Jumisri.

Tidak hanya atap saja yang porak-poranda. Tembok rumah Jumisri juga ambruk. Kemudian menimpa dapur rumahnya. “Semua barang rusak, mesin cuci, kulkas, hingga kompor,” keluh Jumisri.

Diperkirakan, kerusakan yang dialami oleh Jumisri mencapai Rp 35 juta. Jumisri hanya bisa berpasrah. Karena sejak ia tinggal 40 tahun lebih di rumahnya, ia belum pernah merasakan dampak bencana angin kencang yang merusak hampir separuh rumahnya.

         

 

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hujan disertai angin kencang kembali menumbangkan pohon besar di tepi jalan. Kemarin, sebatang pohon jenis abar dengan diameter 100 cm tumbang diterjang sang bayu. Tak ayal, robohnya pohon yang berada di Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo itu memacetkan arus lalu lintas. Kendaraan-kendaraan baik dari arah Surabaya maupun dari Kota Kediri tak bisa bergerak selama satu jam. Kemacetan pun mengular hingga dua kilometer lebih.

Untungnya, tidak ada korban dalam kejadian itu. Saat pohon ambruk tidak ada kendaraan maupun orang yang melintas.

“Pohonnya menutup badan jalan. Selama pemindahan arus kendaraan kami alihkan. Yang dari arah Surabaya belok ke barat masuk Desa Ngebrak, tembusannya Desa Turus, lalu belok ke timur,” terang  Kapolsek Gampengrejo AKP Saiful Alam melalui Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Aiptu Ali Junaidi.

Selain kencangnya angin, faktor kondisi pohon juga berpengaruh pada peristiwa itu. Menurut Setiyo, seorang warga yang rumahnya di dekat lokasi, kondisi pohon memang sudah miring sejak lama. “Sebetulnya pohonnya itu suda lama  miring  Mas. Tapi tidak ada tindakan dari  pihak terkait. Padahal kan jalur provinsi.  Bahkan semalam oranga sudah rasan-rasan karena oyot (akar)-nya sudah naik ke atas,” terangnya.

Kondisi pohon yang seperti itu dibenarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Menurut Kepala Unit Reaksi Cepat (URC) Windoko, tumbangnya pohon abar itu selain angin kencang juga karena usia pohon yang sudah tua. “Akar pohon tersebut sudah lapuk.  Jadi jika terkena angin gampang roboh,” jelasnya.

Baca Juga :  Butuh Rumah Sakit Jiwa Kertosono

Pihak BPBD langsung merespon peristiwa tersebut. Dibantu warga mereka langsung berusaha memotong batang pohon yang menutupi jalan. Kemudian meminggirkannya dengan alat berat.

“Kami mendapat laporan pukul 14.51 WIB dari warga sekitar.Selanjutnya pukul 15.29 kami tangani dengan memotong-motong dengan gergaji mesin sehingga lebih cepat,”  terang Windoko.

Sementara itu, bencana angin kencang disertai hujan lebat yang terjadi di Kota Kediri pada Jumat (20/12) sore, meruntuhkan tembok rumah milik Jumisri, 49, di Kelurahan Tempurejo, Pesantren. Selain pohon-pohon di sekitar ambruk, atap rumah Jumisri terlempar hingga 200 meter akibat angin kencang tersebut.

Saat didatangi wartawan koran ini, Jumisri tengah melakukan perbaikan atap rumahnya. Jumisri tidak sendiri, beberapa warga RT 03 RW 01 Lingkungan Kresek, Kelurahan Tempurejo turut membantu. “Dari pagi tadi dibenahinya,” ungkapnya.

Jumisri menjelaskan bahwa kejadian sudah terjadi Jumat (20/12) sore. Saat itu, Jumisri sedang bersantai bersama keluarga di ruang tengah. Sesaat setelah hujan lebat sekitar pukul 14.00 WIB, beberapa kawan-kawannya datang berteduh.

Baca Juga :  Ganjar Pranowo: Semua Elemen Harus Siaga Bencana

Lelaki yang berkeseharian sebagai penjual mainan itu menjelaskan bahwa tidak lama setelah hujan angin kencang juga bertiup. Awalnya Jumisri tidak khawatir. Karena seperti hari-hari sebelumnya hujan deras dan angin kencang juga terjadi. Saat itu rumahnya tak terdampak.

Namun, sesaat kemudian terdengar suara keras dari atap rumah. Mereka segera keluar rumah. “Saya lihat tiba-tiba atap dapur ambruk,” terang Jumisri.

Tidak peduli hujan, Jumisri segera mengajak keluarganya segera keluar rumah. Karena berpikir atap di ruang tengah juga akan mengalami hal serupa.

Mereka berlari ke tengah jalan. Saat itu Jumisri melihat atap rumahnya yang dari seng terlempar hingga ke jalan raya. Padahal jaraknya sekitar 200 meter. Selain itu kayu penyangga atap dan genteng juga beterbangan. Terlempar ke pekarangan tetangganya. Juga ke tanah kosong di sebelah rumah Jumisri.

Tidak hanya atap saja yang porak-poranda. Tembok rumah Jumisri juga ambruk. Kemudian menimpa dapur rumahnya. “Semua barang rusak, mesin cuci, kulkas, hingga kompor,” keluh Jumisri.

Diperkirakan, kerusakan yang dialami oleh Jumisri mencapai Rp 35 juta. Jumisri hanya bisa berpasrah. Karena sejak ia tinggal 40 tahun lebih di rumahnya, ia belum pernah merasakan dampak bencana angin kencang yang merusak hampir separuh rumahnya.

         

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/