27 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Rencana Ekskavasi Akan Condong ke Candi Dorok

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Perlakuan ekskavasi pada tempat penemuan lima arca di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu sepertinya sulit dilakukan. Sebab, data yang ditemukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di daerah penemuan itu sangat minim. Instansi ini justru ingin melakukan ekskavasi di sekitar Candi Dorok. 

Dalam hal cagar budaya, Kepala BPCB Jatim Zakaria Kasimin mengungkapkan, potensi Candi Dorok masih sangat besar. Apalagi di daerah sekitarnya cukup banyak temuan lepas lain yang mendukung pembuktian peradaban masa lampau di sana. Terlebih, hingga kini, data terkait Candi Dorok masih minim. 

Ke depan, ia mengatakan bahwa BPCB Jatim akan kerja sama dengan Pemkab Kediri demi ekskavasi di sekitar Candi Dorok. “Sehingga kami menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran untuk kegiatan ini,” jelasnya.

BPCB sangat berharap itu bisa terwujud. Sementara untuk lahan yang ditemukan arca, Zakaria menyatakan, jika memang memiliki potensi untuk diekskavasi pada lokasi di sekitar temuan, maka akan diambil secara acak. 

Baca Juga :  Partai NasDem Survei 5 Bacabup

“Untuk lahan di lokasi penemuan arca, mungkin kalau bisa diambil satu atau dua kotak juga bisa,” tambahnya.

Ini khusus lahan yang sama sekali belum tersentuh penggalian. Hal itu guna mengetahui apakah ada potensi objek diduga cagar budaya (ODCB) lain yang ada di sana atau tidak. “Karena untuk lahan yang di sini (tempat penemuan, Red) kita benar-benar kehilangan jejak untuk menginterpretasikan apakah penemuan di situ atau terbawa dari tempat lain,” terangnya.

Kasub Penyelamatan Unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Nonuk Kristiana menyampaikan bahwa untuk lokasi penemuan lima arca tersebut lebih mengarah ke tempat pemujaan. Yang sengaja dibuat untuk pribadi atau keluarga. 

Kalau melihat jenis arca dari identifikasi ikonografi, lanjut Nonuk, di arca yang ditemukan pada tempat tersebut tidak melengkapi bangunan candi. “Tapi mungkin ada satu bangunan, batur kecil yang dipuja oleh sekelompok orang,” ujarnya.

Baca Juga :  Focus Group Discussion (FGD) tentang Kawasan Ekonomi Nganjuk (KEN) (7)

Misalnya sanggah atau tempat pemujaan skala kecil. Sehingga, Nonuk menduga kuat bahwa di lokasi penemuan arca tidak ada bangunan candi. Apalagi di sana tidak ditemukan temuan reruntuhan bangunan. Termasuk struktur bangunan yang masih bisa diidentifikasi. Meski sebenarnya ada satu atau dua bata kuno namun dengan kondisi yang sudah hancur.

Dari temuan yang berada di lahan galian milik masyarakat itu, pihaknya menyebut belum berencana melakukan ekskavasi. Hal ini karena potensi pendalaman di tempat ini sepertinya sangat kecil, sebab kuat dugaan bukan merupakan benda bersejarah dari bangunan candi, tapi hanya Sanggah. Ini juga tampak dari ciri-ciri arca yang ditemukan.

“Dan untuk ekskavasi, saya kira tidak perlu, karena tidak berpotensi untuk penelitan lebih lanjut,” tandasnya. (din/ndr)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Perlakuan ekskavasi pada tempat penemuan lima arca di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu sepertinya sulit dilakukan. Sebab, data yang ditemukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di daerah penemuan itu sangat minim. Instansi ini justru ingin melakukan ekskavasi di sekitar Candi Dorok. 

Dalam hal cagar budaya, Kepala BPCB Jatim Zakaria Kasimin mengungkapkan, potensi Candi Dorok masih sangat besar. Apalagi di daerah sekitarnya cukup banyak temuan lepas lain yang mendukung pembuktian peradaban masa lampau di sana. Terlebih, hingga kini, data terkait Candi Dorok masih minim. 

Ke depan, ia mengatakan bahwa BPCB Jatim akan kerja sama dengan Pemkab Kediri demi ekskavasi di sekitar Candi Dorok. “Sehingga kami menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran untuk kegiatan ini,” jelasnya.

BPCB sangat berharap itu bisa terwujud. Sementara untuk lahan yang ditemukan arca, Zakaria menyatakan, jika memang memiliki potensi untuk diekskavasi pada lokasi di sekitar temuan, maka akan diambil secara acak. 

Baca Juga :  Info Korona Kediri: GTTP Tracing Klaster Baru

“Untuk lahan di lokasi penemuan arca, mungkin kalau bisa diambil satu atau dua kotak juga bisa,” tambahnya.

Ini khusus lahan yang sama sekali belum tersentuh penggalian. Hal itu guna mengetahui apakah ada potensi objek diduga cagar budaya (ODCB) lain yang ada di sana atau tidak. “Karena untuk lahan yang di sini (tempat penemuan, Red) kita benar-benar kehilangan jejak untuk menginterpretasikan apakah penemuan di situ atau terbawa dari tempat lain,” terangnya.

Kasub Penyelamatan Unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Nonuk Kristiana menyampaikan bahwa untuk lokasi penemuan lima arca tersebut lebih mengarah ke tempat pemujaan. Yang sengaja dibuat untuk pribadi atau keluarga. 

Kalau melihat jenis arca dari identifikasi ikonografi, lanjut Nonuk, di arca yang ditemukan pada tempat tersebut tidak melengkapi bangunan candi. “Tapi mungkin ada satu bangunan, batur kecil yang dipuja oleh sekelompok orang,” ujarnya.

Baca Juga :  Banjir dan Longsor Terjang Dua Desa di Grogol

Misalnya sanggah atau tempat pemujaan skala kecil. Sehingga, Nonuk menduga kuat bahwa di lokasi penemuan arca tidak ada bangunan candi. Apalagi di sana tidak ditemukan temuan reruntuhan bangunan. Termasuk struktur bangunan yang masih bisa diidentifikasi. Meski sebenarnya ada satu atau dua bata kuno namun dengan kondisi yang sudah hancur.

Dari temuan yang berada di lahan galian milik masyarakat itu, pihaknya menyebut belum berencana melakukan ekskavasi. Hal ini karena potensi pendalaman di tempat ini sepertinya sangat kecil, sebab kuat dugaan bukan merupakan benda bersejarah dari bangunan candi, tapi hanya Sanggah. Ini juga tampak dari ciri-ciri arca yang ditemukan.

“Dan untuk ekskavasi, saya kira tidak perlu, karena tidak berpotensi untuk penelitan lebih lanjut,” tandasnya. (din/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/