26.1 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Jalan Baru Akses ke Bandara Kediri: Magnet Swafoto, PKL Untung

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kendati belum rampung total pengerjaannya, proyek bandar udara (bandara) di wilayah barat Kabupaten Kediri telah menjadi daya tarik masyarakat. Setidaknya jalan baru menuju akses ke lapangan pesawat terbang di Desa/Kecamatan Grogol itu kini jadi tempat favorit masyarakat. Terutama anak-anak muda. 

Apalagi saat akhir pekan. Seperti kemarin (21/3), tampak banyak kendaraan silih berganti melewati jalanan proyek nasional yang belum tuntas itu. Kondisi jalannya cukup lebar dan mulus. Jalan baru itu terlihat lurus kemudian berkelok. 

“Pengin tahu seperti apa sebenarnya, ya karena penasaran aja. Katanya bandaranya sudah dibangun,” kata Tining, 28, warga Desa Joho, Kecamatan Pace, Nganjuk saat berada di ruas jalan tersebut. 

Panorama lingkungan sekitar jalan akses airport itu memang menawan. Tak heran banyak warga yang tertarik. Yang membuat adem adalah di kanan-kiri jalan masih berupa sawah dengan tanaman menghijau. 

Pantauan koran ini kemarin, banyak anak muda yang nongkrong di sana. Selain melihat pemandangan, mereka kongko hanya untuk sekadar berswafoto. Hasil berfoto-foto dengan latar belakang jalan itu biasanya digunakan untuk mengisi media sosialnya. 

Baca Juga :  Jakarta Banjir, 7 Perjalanan Kereta Api Batal

Tampak dua pemudi tengah asyik mengambil potret dirinya. Saat ditanya, ternyata dua gadis yang berpakaian senada ini datang dari Kecamatan Pare. Keduanya mengaku, berswafoto untuk kebutuhan akun media sosialnya. 

“Saya dari Pare, ke sini untuk foto-foto nanti diunggah di IG (instagram), karena tempatnya memang lagi hits,” ujar Sintya Palupi, warga Kelurahan/Kecamatan Pare. 

Namun, dia menyayangkan kondisi jalanan yang sudah mulai banyak sampah. Terutama sampah plastik yang berserekan. “Sekarang banyak sampah, dulu sempat ke sini bulan Februari masih bersih,” ungkapnya. 

Selain banyak sampah, menurut Sintya, tidak bisa mengambil spot foto dengan leluasa. Itu dikarenakan banyaknya pengendara yang berlalu-lalang dan masyarakat yang nongkrong.Tidak sedikit juga yang memanfaatkan jalan ini untuk berolahraga. 

Sementara di pinggir ruas jalan itu ada beberapa pedagang kaki lima (PKL) yang berdatangan untuk menjajakan dagangannya. Iswandi, salah satu pedagang cilok yang sedang berjualan, mengaku, sejak akhir Februari sudah berjualan di jalan baru Desa Grogol itu. 

Baca Juga :  Identity Confusion

Sebelum berjualan di jalan baru itu, Iswandi berjualan di depan Pasar Gringging, Grogol. “Alhamdulillah sejak berjualan di sini pendapatan saya juga naik,” ujarnya. 

Iswandi berjualan sejak pagi, mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Itu adalah waktu yang tepat untuk berjualan di sana. “Soalnya banyak yang olahraga, lalu setelah jam 12.00 pergi ke tempat lain karena biasanya setelah jam 12.00 ke atas turun hujan,” terangnya.

Selama empat jam, Iswandi mengaku, pendapatannya naik hingga Rp 150 ribu per harinya. Padahal dahulu di waktu yang sama ketika jualan di pasar, baru dapat separonya. Sehingga ada kenaikan omzet sekitar 50 persen.“Dulu segitu harus nunggu selama seharian di depan Pasar Gringging,” akunya. 

Kendati demikian, sekarang sudah banyak para pedagang lain yang mulai berdatangan. Padahal Februari lalu hanya dirinya saja penjual cilok di sana. Tetapi sekarang sudah ada tiga penjual cilok. Bahkan saat malam, ada pula penjual kopi sachet keliling. “Kalau sore dan malam hari malah rame,” urainya. (c3/ndr)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kendati belum rampung total pengerjaannya, proyek bandar udara (bandara) di wilayah barat Kabupaten Kediri telah menjadi daya tarik masyarakat. Setidaknya jalan baru menuju akses ke lapangan pesawat terbang di Desa/Kecamatan Grogol itu kini jadi tempat favorit masyarakat. Terutama anak-anak muda. 

Apalagi saat akhir pekan. Seperti kemarin (21/3), tampak banyak kendaraan silih berganti melewati jalanan proyek nasional yang belum tuntas itu. Kondisi jalannya cukup lebar dan mulus. Jalan baru itu terlihat lurus kemudian berkelok. 

“Pengin tahu seperti apa sebenarnya, ya karena penasaran aja. Katanya bandaranya sudah dibangun,” kata Tining, 28, warga Desa Joho, Kecamatan Pace, Nganjuk saat berada di ruas jalan tersebut. 

Panorama lingkungan sekitar jalan akses airport itu memang menawan. Tak heran banyak warga yang tertarik. Yang membuat adem adalah di kanan-kiri jalan masih berupa sawah dengan tanaman menghijau. 

Pantauan koran ini kemarin, banyak anak muda yang nongkrong di sana. Selain melihat pemandangan, mereka kongko hanya untuk sekadar berswafoto. Hasil berfoto-foto dengan latar belakang jalan itu biasanya digunakan untuk mengisi media sosialnya. 

Baca Juga :  Hukum Memandikan Jenazah Transgender

Tampak dua pemudi tengah asyik mengambil potret dirinya. Saat ditanya, ternyata dua gadis yang berpakaian senada ini datang dari Kecamatan Pare. Keduanya mengaku, berswafoto untuk kebutuhan akun media sosialnya. 

“Saya dari Pare, ke sini untuk foto-foto nanti diunggah di IG (instagram), karena tempatnya memang lagi hits,” ujar Sintya Palupi, warga Kelurahan/Kecamatan Pare. 

Namun, dia menyayangkan kondisi jalanan yang sudah mulai banyak sampah. Terutama sampah plastik yang berserekan. “Sekarang banyak sampah, dulu sempat ke sini bulan Februari masih bersih,” ungkapnya. 

Selain banyak sampah, menurut Sintya, tidak bisa mengambil spot foto dengan leluasa. Itu dikarenakan banyaknya pengendara yang berlalu-lalang dan masyarakat yang nongkrong.Tidak sedikit juga yang memanfaatkan jalan ini untuk berolahraga. 

Sementara di pinggir ruas jalan itu ada beberapa pedagang kaki lima (PKL) yang berdatangan untuk menjajakan dagangannya. Iswandi, salah satu pedagang cilok yang sedang berjualan, mengaku, sejak akhir Februari sudah berjualan di jalan baru Desa Grogol itu. 

Baca Juga :  Mbak Chica Serahkan Pemenang Motif Desain Batik Khas Kediri

Sebelum berjualan di jalan baru itu, Iswandi berjualan di depan Pasar Gringging, Grogol. “Alhamdulillah sejak berjualan di sini pendapatan saya juga naik,” ujarnya. 

Iswandi berjualan sejak pagi, mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Itu adalah waktu yang tepat untuk berjualan di sana. “Soalnya banyak yang olahraga, lalu setelah jam 12.00 pergi ke tempat lain karena biasanya setelah jam 12.00 ke atas turun hujan,” terangnya.

Selama empat jam, Iswandi mengaku, pendapatannya naik hingga Rp 150 ribu per harinya. Padahal dahulu di waktu yang sama ketika jualan di pasar, baru dapat separonya. Sehingga ada kenaikan omzet sekitar 50 persen.“Dulu segitu harus nunggu selama seharian di depan Pasar Gringging,” akunya. 

Kendati demikian, sekarang sudah banyak para pedagang lain yang mulai berdatangan. Padahal Februari lalu hanya dirinya saja penjual cilok di sana. Tetapi sekarang sudah ada tiga penjual cilok. Bahkan saat malam, ada pula penjual kopi sachet keliling. “Kalau sore dan malam hari malah rame,” urainya. (c3/ndr)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/