22.3 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Guru Honorer Berjuang di Tes Pegawai Pemerintah dengan PPPK

Ribuan guru berebut status PPPK. Gaji  yang didapat bisa lebih besar dari honor bulanan yang diterima saat ini menjadi motivasi para peserta tes PPPK. Apalagi, ada jaminan, mereka bisa mengabdi hingga usia 60 tahun jika diterima menjadi PPPK. Karena itu, meski banyak peserta yang sudah berusia senja atau sedang dalam kondisi tidak sehat tetapi mereka ngotot berangkat tes.

Seorang peserta tes PPPK dengan menggunakan kruk berjalan tertatih-tatih di SMAN 1 Nganjuk pada Kamis (16/9). Dengan memakai jilbab hitam, baju lengan panjang warna putih dan rok hitam, wanita berusia 42 tahun itu terlihat kesakitan. Kaki kananya memakai sepatu hitam. Sedangkan, kaki kirinya tidak bersepatu. Terlihat telapak kaki diperban. Perempuan tersebut adalah Sulistyowati asal Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk. “Kena diabetes,” ujar Sulistyowati.

Kondisi Lis-panggilan akrab Sulistyowati tersebut membuat keluarganya tidak tega. Dia diantar Herlambang Bagas Ferlyanto, keponakan Lis saat berangkat tes kompetensi PPPK di Smasa. Bagas juga menuntun Lis saat naik tangga menuju ruang komputer untuk tes kompetensi PPPK. Karena ruang komputer ada di lantai dua. “Alhamdulillah bisa ikut tes PPPK. Semoga lulus,” harap guru SDN 1 Sukomoro ini.

Baca Juga :  Tiga Belas Pejabat Dilantik Bupati

Kondisi Lis yang kurang sehat membuat panitia tes PPPK juga kasihan. Beberapa kali, petugas meminta Lis beristirahat. Sehingga, perempuan yang masih belum menikah ini bisa beristirahat sejenak. Bagas juga dengan sabar mendampingi bibi yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri. Karena sejak kecil, dia dirawat Lis. Lis juga belum menikah. Jadi, Bagas juga dianggapnya seperti anak sendiri.

Perjuangan Lis menjadi PPPK ini menjadi semangat Bagas. Karena bibinya tetap berjuang. Dia berani bersaing dengan peserta tes PPPK yang sehat dan usianya jauh lebih muda. Padahal, secara kesehatan, Lis dalam kondisi yang tidak sehat akibat diabetes yang menyerangnya sejak tiga tahun lalu. “Semangat Bude Lis ini yang luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga :  Hanya Ada Tiga Pendaftar

Harapan Bagas, Lis bisa lolos tes PPPK. Karena harapan menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sudah tertutup. Usia Lis sudah di atas 35 tahun. Dia tidak bisa ikut tes CPNS. Hanya PPPK harapan satu-satunya. “Semoga bisa lolos dan jadi PPPK,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jawa Timur Edy Sukarno mengatakan, peserta tes PPPK tidak ada perlakuan yang istimewa kepada salah satu peserta. Semua dianggap sama. Karena tes PPPK mengggunakan sistem computer assisted test (CAT) atau tes berbasis komputer. Sehingga, objektif dan transparan. “Nilai langsung keluar setelah tes,” ujarnya.

Edy mengatakan, tes PPPK formasi guru di Kabupaten Nganjuk berjalan lancar. Tidak ada masalah serius. Peserta tes dan panitia tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) ketat untuk mencegah penularan Covid-19.

- Advertisement -

Ribuan guru berebut status PPPK. Gaji  yang didapat bisa lebih besar dari honor bulanan yang diterima saat ini menjadi motivasi para peserta tes PPPK. Apalagi, ada jaminan, mereka bisa mengabdi hingga usia 60 tahun jika diterima menjadi PPPK. Karena itu, meski banyak peserta yang sudah berusia senja atau sedang dalam kondisi tidak sehat tetapi mereka ngotot berangkat tes.

Seorang peserta tes PPPK dengan menggunakan kruk berjalan tertatih-tatih di SMAN 1 Nganjuk pada Kamis (16/9). Dengan memakai jilbab hitam, baju lengan panjang warna putih dan rok hitam, wanita berusia 42 tahun itu terlihat kesakitan. Kaki kananya memakai sepatu hitam. Sedangkan, kaki kirinya tidak bersepatu. Terlihat telapak kaki diperban. Perempuan tersebut adalah Sulistyowati asal Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk. “Kena diabetes,” ujar Sulistyowati.

Kondisi Lis-panggilan akrab Sulistyowati tersebut membuat keluarganya tidak tega. Dia diantar Herlambang Bagas Ferlyanto, keponakan Lis saat berangkat tes kompetensi PPPK di Smasa. Bagas juga menuntun Lis saat naik tangga menuju ruang komputer untuk tes kompetensi PPPK. Karena ruang komputer ada di lantai dua. “Alhamdulillah bisa ikut tes PPPK. Semoga lulus,” harap guru SDN 1 Sukomoro ini.

Baca Juga :  Ragu Penyimpanan, KPU Belum Distribusikan Kotak Suara

Kondisi Lis yang kurang sehat membuat panitia tes PPPK juga kasihan. Beberapa kali, petugas meminta Lis beristirahat. Sehingga, perempuan yang masih belum menikah ini bisa beristirahat sejenak. Bagas juga dengan sabar mendampingi bibi yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri. Karena sejak kecil, dia dirawat Lis. Lis juga belum menikah. Jadi, Bagas juga dianggapnya seperti anak sendiri.

Perjuangan Lis menjadi PPPK ini menjadi semangat Bagas. Karena bibinya tetap berjuang. Dia berani bersaing dengan peserta tes PPPK yang sehat dan usianya jauh lebih muda. Padahal, secara kesehatan, Lis dalam kondisi yang tidak sehat akibat diabetes yang menyerangnya sejak tiga tahun lalu. “Semangat Bude Lis ini yang luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga :  Truk Ringsek, Sopir Tewas

Harapan Bagas, Lis bisa lolos tes PPPK. Karena harapan menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sudah tertutup. Usia Lis sudah di atas 35 tahun. Dia tidak bisa ikut tes CPNS. Hanya PPPK harapan satu-satunya. “Semoga bisa lolos dan jadi PPPK,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jawa Timur Edy Sukarno mengatakan, peserta tes PPPK tidak ada perlakuan yang istimewa kepada salah satu peserta. Semua dianggap sama. Karena tes PPPK mengggunakan sistem computer assisted test (CAT) atau tes berbasis komputer. Sehingga, objektif dan transparan. “Nilai langsung keluar setelah tes,” ujarnya.

Edy mengatakan, tes PPPK formasi guru di Kabupaten Nganjuk berjalan lancar. Tidak ada masalah serius. Peserta tes dan panitia tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) ketat untuk mencegah penularan Covid-19.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/