24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Tebing Ambrol, Rumah Retak

NGANJUK – Hujan lebat yang mengguyur Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk membuat keluarga Maryadi, 46, harus mengungsi. Sebab, rumahnya yang berada di pinggir aliran Sungai Widas terkena longsoran Rabu (15/11) malam lalu. Bagian samping rumahnya retak setelah tebing di bawahnya ambrol. 

                Tak hanya bagian samping rumahnya yang terancam menggantung, beberapa dinding rumah Maryadi terlihat retak. “Retakannya semakin lebar. Kami takut rumahnya ambrol,” kata Maryadi ditemui di rumahnya, kemarin.

Mengantisipasi bencana lanjutan, kemarin Maryadi membongkar genting rumahnya untuk mengurangi beban. Dia juga memindahkan perabotan rumah agar tak rusak saat rumahnya ambrol. Seluruh harta benda Maryadi diungsikan ke rumah mertuanya yang berjarak sekitar 200 meter. 

Untuk diketahui, longsor yang menimpa pekarangan Maryadi terjadi bertahap sejak tahun lalu. Jika sebelumnya jarak rumah Maryadi dengan aliran Sungai Widas sekitar 10 meter, tahun ini jarak rumahnya dengan tebing tinggal sekitar dua meter.

Baca Juga :  Kelud Aktif, Mengubur Peradaban di Sekitarnya

Setelah hujan deras Rabu malam lalu, tanah selebar dua meter di samping rumah Maryadi kembali longsor hingga bagian samping rumahnya sebagian sudah menggantung. Melihat bencana tersebut, Maryadi hanya bisa pasrah.

Lebih jauh Maryadi mengatakan, tebing di tepi aliran Sungai Widas sudah pernah diberi ribuan karung berisi pasir sebagai penahan. Tetapi, sekitar lima ribu karung pasir itu kini sudah hanyut terbawa arus air.

Sementara itu, selain menimpa rumah Maryadi, longsor juga mengancam tujuh rumah warga lainnya. Seperti halnya rumah Maryadi, tujuh rumah warga itu ada di pinggir aliran Sungai Widas yang tebingnya ambrol. Sehingga, jarak rumah warga dengan pinggir sungai semakin dekat.

Baca Juga :  Gedung RSUD SLG Diresmikan, Kapan Operasionalnya?

Rumah milik Narto, Sukirman, Rokhim, Supri, Jakun, Parmin dan Suratman itu sejauh ini masih aman. Tetapi, kandang sapi dan kambing milik mereka yang ada di samping rumah sudah longsor lebih dulu. Jika ada longsor susulan, rumah mereka terancam terdampak.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Soekojono mengatakan, dirinya baru menugaskan anggotanya untuk memantau dan mendata kejadian longsor di Desa Kedungdowo. “Masih dilakukan pendataan,” katanya.

Selama musim penghujan ini, Soeko mengimbau warga waspada. Mereka juga diminta mengantisipasi terjadinya banjir dan tanah longsor. Terutama, warga yang tinggal di dekat sungai atau tebing yang curam. “Kami sudah meminta relawan melakukan pemetaan daerah yang rawan longsor agar bisa dilakukan antisipasi,” lanjut Soeko.

- Advertisement -

NGANJUK – Hujan lebat yang mengguyur Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk membuat keluarga Maryadi, 46, harus mengungsi. Sebab, rumahnya yang berada di pinggir aliran Sungai Widas terkena longsoran Rabu (15/11) malam lalu. Bagian samping rumahnya retak setelah tebing di bawahnya ambrol. 

                Tak hanya bagian samping rumahnya yang terancam menggantung, beberapa dinding rumah Maryadi terlihat retak. “Retakannya semakin lebar. Kami takut rumahnya ambrol,” kata Maryadi ditemui di rumahnya, kemarin.

Mengantisipasi bencana lanjutan, kemarin Maryadi membongkar genting rumahnya untuk mengurangi beban. Dia juga memindahkan perabotan rumah agar tak rusak saat rumahnya ambrol. Seluruh harta benda Maryadi diungsikan ke rumah mertuanya yang berjarak sekitar 200 meter. 

Untuk diketahui, longsor yang menimpa pekarangan Maryadi terjadi bertahap sejak tahun lalu. Jika sebelumnya jarak rumah Maryadi dengan aliran Sungai Widas sekitar 10 meter, tahun ini jarak rumahnya dengan tebing tinggal sekitar dua meter.

Baca Juga :  Hanya Separo Badan Jalan yang Berfungsi

Setelah hujan deras Rabu malam lalu, tanah selebar dua meter di samping rumah Maryadi kembali longsor hingga bagian samping rumahnya sebagian sudah menggantung. Melihat bencana tersebut, Maryadi hanya bisa pasrah.

Lebih jauh Maryadi mengatakan, tebing di tepi aliran Sungai Widas sudah pernah diberi ribuan karung berisi pasir sebagai penahan. Tetapi, sekitar lima ribu karung pasir itu kini sudah hanyut terbawa arus air.

Sementara itu, selain menimpa rumah Maryadi, longsor juga mengancam tujuh rumah warga lainnya. Seperti halnya rumah Maryadi, tujuh rumah warga itu ada di pinggir aliran Sungai Widas yang tebingnya ambrol. Sehingga, jarak rumah warga dengan pinggir sungai semakin dekat.

Baca Juga :  Pabrik Mebel Ludes Terbakar

Rumah milik Narto, Sukirman, Rokhim, Supri, Jakun, Parmin dan Suratman itu sejauh ini masih aman. Tetapi, kandang sapi dan kambing milik mereka yang ada di samping rumah sudah longsor lebih dulu. Jika ada longsor susulan, rumah mereka terancam terdampak.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Soekojono mengatakan, dirinya baru menugaskan anggotanya untuk memantau dan mendata kejadian longsor di Desa Kedungdowo. “Masih dilakukan pendataan,” katanya.

Selama musim penghujan ini, Soeko mengimbau warga waspada. Mereka juga diminta mengantisipasi terjadinya banjir dan tanah longsor. Terutama, warga yang tinggal di dekat sungai atau tebing yang curam. “Kami sudah meminta relawan melakukan pemetaan daerah yang rawan longsor agar bisa dilakukan antisipasi,” lanjut Soeko.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/