26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Idul Adha di Kediri: Warga Banyak Potong Kurban Sendiri

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Penyembelihan hewan kurban di fasilitas milik pemerintah berlangsung dengan protokol ketat. Hewan-hewan itu menjalani pemeriksaan sebelum disembelih. Waktunya pun juga terbatas. 

“Tentunya melalui pemeriksaan antemortem, sebelum disembelih, sampai post-mortem,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih kemarin (20/7). 

Pemeriksaan antemortem dilakukan saat hewan masih di kandang. Mencakup pemeriksaan fisik dan perilaku, suhu, umur, dan kenormalan testis. Hewan yang lolos pemeriksaan tersebut akan menjalani penyembelihan hingga pembagian dagingnya ke warga. 

Sedangkan pemeriksaan post mortem dilakukan untuk organ dalam hewan kurban setelah disembelih. Pemeriksaan itu mencakup limpa, hati, paru-paru, dan usus. 

Terkait dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di RPH yang baru pertama kali dilaksanakan itu, Tutik mengungkapkan, secara kapasitas tiap hari mencapai 15 – 20 ekor sapi. Durasinya non-stop, dari pagi hingga sore hari. Namun, khusus untuk saat ini pelaksanaannya terbatas. Hanya hingga pukul 12.00. “Sesuai SE Bupati kami ada keterbatasan waktu untuk penyembelihan,” ujarnya beralasan.

Berdasarkan informasi yang diberikan, dua RPH plat merah-di Pare dan Wates-akan menyembelih 23 ekor sapi selama masa penyembelihan hewan kurban. Di hari pertama kemarin, masing-masing menyembelih empat ekor sapi. Dua di antaranya merupakan sapi kurban dari Bupati Dhito Pramana dan Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Baca Juga :  RSUD Kertosono┬áHampir Penuh

Rencananya, hari ini RPH Pare akan menyembelih sembilan ekor sapi. Penyembelihan dilakukan di malam hari. Kemudian Kamis (22/7) ada empat ekor yang juga disembelih pada malam hari. Sedangkan di RPH Wates akan menyembelih hewan kurban dua ekor sapi pada hari ini.

Tutik mengakui, penyembelihan hewan kurban di masyarakat juga masih terjadi. Dia meminta masyarakat yang melakukan pemotongan hingga hari terakhir tetap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. 

Sementara itu, warga Jalan  Pringgondani, Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri memilih menyembelih hewan kurbannya usai menjalani Salat Id di Musala Sunan Kalijaga. Ada sepuluh ekor hewan yang disembelih. Dua ekor sapi dan delapan kambing. 

Menurut Santoso, penyelenggara kurban Musala Sunan Kalijaga, pemotongan ditetapkan kemarin karena sudah menjadi keputusan bersama warga. Hewan yang disembelih berasal dari warga lokal dan ada pula hasil arisan. “Hewannya dipotong sekarang (kemarin, Red) mumpung sedang libur,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri. 

Santoso menjelaskan, mayoritas warga di tempat itu memilih hari pemotongan hewannya kemarin. Lokasi pemotongan di tanah kosong yang ada di depan musala. Selama proses penyembelihan, warga dan anak-anak bisa melihatnya dari jarak dekat.  

Baca Juga :  Kota Kediri Sudah Zona Kuning, Patroli Terus Dilakukan

Masih menurut Santoso, kegiatan salat Id dan pemotongan hewan kurban kini lebih banyak dilaksanakan di musala. Hal tersebut untuk menghindari kerumunan di masjid. 

Di Masjid Agung Kediri, tidak ada pelaksanaan salat Id kemarin. Namun, mereka masih melakukan penyembelihan hewan kurban. “Rencananya ada delapan ekor hewan kurban yang akan kami potong besok (hari ini, Red),” terang  Sekretaris Takmir Masjid Agung Basyarudin. 

Delapan ekor hewan kurban itu terdiri dari tiga ekor sapi dan lima ekor kambing. Pemotongan hewan kurban itu berlangsung dalam protokol kesehatan yang ketat. 

Sepinya kegiatan di Masjid Agung dirasakan penjual gorengan dan tukang becak yang ada di sekitar Alun Alun Kediri. Salah satunya adalah Bima, 21, penjual kopi di Alun-Alun, yang mengaku sepi ketika tidak ada pemotongan hewan kurban. “Kalau biasanya, setiap hari raya Idul Adha selalu ramai. Beda sekali dengan sekarang,” aku pria yang kerap disapa Bim oleh tukang parkir dan becak ini.(wi/rq/fud)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Penyembelihan hewan kurban di fasilitas milik pemerintah berlangsung dengan protokol ketat. Hewan-hewan itu menjalani pemeriksaan sebelum disembelih. Waktunya pun juga terbatas. 

“Tentunya melalui pemeriksaan antemortem, sebelum disembelih, sampai post-mortem,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih kemarin (20/7). 

Pemeriksaan antemortem dilakukan saat hewan masih di kandang. Mencakup pemeriksaan fisik dan perilaku, suhu, umur, dan kenormalan testis. Hewan yang lolos pemeriksaan tersebut akan menjalani penyembelihan hingga pembagian dagingnya ke warga. 

Sedangkan pemeriksaan post mortem dilakukan untuk organ dalam hewan kurban setelah disembelih. Pemeriksaan itu mencakup limpa, hati, paru-paru, dan usus. 

Terkait dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di RPH yang baru pertama kali dilaksanakan itu, Tutik mengungkapkan, secara kapasitas tiap hari mencapai 15 – 20 ekor sapi. Durasinya non-stop, dari pagi hingga sore hari. Namun, khusus untuk saat ini pelaksanaannya terbatas. Hanya hingga pukul 12.00. “Sesuai SE Bupati kami ada keterbatasan waktu untuk penyembelihan,” ujarnya beralasan.

Berdasarkan informasi yang diberikan, dua RPH plat merah-di Pare dan Wates-akan menyembelih 23 ekor sapi selama masa penyembelihan hewan kurban. Di hari pertama kemarin, masing-masing menyembelih empat ekor sapi. Dua di antaranya merupakan sapi kurban dari Bupati Dhito Pramana dan Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Baca Juga :  6 Tips Sukses ala Kepala Cabdindik, Apa Itu?

Rencananya, hari ini RPH Pare akan menyembelih sembilan ekor sapi. Penyembelihan dilakukan di malam hari. Kemudian Kamis (22/7) ada empat ekor yang juga disembelih pada malam hari. Sedangkan di RPH Wates akan menyembelih hewan kurban dua ekor sapi pada hari ini.

Tutik mengakui, penyembelihan hewan kurban di masyarakat juga masih terjadi. Dia meminta masyarakat yang melakukan pemotongan hingga hari terakhir tetap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. 

Sementara itu, warga Jalan  Pringgondani, Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri memilih menyembelih hewan kurbannya usai menjalani Salat Id di Musala Sunan Kalijaga. Ada sepuluh ekor hewan yang disembelih. Dua ekor sapi dan delapan kambing. 

Menurut Santoso, penyelenggara kurban Musala Sunan Kalijaga, pemotongan ditetapkan kemarin karena sudah menjadi keputusan bersama warga. Hewan yang disembelih berasal dari warga lokal dan ada pula hasil arisan. “Hewannya dipotong sekarang (kemarin, Red) mumpung sedang libur,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri. 

Santoso menjelaskan, mayoritas warga di tempat itu memilih hari pemotongan hewannya kemarin. Lokasi pemotongan di tanah kosong yang ada di depan musala. Selama proses penyembelihan, warga dan anak-anak bisa melihatnya dari jarak dekat.  

Baca Juga :  Kandang Sapi Dilalap si Jago Merah

Masih menurut Santoso, kegiatan salat Id dan pemotongan hewan kurban kini lebih banyak dilaksanakan di musala. Hal tersebut untuk menghindari kerumunan di masjid. 

Di Masjid Agung Kediri, tidak ada pelaksanaan salat Id kemarin. Namun, mereka masih melakukan penyembelihan hewan kurban. “Rencananya ada delapan ekor hewan kurban yang akan kami potong besok (hari ini, Red),” terang  Sekretaris Takmir Masjid Agung Basyarudin. 

Delapan ekor hewan kurban itu terdiri dari tiga ekor sapi dan lima ekor kambing. Pemotongan hewan kurban itu berlangsung dalam protokol kesehatan yang ketat. 

Sepinya kegiatan di Masjid Agung dirasakan penjual gorengan dan tukang becak yang ada di sekitar Alun Alun Kediri. Salah satunya adalah Bima, 21, penjual kopi di Alun-Alun, yang mengaku sepi ketika tidak ada pemotongan hewan kurban. “Kalau biasanya, setiap hari raya Idul Adha selalu ramai. Beda sekali dengan sekarang,” aku pria yang kerap disapa Bim oleh tukang parkir dan becak ini.(wi/rq/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/