22.6 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Korban Gelombang III Covid-19 di Kota Angin

Gelombang III Covid-19 harus diwaspadai. Meski tidak seganas saat gelombang pertama dan kedua, tetapi tetap bahaya. Buktinya, puluhan orang meninggal dunia dalam sebulan.

Tercatat 73 orang terkonfirmasi Covid-19 yang dilaporkan meninggal dunia selama pandemi gelombang III. Mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal dunia memiliki komorbid atau penyakit penyerta. “Terbanyak komorbidnya hipertensi dan diabetes,” ujar Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Nganjuk I Ketut Wijayadi saat dihubungi oleh Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, kasus meninggal dunia pada gelombang ketiga pandemi ini tercatat baru dilaporkan pada Jumat (11/2) lalu. Lalu, jumlah tersebut mengalami penambahan secara fluktuatif. Hingga akhirnya, mencapai puluhan korban setelah sekitar sebulan. Dari data persebaran Covid-19 pada Kamis (17/3), kasus meninggal dunia telah mencapai angka 73 kasus. “Mayoritas sudah lanjut usia,” imbuh pria yang akrab disapa Ikrom tersebut.

Baca Juga :  Lelah Kucing-kucingan, PKL Minta Buka SLG

Berkaca dari laporan tersebut, Ikrom mengimbau kepada warga Kota Angin terutama yang memiliki komorbid dan lansia untuk lebih berhati-hati. Pasalnya, mereka bakal lebih rentan untuk terpapar Covid-19. Bahkan, jika sudah terpapar pun potensi fatality rate  atau kematian lebih tinggi.

Untuk menghindari hal itu, Ikrom menyarankan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Terlebih untuk mereka yang merasa memiliki komorbid. Pola hidup sehat dan menjaga diri juga harus tetap dikedepankan. “Kami dari pemda juga terus menggencarkan vaksinasi,” tandas pria berdarah Bali tersebut.

Untuk diketahui, puncak kasus Covid-19 di Kabupaten Nganjuk pada gelombang ketiga ini diklaim telah terlewati. Dinkes mulai mencatat tren penurunan kasus Covid-19 setiap harinya. “Di sini puncak kasusnya terjadi pada akhir bulan lalu (Februari, Red). Sekarang tren kasusnya mulai menurun,” ujar Ikrom.

Baca Juga :  Siswa Wajib Rapid Test

Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan RI memprediksi puncak gelombang ketiga ini bakal terjadi akhir Februari atau awal Maret. Hanya saja, prediksi tersebut tidak menutup kemungkinan bakal berbeda di setiap daerah.

Puncak kasus pada gelombang ketiga di Kota Angin terjadi pada Selasa (22/2) lalu. Saat itu, kasus konfirmasi baru sempat mencapai 239 kasus. Namun, kondisi tersebut berangsur-angsur mengalami perubahan yang menggembirakan.

Dari data yang dihimpun koran ini, tren kasus aktif tersebut perlahan mulai mengalami penurunan sejak Rabu (2/3). Awal bulan Maret ini, dinkes mencatat angka kasus aktif sebanyak 433 kasus. Namun, kini tinggal sebanyak 289 kasus pada Minggu (13/3).

- Advertisement -

Gelombang III Covid-19 harus diwaspadai. Meski tidak seganas saat gelombang pertama dan kedua, tetapi tetap bahaya. Buktinya, puluhan orang meninggal dunia dalam sebulan.

Tercatat 73 orang terkonfirmasi Covid-19 yang dilaporkan meninggal dunia selama pandemi gelombang III. Mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal dunia memiliki komorbid atau penyakit penyerta. “Terbanyak komorbidnya hipertensi dan diabetes,” ujar Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Nganjuk I Ketut Wijayadi saat dihubungi oleh Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, kasus meninggal dunia pada gelombang ketiga pandemi ini tercatat baru dilaporkan pada Jumat (11/2) lalu. Lalu, jumlah tersebut mengalami penambahan secara fluktuatif. Hingga akhirnya, mencapai puluhan korban setelah sekitar sebulan. Dari data persebaran Covid-19 pada Kamis (17/3), kasus meninggal dunia telah mencapai angka 73 kasus. “Mayoritas sudah lanjut usia,” imbuh pria yang akrab disapa Ikrom tersebut.

Baca Juga :  Tak Lagi Minum Air Sungai

Berkaca dari laporan tersebut, Ikrom mengimbau kepada warga Kota Angin terutama yang memiliki komorbid dan lansia untuk lebih berhati-hati. Pasalnya, mereka bakal lebih rentan untuk terpapar Covid-19. Bahkan, jika sudah terpapar pun potensi fatality rate  atau kematian lebih tinggi.

Untuk menghindari hal itu, Ikrom menyarankan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Terlebih untuk mereka yang merasa memiliki komorbid. Pola hidup sehat dan menjaga diri juga harus tetap dikedepankan. “Kami dari pemda juga terus menggencarkan vaksinasi,” tandas pria berdarah Bali tersebut.

Untuk diketahui, puncak kasus Covid-19 di Kabupaten Nganjuk pada gelombang ketiga ini diklaim telah terlewati. Dinkes mulai mencatat tren penurunan kasus Covid-19 setiap harinya. “Di sini puncak kasusnya terjadi pada akhir bulan lalu (Februari, Red). Sekarang tren kasusnya mulai menurun,” ujar Ikrom.

Baca Juga :  Layang-layang Putus Akibatkan Listrik Padam

Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan RI memprediksi puncak gelombang ketiga ini bakal terjadi akhir Februari atau awal Maret. Hanya saja, prediksi tersebut tidak menutup kemungkinan bakal berbeda di setiap daerah.

Puncak kasus pada gelombang ketiga di Kota Angin terjadi pada Selasa (22/2) lalu. Saat itu, kasus konfirmasi baru sempat mencapai 239 kasus. Namun, kondisi tersebut berangsur-angsur mengalami perubahan yang menggembirakan.

Dari data yang dihimpun koran ini, tren kasus aktif tersebut perlahan mulai mengalami penurunan sejak Rabu (2/3). Awal bulan Maret ini, dinkes mencatat angka kasus aktif sebanyak 433 kasus. Namun, kini tinggal sebanyak 289 kasus pada Minggu (13/3).

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/