23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Pemkab Kediri Beli 4 Ton Telur Peternak

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri berupaya ikut menahan harga telur yang semakin anjlok. Mereka membeli telur dari para peternak. Kemudian menjualnya lagi pada para aparatur sipil negara (ASN).

Selain memborong, pemkab juga mematok harga beli yang tinggi. Setidaknya di atas patokan harga yang terjadi di pasaran. Hingga kemarin harga telur masih sangat murah. Harga per kilogramnya masih berkisar Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu saja.

“Kami membeli dengan harga Rp 18 ribu untuk satu kilogramnya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Tutik Purwaningsih.

Melalui upaya itu, pemkab sudah menyerap hampir empat ton telur ayam dari peternak. Atau persisnya, 3,7 ton yang sudah terbeli. Jumlah itu akan bertambah seiring dengan meluasnya area pembelian menjadi ke beberapa kecamatan.

Baca Juga :  Besok, Pedagang Harus Kosongkan Area TPPS Pasar Bendo

Untuk sementara ini pemkab masih menyerap telur dari peternak yang ada di Kecamatan Ringinrejo. “Ke depannya kami serap juga ke peternak kecamatan-kecamatan lain,” terangnya.

Kecamatan Ringinrejo dipilih pertama kali karena menjadi sentra peternak ayam petelur. Wilayah itu memiliki kelompok peternak unggas terbesar di kabupaten. Berdasarkan catatan DKPP, ada 150 peternak berskala mikro kecil dan menengah di daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar ini.

Tutik melanjutkan, upaya penyerapan telur langsung dari peternak ini akan terus dilakukan. Hal itu berdasarkan hasil survei bahwa peternak terus mengalami kerugian bila harga tetap bertahan di bawah Rp 15 ribu. Ditambah lagi, harga pakan ayam tetap mahal ketika harga telur murah.

“Harga jagung pakan yang tinggi sementara harga jual telur yang masih rendah menjadi keluhan utama para peternak,” imbuh perempuan yang juga pelaksana tugas kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri ini.    

Baca Juga :  Kejari Kota Kediri Dalami Dugaan Pengondisian Pasokan Bansos

Pembelian telur ini dikoordinir oleh DKPP. Setelah terbeli kemudian dijual lagi kepada seluruh ASN di lingkup Kabupaten Kediri.

“Dari sekretaris daerah juga mengimbau para ASN untuk membeli telur dari peternak kita sendiri dengan harga normal Rp 18 ribu per kilo. Alhamdulillah sudah terdata sampai 3 ton dan 771 kilogram, hampir empat ton,” terang Tutik.

Sebelumnya para peternak telur di kabupaten sempat melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut harga telur kembali naik. Karena dalam dua bulan terakhir harganya di kisaran Rp 12-14 ribu. Dengan harga seperti itu peternak akan merugi. Menurut para peternak, dengan harga seperti sekarang ini mereka rugi Rp 300 untuk setiap butir telur yang terjual. (syi/fud)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri berupaya ikut menahan harga telur yang semakin anjlok. Mereka membeli telur dari para peternak. Kemudian menjualnya lagi pada para aparatur sipil negara (ASN).

Selain memborong, pemkab juga mematok harga beli yang tinggi. Setidaknya di atas patokan harga yang terjadi di pasaran. Hingga kemarin harga telur masih sangat murah. Harga per kilogramnya masih berkisar Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu saja.

“Kami membeli dengan harga Rp 18 ribu untuk satu kilogramnya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Tutik Purwaningsih.

Melalui upaya itu, pemkab sudah menyerap hampir empat ton telur ayam dari peternak. Atau persisnya, 3,7 ton yang sudah terbeli. Jumlah itu akan bertambah seiring dengan meluasnya area pembelian menjadi ke beberapa kecamatan.

Baca Juga :  Satpol PP Ajak Warga Amankan LPJU

Untuk sementara ini pemkab masih menyerap telur dari peternak yang ada di Kecamatan Ringinrejo. “Ke depannya kami serap juga ke peternak kecamatan-kecamatan lain,” terangnya.

Kecamatan Ringinrejo dipilih pertama kali karena menjadi sentra peternak ayam petelur. Wilayah itu memiliki kelompok peternak unggas terbesar di kabupaten. Berdasarkan catatan DKPP, ada 150 peternak berskala mikro kecil dan menengah di daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar ini.

Tutik melanjutkan, upaya penyerapan telur langsung dari peternak ini akan terus dilakukan. Hal itu berdasarkan hasil survei bahwa peternak terus mengalami kerugian bila harga tetap bertahan di bawah Rp 15 ribu. Ditambah lagi, harga pakan ayam tetap mahal ketika harga telur murah.

“Harga jagung pakan yang tinggi sementara harga jual telur yang masih rendah menjadi keluhan utama para peternak,” imbuh perempuan yang juga pelaksana tugas kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri ini.    

Baca Juga :  Gerebek Pemalsuan Produk Makanan Jadi

Pembelian telur ini dikoordinir oleh DKPP. Setelah terbeli kemudian dijual lagi kepada seluruh ASN di lingkup Kabupaten Kediri.

“Dari sekretaris daerah juga mengimbau para ASN untuk membeli telur dari peternak kita sendiri dengan harga normal Rp 18 ribu per kilo. Alhamdulillah sudah terdata sampai 3 ton dan 771 kilogram, hampir empat ton,” terang Tutik.

Sebelumnya para peternak telur di kabupaten sempat melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut harga telur kembali naik. Karena dalam dua bulan terakhir harganya di kisaran Rp 12-14 ribu. Dengan harga seperti itu peternak akan merugi. Menurut para peternak, dengan harga seperti sekarang ini mereka rugi Rp 300 untuk setiap butir telur yang terjual. (syi/fud)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/