24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Pasar Hewan Tak Tutup Lagi sampai Idul Adha

KOTA, JP Radar Kediri –  Para peternak dan pedagang hewan kurban bisa berlega hati. Pemkot Kediri memutuskan tak akan lagi melakukan penutupan pasar hewan setelah batas akhir pada 24 Juni nanti.

“Setelah itu (24 Juni, Red) kami upayakan dibuka untuk persiapan Hari Raya Idul Adha. Agar tidak ada penutupan pasar hewan lagi,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Mohammad Ridwan.

Penutupan saat ini sebagai upaya  menekan persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Karena penularannya sangat cepat ke hewan yang sehat. Sebagai upaya agar semua hewan kurban dalam kondisi sehat sebelum dijual.

Terkait dengan rencana pembukaan itu, pemkot juga akan melakukan beberapa kegiatan antisipasi. Selain penyemprotan disinfektan juga pembersihan area pasar. “Tidak hanya melakukan penyemprotan disinfektan, tapi juga akan melakukan kerja bakti. Kami upayakan agar ketika pasar hewan dibuka semua bisa steril,” terang mantan Camat Mojoroto ini.

Pihak DKPP akan mengeluarkan surat keterangan sehat yang memberi izin pemotongan hewan. Namun, surat itu tidak dapat dijadikan pengganti surat keterangan jual beli dari atau ke luar daerah. Hanya untuk penjualan dan pemotongan di wilayah Kota Kediri saat Idul Adha nanti.

Sementara itu, hingga kemarin sudah ada 147 kasus positif PMK di Kota Kediri. Rinciannya 97 kasus aktif dan 53 sembuh. Dalam upaya penyembuhan hewan, pihaknya terus memantau proses pengobatan yang terdiri dari pemberian antibiotik untuk infeksi sekunder, analgesik untuk rangkaian nyeri dan luka, serta multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Untuk melengkapi upaya tersebut, DKPP Kota Kediri juga selalu edukasi kepada para peternak mengenai prosedur penyembuhan PMK.

Baca Juga :  Libur Natal dan Tahun Baru: Arus Mengkreng Relatif Lancar

Sementara itu, dari Kabupaten Kediri, penutupan pasar hewan sebenarnya sudah berakhir kemarin (19/6). Namun, pemkab masih ragu untuk memutuskan akan memperpanjang atau tidak. Sedangkan di sisi lain, para pedagang dan peternak menunggu kebijakan pemkab membuka pasar.

Bagi para pedagang, penutupan pasar hewan membuat penjualan menjadi merosot. Apalagi aturan penjualan sapi dan kambing juga diperketat. Harus menggunakan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang berlaku hanya 24 jam.

“Ketika ada pasar sapi yang keluar kandang bisa sepuluh ekor. Sekarang nihil,” keluh Saiful Anam, pedagang asal Desa Cerme, Kecamatan Grogol.

Total, sudah 23 hari pasar-pasar hewan di Kabupaten Kediri tak beroperasi. Hingga kemarin mereka juga belum mendapat kejelasan apakah penutupan diperpanjang atau tidak. Dia dan pedagang lain berharap agar pasar kembali beroperasi seperti sedia kala.

Baca Juga :  Jatuhkan Pak Rokok Isi Sabu, Warga asal Sungaibalai Dibekuk Polisi

“Sampai sekarang (kemarin, Red), saya belum dapat info kapan pasar hewan akan dibuka,” aku kepala Desa Cerme ini.

Hal senada disampaikan Agus Mujiono, peternak asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem.  Menurutnya, sirkulasi hewan ternak akan lebih hidup jika pasar dibuka. “Sekarang penjualan jadi sepi,” akunya.

Pihak pemkab agaknya masih ragu untuk membuka pasar hewan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Tutik Purwaningsih, belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan nasib pasar hewan yang sudah hampir satu bulan ditutup.

“Sebentar, masih menunggu (kebijakan pasar hewan, Red). Ini masih zoom,” kata kepala dinas perempuan itu merespons pesan singkat lewat WhatsApp tadi malam.

Hingga pukul 19.05, kepala dinas berkacamata itu belum memberikan keterangan terkait dengan kebijakan Pemkab Kediri terkait pasar hewan. Namun, untuk antisipasi meningkatnya kasus PMK, Kabupaten Kediri sudah menyiapkan regulasi. Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mengeluarkan sapi dari kandang harus melalui proses cek kesehatan yang dilakukan tim teknis atau gugus tugas yang ada dokter hewannya.

Sapi yang dinyatakan sakit atau terifeksi PMK tidak bisa dibawa ke luar kandang. Baik ke lokasi rumah pemotongan hewan (RPH) hingga keluar masuk desa, kecamatan, dan antarkabupaten/kota di Jatim.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri –  Para peternak dan pedagang hewan kurban bisa berlega hati. Pemkot Kediri memutuskan tak akan lagi melakukan penutupan pasar hewan setelah batas akhir pada 24 Juni nanti.

“Setelah itu (24 Juni, Red) kami upayakan dibuka untuk persiapan Hari Raya Idul Adha. Agar tidak ada penutupan pasar hewan lagi,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Mohammad Ridwan.

Penutupan saat ini sebagai upaya  menekan persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Karena penularannya sangat cepat ke hewan yang sehat. Sebagai upaya agar semua hewan kurban dalam kondisi sehat sebelum dijual.

Terkait dengan rencana pembukaan itu, pemkot juga akan melakukan beberapa kegiatan antisipasi. Selain penyemprotan disinfektan juga pembersihan area pasar. “Tidak hanya melakukan penyemprotan disinfektan, tapi juga akan melakukan kerja bakti. Kami upayakan agar ketika pasar hewan dibuka semua bisa steril,” terang mantan Camat Mojoroto ini.

Pihak DKPP akan mengeluarkan surat keterangan sehat yang memberi izin pemotongan hewan. Namun, surat itu tidak dapat dijadikan pengganti surat keterangan jual beli dari atau ke luar daerah. Hanya untuk penjualan dan pemotongan di wilayah Kota Kediri saat Idul Adha nanti.

Sementara itu, hingga kemarin sudah ada 147 kasus positif PMK di Kota Kediri. Rinciannya 97 kasus aktif dan 53 sembuh. Dalam upaya penyembuhan hewan, pihaknya terus memantau proses pengobatan yang terdiri dari pemberian antibiotik untuk infeksi sekunder, analgesik untuk rangkaian nyeri dan luka, serta multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Untuk melengkapi upaya tersebut, DKPP Kota Kediri juga selalu edukasi kepada para peternak mengenai prosedur penyembuhan PMK.

Baca Juga :  Menganggur, Ratusan Orang di Kota Kediri Menjadi Penduduk Miskin

Sementara itu, dari Kabupaten Kediri, penutupan pasar hewan sebenarnya sudah berakhir kemarin (19/6). Namun, pemkab masih ragu untuk memutuskan akan memperpanjang atau tidak. Sedangkan di sisi lain, para pedagang dan peternak menunggu kebijakan pemkab membuka pasar.

Bagi para pedagang, penutupan pasar hewan membuat penjualan menjadi merosot. Apalagi aturan penjualan sapi dan kambing juga diperketat. Harus menggunakan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang berlaku hanya 24 jam.

“Ketika ada pasar sapi yang keluar kandang bisa sepuluh ekor. Sekarang nihil,” keluh Saiful Anam, pedagang asal Desa Cerme, Kecamatan Grogol.

Total, sudah 23 hari pasar-pasar hewan di Kabupaten Kediri tak beroperasi. Hingga kemarin mereka juga belum mendapat kejelasan apakah penutupan diperpanjang atau tidak. Dia dan pedagang lain berharap agar pasar kembali beroperasi seperti sedia kala.

Baca Juga :  Gampang Nabok, Bojone Mogok

“Sampai sekarang (kemarin, Red), saya belum dapat info kapan pasar hewan akan dibuka,” aku kepala Desa Cerme ini.

Hal senada disampaikan Agus Mujiono, peternak asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem.  Menurutnya, sirkulasi hewan ternak akan lebih hidup jika pasar dibuka. “Sekarang penjualan jadi sepi,” akunya.

Pihak pemkab agaknya masih ragu untuk membuka pasar hewan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Tutik Purwaningsih, belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan nasib pasar hewan yang sudah hampir satu bulan ditutup.

“Sebentar, masih menunggu (kebijakan pasar hewan, Red). Ini masih zoom,” kata kepala dinas perempuan itu merespons pesan singkat lewat WhatsApp tadi malam.

Hingga pukul 19.05, kepala dinas berkacamata itu belum memberikan keterangan terkait dengan kebijakan Pemkab Kediri terkait pasar hewan. Namun, untuk antisipasi meningkatnya kasus PMK, Kabupaten Kediri sudah menyiapkan regulasi. Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mengeluarkan sapi dari kandang harus melalui proses cek kesehatan yang dilakukan tim teknis atau gugus tugas yang ada dokter hewannya.

Sapi yang dinyatakan sakit atau terifeksi PMK tidak bisa dibawa ke luar kandang. Baik ke lokasi rumah pemotongan hewan (RPH) hingga keluar masuk desa, kecamatan, dan antarkabupaten/kota di Jatim.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/