27 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Diprediksi Januari Masih Tinggi

KEDIRI KABUPATEN– Penyebaran virus demam berdarah (DB) di Kabupaten Kediri pada musim hujan ini semakin masif. Bagaimana tidak, mulai memasuki Desember setiap harinya rata-rata ada lima pasien baru masuk rumah sakit (RS).

Mereka didiagnosis terkena DB akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Dalam penanganannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri tak hanya menerjunkan personel medisnya. Namun, satuan kerja pemkab ini juga memetakan potensi penyebaran penyakit berbahaya tersebut.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri dari dinas kesehatan menerangkan bahwa setiap hari dinkes hampir selalu mendapatkan laporan dari puskesmas maupun rumah sakit yang ada di Kabupaten Kediri.

Itu terkait dengan pasien yang terindikasi demam berdarah dan dalam perawatan medis. Terlebih mulai masuk Desember ini, hampir setiap hari ada warga yang masuk rumah sakit karena DB.

Rata-rata per hari kalau lima pasien baru terindikasi DB memang ada. “Ya segitu. Desember ini mulai banyak yang kena,” terang Kepala Dinkes Kabupaten Kediri Adi Laksono.

Adapun setelah pasien terindikasi DB masuk rumah sakit akan langsung menjalani pemeriksaan di laboratorium (lab). Tujuannya, agar bisa segera mengetahui positif terjangkit atau tidak.

Setelah dilabkan terkait dengan kondisi pasien terindikasi itu pun tiga hari kemudian hasilnya akan keluar. Adi menerangkan bahwa fenomena peningkatan DB tersebut akan terus tinggi sampai bulan Januari nanti.

Prediksi ini melihat dari analisa setiap tahunnya yang memang penderita DB di Kabupaten Kediri tinggi di dua bulan tersebut. “Kita imbau agar masyarakat juga waspada. Terlebih agar menjaga kebersihan lingkungan selama musim hujan ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  PSN Tetap Jadi Prioritas

Fenomena peningkatan demam berdarah ini pun diprediksikan baru akan menurun pada Februari tahun depan. Pasalnya, pada bulan itu musim hujan mulai turun intensitasnya.

Dengan dua bulan yang memang setiap tahun fenomenanya hampir sama tersebut. Adi pun mengaku, akan melakukan antisipasi cepat. Terlebih pemangku wilayah mulai dari kepala desa (kades) hingga camat juga harus tanggap.

Terutama jika mendapatkan kasus di wilayahnya. “Saat para pemangku wilayah ini dapat info agar segera lapor pada pihak kami. Agar penanganan juga cepat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut Adi setiap mendapatkan laporan dinkes pun langsung menurunkan tim juru pemantau jentik (jumantik) dari puskesmas. Tim ini yang akan mendatangi rumah si penderita.

Dari situlah penyelidikan dilakukan. Sasarannya dalam radius 200 meter. Dalam hal tersebut, Adi mengungkapkan, pihaknya mencari informasi dan mendata apakah ada warga lain di radius tersebut ada juga yang terjangkit atau hanya terindikasi saja. “Dari sini nanti tim akan melakukan tindak lanjut penanganan berikutnya,” paparnya.

Penanganan lanjutan dini seperti jika memang di radius tersebut ditemukan banyak penderita atau terindikasi terjangkit. Adi mengatakan, pihaknya bisa menerjunkan personel untuk melakukan fogging atau pengasapan. Karena memang daerah tersebut masuk dalam kategori perlu penanganan intensif.

Baca Juga :  Januari Bisa Jadi Puncak DBD

Namun berbeda jika hanya satu penderita saja. Dalam kondisi ini, menurutnya, penanganan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sudah cukup. Seperti agen pemantau bibit jentik nyamuk pun bisa melakukan cara 3M. Yakni menguras, mengubur, dan menutup bak atau tempat penampung air.

“Upaya itu saja saja sudah cukup. Fogging dilakukan hanya di titik-titik tertentu,” tegas Adi.

Seperti diberitakan sebelumnya, data yang tercatat di dinas kesehatan selama hampir satu tahun terakhir ini (sejak Januari hingga minggu pertama Desember) terhitung ada 241 penderita DB. Dari total jumlah tersebut, penderita yang meninggal sebanyak tujuh orang.

Terakhir, penderita DB meninggal pada September lalu. Setelah itu, selama tiga bulan terakhir (Oktober-awal Desember 2017) hanya diketahui jumlah kasusnya yang meningkat.

Di seluruh wilayah Kabupaten Kediri, warga yang paling banyak terkena virus DB ini berada di Kecamatan Pare. Dari total 241 kasus, Pare menempati posisi pertama dengan 35 warganya terjangkit virus mematikan itu.

Selama tiga bulan terakhir, saat musim hujan berlangsung pada Oktober, penderita DB di Pare masih terdeteksi satu orang saja. Namun memasuki November, peningkatan jumlahnya cukup signifikan. Sebab, bertambah menjadi enam penderita. Pada Desember ini, jumlah penderita meningkat pesat. Pada satu minggu pertama pendataan, dinkes mendapati sudah sembilan penderita dari Kecamatan Pare saja.

 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN– Penyebaran virus demam berdarah (DB) di Kabupaten Kediri pada musim hujan ini semakin masif. Bagaimana tidak, mulai memasuki Desember setiap harinya rata-rata ada lima pasien baru masuk rumah sakit (RS).

Mereka didiagnosis terkena DB akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Dalam penanganannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri tak hanya menerjunkan personel medisnya. Namun, satuan kerja pemkab ini juga memetakan potensi penyebaran penyakit berbahaya tersebut.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri dari dinas kesehatan menerangkan bahwa setiap hari dinkes hampir selalu mendapatkan laporan dari puskesmas maupun rumah sakit yang ada di Kabupaten Kediri.

Itu terkait dengan pasien yang terindikasi demam berdarah dan dalam perawatan medis. Terlebih mulai masuk Desember ini, hampir setiap hari ada warga yang masuk rumah sakit karena DB.

Rata-rata per hari kalau lima pasien baru terindikasi DB memang ada. “Ya segitu. Desember ini mulai banyak yang kena,” terang Kepala Dinkes Kabupaten Kediri Adi Laksono.

Adapun setelah pasien terindikasi DB masuk rumah sakit akan langsung menjalani pemeriksaan di laboratorium (lab). Tujuannya, agar bisa segera mengetahui positif terjangkit atau tidak.

Setelah dilabkan terkait dengan kondisi pasien terindikasi itu pun tiga hari kemudian hasilnya akan keluar. Adi menerangkan bahwa fenomena peningkatan DB tersebut akan terus tinggi sampai bulan Januari nanti.

Prediksi ini melihat dari analisa setiap tahunnya yang memang penderita DB di Kabupaten Kediri tinggi di dua bulan tersebut. “Kita imbau agar masyarakat juga waspada. Terlebih agar menjaga kebersihan lingkungan selama musim hujan ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pilbup Kediri: Ada Putra Pramono Anung, Rekom Jadi Ketat

Fenomena peningkatan demam berdarah ini pun diprediksikan baru akan menurun pada Februari tahun depan. Pasalnya, pada bulan itu musim hujan mulai turun intensitasnya.

Dengan dua bulan yang memang setiap tahun fenomenanya hampir sama tersebut. Adi pun mengaku, akan melakukan antisipasi cepat. Terlebih pemangku wilayah mulai dari kepala desa (kades) hingga camat juga harus tanggap.

Terutama jika mendapatkan kasus di wilayahnya. “Saat para pemangku wilayah ini dapat info agar segera lapor pada pihak kami. Agar penanganan juga cepat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut Adi setiap mendapatkan laporan dinkes pun langsung menurunkan tim juru pemantau jentik (jumantik) dari puskesmas. Tim ini yang akan mendatangi rumah si penderita.

Dari situlah penyelidikan dilakukan. Sasarannya dalam radius 200 meter. Dalam hal tersebut, Adi mengungkapkan, pihaknya mencari informasi dan mendata apakah ada warga lain di radius tersebut ada juga yang terjangkit atau hanya terindikasi saja. “Dari sini nanti tim akan melakukan tindak lanjut penanganan berikutnya,” paparnya.

Penanganan lanjutan dini seperti jika memang di radius tersebut ditemukan banyak penderita atau terindikasi terjangkit. Adi mengatakan, pihaknya bisa menerjunkan personel untuk melakukan fogging atau pengasapan. Karena memang daerah tersebut masuk dalam kategori perlu penanganan intensif.

Baca Juga :  Atap Kediri Mall Beterbangan Kena Hujan Angin, Ini Kata Ahli

Namun berbeda jika hanya satu penderita saja. Dalam kondisi ini, menurutnya, penanganan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sudah cukup. Seperti agen pemantau bibit jentik nyamuk pun bisa melakukan cara 3M. Yakni menguras, mengubur, dan menutup bak atau tempat penampung air.

“Upaya itu saja saja sudah cukup. Fogging dilakukan hanya di titik-titik tertentu,” tegas Adi.

Seperti diberitakan sebelumnya, data yang tercatat di dinas kesehatan selama hampir satu tahun terakhir ini (sejak Januari hingga minggu pertama Desember) terhitung ada 241 penderita DB. Dari total jumlah tersebut, penderita yang meninggal sebanyak tujuh orang.

Terakhir, penderita DB meninggal pada September lalu. Setelah itu, selama tiga bulan terakhir (Oktober-awal Desember 2017) hanya diketahui jumlah kasusnya yang meningkat.

Di seluruh wilayah Kabupaten Kediri, warga yang paling banyak terkena virus DB ini berada di Kecamatan Pare. Dari total 241 kasus, Pare menempati posisi pertama dengan 35 warganya terjangkit virus mematikan itu.

Selama tiga bulan terakhir, saat musim hujan berlangsung pada Oktober, penderita DB di Pare masih terdeteksi satu orang saja. Namun memasuki November, peningkatan jumlahnya cukup signifikan. Sebab, bertambah menjadi enam penderita. Pada Desember ini, jumlah penderita meningkat pesat. Pada satu minggu pertama pendataan, dinkes mendapati sudah sembilan penderita dari Kecamatan Pare saja.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/