28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Pandemi, Pijat Pliket Ramai di Nganjuk

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- “Antre Mas,” ujar Mami, salah satu pengelola pijat pliket di Kota Angin kepada wartawan koran ini pada Rabu (17/3). Saat itu, jarum jam masih menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sebenarnya, bukan waktu favorit untuk pijat pliket. Karena biasanya, tamu akan berdatangan sekitar pukul 21.00 WIB. Apalagi, hari itu, juga bukan weekend atau hari libur nasional. Namun, ternyata tamu di tempat pijat pliket sudah antre.

Karena takut kelamaan menunggu, sang mami dengan senyum dan ramah memberikan opsi kepada tamu yang datang. “Mau menunggu sekitar satu jam lagi atau lain hari saja,” ujarnya.

Menurut Mami, selama pandemi Covid-19, tamu yang datang untuk pijat ramai. Mulai pagi hingga pukul 22.00 WIB, tamu silih berganti datang.

Karena itu, Mami tidak hanya menyediakan satu terapis. Dia menyediakan lima terapis. Ini untuk mencegah antrean terlalu lama. “Biasanya tidak antre karena anak saya itu ada lima. Tapi ini yang tiga sedang cuti. Jadi, hanya ada dua yang memijat,” ujarnya.

Dengan mengandalkan dua terapis, Mami mengaku kewalahan. Dia berharap, tiga terapis dari Batu yang memilih cuti untuk segera kembali bekerja. Sehingga, lima kamar yang disediakan bisa digunakan semua. “Sebenarnya saya juga bisa memijat tetapi tamu tidak mau saya pijat,” ujarnya sambil tersenyum genit.

Sementara itu, Mbake Pijat (bukan nama sebenarnya, Red) mengatakan, dia hanya standby di tempat pijat mulai pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB. Tempat pijatnya ini hanya berupa rumah sederhana dengan tulisan ‘PIJAT’ di tepi jalan. “Jam kerjanya tidak kaku. Tergantung kondisi kita sedang capek atau tidak,” ujarnya.

Baca Juga :  Tunggu Juknis Pencabutan Subsidi Elpiji

Namun demikian, dalam sehari, terapis berusia 25 tahun ini mengaku bisa bekerja sekitar delapan jam. Karena tamu yang datang bergantian. Hampir selalu ada setiap jamnya. Meski memiliki empat teman, dia tetap harus melayani tamu lebih dari empat orang dalam sehari. “Rata-rata lima sampai delapan tamu sehari,” ujarnya.

Mbake Pijat mengaku, jika dia tidak hanya memijat capek-capek. Namun, dia juga memberikan layanan pijat pliket ke tamunya. Jika tamu tidak meminta, dia juga akan menawarkan. Caranya dengan menggoda tamu dengan kata-kata dan gerakan erotis. Karena tarif untuk layanan pijat pliket sama dengan pijat capek-capek. Bedanya, pijat pliket lebih cepat dibandingkan pijat capek-capek. “Jika pijat capek-capek Rp 150 ribu per jam. Tapi kalau mau terapi (pijat pliket, Red) tambah Rp 150 ribu,” ujarnya.

Untuk pijat pliket ini akan dilakukan di kamar tersebut. Ini membutuhkan mental yang kuat bagi tamu yang baru pertama kali mencoba. Karena kamar di pijat pliket berada di tepi jalan raya ini tidak ada pintunya. Hanya kelambu sebagai penutup. Semua orang bisa masuk sewaktu-waktu. Tidak ada selimut juga. Otomatis, sulit untuk bersembunyi saat ada orang yang masuk. Di kamar pijat pliket hanya ada bantal dari kapuk yang berbau apek dan kasur kapuk yang tidak empuk. Sedangkan, ranjangnya adalah dipan kayu. Jika terlalu keras bergoyang pasti akan berbunyi. Krekkk….. krekkk… kikkkk… .”Terapi di sini ini tidak full service hanya pakai tangan,” ujarnya.

Lalu bagaimana jika tamu minta full service? Janda satu anak ini mengaku tidak berani melayani di kamar. Karena berbagai pertimbangan. Yang utama adalah khawatir digerebek warga dan tempat usaha pijat maminya akan ditutup. “Kalau di sini saya beraninya cuma terapi saja,” ujarnya dengan suara menggoda.

Baca Juga :  Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (6)

Bagi Mbake Pijat, Kota Angin adalah favorit. Karena lokasinya strategis. Yaitu, di jalur nasional.

Selain itu, kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Nganjuk tidak seketat Kota Batu saat pandemi. “Kalau di Batu, tempat pijat dan wisata sering tutup karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Beda dengan di sini (Kabupaten Nganjuk, Red) yang masih boleh buka tempat pijatnya. Makanya, saya dan teman-teman pilih kerja di sini,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan Mbake Pijat di gang. Janda asal Malang ini mengaku betah bekerja di tempat pijat pliket di Kabupaten Nganjuk karena ramai pengunjung.

Untuk servis yang diberikan Mbake Pijat di gang tidak setengah-setengah. “Full service Rp 350 ribu,” ujarnya.

Uang Rp 350 ribu itu sudah termasuk biaya sewa kamar. Karena Mbake Pijat Pliket ini akan memberikan full service di kamar tersebut. Yaitu, di kasur yang tidak ada dipannya alias kasur di lantai. Sehingga, tidak akan berbunyi jika dibuat bergoyang. “Tidak perlu sewa kamar hotel. Di sini saja aman dan gratis,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Nganjuk Samsul Huda mengakui jika tempat pijat banyak ditemukan di Kabupaten Nganjuk. Tempat pijat itu mayoritas ada di tepi jalan raya Kertosono-Nganjuk. “Kami juga terus memantau tempat pijat-tempat pijat di Kabupaten Nganjuk,” ujarnya.

Karena itu, jika ada tempat pijat yang hanya sebagai kedok pijat pliket atau prostitusi, satpol PP akan menindak tegas. “Segala macam bentuk prostitusi itu tidak boleh,” tandasnya.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- “Antre Mas,” ujar Mami, salah satu pengelola pijat pliket di Kota Angin kepada wartawan koran ini pada Rabu (17/3). Saat itu, jarum jam masih menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sebenarnya, bukan waktu favorit untuk pijat pliket. Karena biasanya, tamu akan berdatangan sekitar pukul 21.00 WIB. Apalagi, hari itu, juga bukan weekend atau hari libur nasional. Namun, ternyata tamu di tempat pijat pliket sudah antre.

Karena takut kelamaan menunggu, sang mami dengan senyum dan ramah memberikan opsi kepada tamu yang datang. “Mau menunggu sekitar satu jam lagi atau lain hari saja,” ujarnya.

Menurut Mami, selama pandemi Covid-19, tamu yang datang untuk pijat ramai. Mulai pagi hingga pukul 22.00 WIB, tamu silih berganti datang.

Karena itu, Mami tidak hanya menyediakan satu terapis. Dia menyediakan lima terapis. Ini untuk mencegah antrean terlalu lama. “Biasanya tidak antre karena anak saya itu ada lima. Tapi ini yang tiga sedang cuti. Jadi, hanya ada dua yang memijat,” ujarnya.

Dengan mengandalkan dua terapis, Mami mengaku kewalahan. Dia berharap, tiga terapis dari Batu yang memilih cuti untuk segera kembali bekerja. Sehingga, lima kamar yang disediakan bisa digunakan semua. “Sebenarnya saya juga bisa memijat tetapi tamu tidak mau saya pijat,” ujarnya sambil tersenyum genit.

Sementara itu, Mbake Pijat (bukan nama sebenarnya, Red) mengatakan, dia hanya standby di tempat pijat mulai pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB. Tempat pijatnya ini hanya berupa rumah sederhana dengan tulisan ‘PIJAT’ di tepi jalan. “Jam kerjanya tidak kaku. Tergantung kondisi kita sedang capek atau tidak,” ujarnya.

Baca Juga :  Korban Tertimpa Pohon di Nganjuk Minta Ganti Rugi

Namun demikian, dalam sehari, terapis berusia 25 tahun ini mengaku bisa bekerja sekitar delapan jam. Karena tamu yang datang bergantian. Hampir selalu ada setiap jamnya. Meski memiliki empat teman, dia tetap harus melayani tamu lebih dari empat orang dalam sehari. “Rata-rata lima sampai delapan tamu sehari,” ujarnya.

Mbake Pijat mengaku, jika dia tidak hanya memijat capek-capek. Namun, dia juga memberikan layanan pijat pliket ke tamunya. Jika tamu tidak meminta, dia juga akan menawarkan. Caranya dengan menggoda tamu dengan kata-kata dan gerakan erotis. Karena tarif untuk layanan pijat pliket sama dengan pijat capek-capek. Bedanya, pijat pliket lebih cepat dibandingkan pijat capek-capek. “Jika pijat capek-capek Rp 150 ribu per jam. Tapi kalau mau terapi (pijat pliket, Red) tambah Rp 150 ribu,” ujarnya.

Untuk pijat pliket ini akan dilakukan di kamar tersebut. Ini membutuhkan mental yang kuat bagi tamu yang baru pertama kali mencoba. Karena kamar di pijat pliket berada di tepi jalan raya ini tidak ada pintunya. Hanya kelambu sebagai penutup. Semua orang bisa masuk sewaktu-waktu. Tidak ada selimut juga. Otomatis, sulit untuk bersembunyi saat ada orang yang masuk. Di kamar pijat pliket hanya ada bantal dari kapuk yang berbau apek dan kasur kapuk yang tidak empuk. Sedangkan, ranjangnya adalah dipan kayu. Jika terlalu keras bergoyang pasti akan berbunyi. Krekkk….. krekkk… kikkkk… .”Terapi di sini ini tidak full service hanya pakai tangan,” ujarnya.

Lalu bagaimana jika tamu minta full service? Janda satu anak ini mengaku tidak berani melayani di kamar. Karena berbagai pertimbangan. Yang utama adalah khawatir digerebek warga dan tempat usaha pijat maminya akan ditutup. “Kalau di sini saya beraninya cuma terapi saja,” ujarnya dengan suara menggoda.

Baca Juga :  Temukan Artefak Kinari di Berbek

Bagi Mbake Pijat, Kota Angin adalah favorit. Karena lokasinya strategis. Yaitu, di jalur nasional.

Selain itu, kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Nganjuk tidak seketat Kota Batu saat pandemi. “Kalau di Batu, tempat pijat dan wisata sering tutup karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Beda dengan di sini (Kabupaten Nganjuk, Red) yang masih boleh buka tempat pijatnya. Makanya, saya dan teman-teman pilih kerja di sini,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan Mbake Pijat di gang. Janda asal Malang ini mengaku betah bekerja di tempat pijat pliket di Kabupaten Nganjuk karena ramai pengunjung.

Untuk servis yang diberikan Mbake Pijat di gang tidak setengah-setengah. “Full service Rp 350 ribu,” ujarnya.

Uang Rp 350 ribu itu sudah termasuk biaya sewa kamar. Karena Mbake Pijat Pliket ini akan memberikan full service di kamar tersebut. Yaitu, di kasur yang tidak ada dipannya alias kasur di lantai. Sehingga, tidak akan berbunyi jika dibuat bergoyang. “Tidak perlu sewa kamar hotel. Di sini saja aman dan gratis,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Nganjuk Samsul Huda mengakui jika tempat pijat banyak ditemukan di Kabupaten Nganjuk. Tempat pijat itu mayoritas ada di tepi jalan raya Kertosono-Nganjuk. “Kami juga terus memantau tempat pijat-tempat pijat di Kabupaten Nganjuk,” ujarnya.

Karena itu, jika ada tempat pijat yang hanya sebagai kedok pijat pliket atau prostitusi, satpol PP akan menindak tegas. “Segala macam bentuk prostitusi itu tidak boleh,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/