27.1 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Rawan! Separo Perlintasan Kereta Api di Kediri Tak Terjaga

KOTA, JP Radar Kediri – Perlintasan kereta api (KA) di Kota Kediri rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Penyebabnya sebagian besar perlintasan kereta api itu justru tak ada penjaganya. Hanya dilengkapi early warning system (EWS).

Berdasarkan data dari PT KAI Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, di Kota Kediri terdapat 17 perlintasan sebidang. Dari jumlah itu, separo lebih hanya mengandalkan EWS, tanpa ada penjaganya. Di perlintasan-perlintasan inilah yang rawan terjadi kecelakaan.

Menurut Kepala Daop 7 Madiun Wisnu Pramudyo, total ada 323 perlintasan KA di wilayahnya. Meliputi Kota dan Kabupaten Kediri, Jombang, Nganjuk, serta Kota dan Kabupaten Madiun. Dari jumlah itu, 268 titik merupakan perlintasan sebidang. “Yang lain ada 58 perlintasan tidak sebidang. Berarti lewat flyover atau underpass,” kata Wisnu usai kegiatan sosialisasi terpadu keselamatan di perlintasan sebidang di Stasiun Kota Kediri kemarin.

Yang membuat khawatir, kata Wisnu, dari ratusan perlintasan di Daop 7, hanya 77 perlintasan yang terjaga. Sisanya berarti tidak dijaga atau dipasang alat EWS.

Untuk Kota Kediri, berdasar data Daop 7, total jumlah perlintasan sebanyak  17 titik. Semuanya berkategori perlintasan sebidang. Dari jumlah itu, 9 perlintasan di antaranya tidak dijaga. Dua perlintasan di Manisrenggo dipasang EWS. Adapun satu perlintasan di kelurahan yang sama sudah ditutup sejak 2017.       

Baca Juga :  Cegah Korona, 850 Santri Ponpes Mojosari Dipulangkan

Karena itulah, perlintasan tersebut sangat rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Baik yang melibatkan KA dengan mobil atau motor maupun pejalan kaki. “Dari beberapa kasus kecelakaan, mobil dan sepeda motor yang tertinggi,” katanya.

Dia mengakui kecelakaan masih sering terjadi di perlintasan wilayah Daop 7. Pada 2017, jumlah angka kecelakaan di perlintasan sebanyak 94 kasus. Sebenarnya dibanding tahun ini, jumlah kasusnya turun sampai 50 persen. “Tahun ini ada 36 kasus dengan 15 nyawa melayang,” ungkap Wisnu.

Meski terjadi penurunan,        Wisnu mengatakan, perlintasan sebidang harus tetap diwaspadai. Untuk itu, pihaknya terus berupaya memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Termasuk kemarin, PT KAI bersama beberapa instasi seperti kepolisian, dinas perhubungan (dishub), dan jasa raharja menggelar sosialisasi di sejumlah perlintasan Kota dan Kabupaten Kediri.

Mereka memasang spanduk peringatan di dekat pintu perlintasan. Kemarin, selain di perlintasan Jalan Hayam Wuruk, spanduk juga dipasang di Kelurahan Dandangan, Kota Kediri, dan Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Pasar Hawan Buka, Pedagang Enggan Berjualan

Melalui sosialisasi tersebut, pihaknya berharap masyarakat bisa mematuhi rambu-rambu di perlintasan. Agar mereka lebih berhati-hati sebelum melintas. “Harus mendahulukan perjalanan kereta api,” katanya.

Selain upaya preventif, Wisnu mengatakan, pihaknya juga berusaha untuk menutup perlintasan liar atau tidak terjaga. Itu sesuai dengan amanat UU Nomor 23/2007 tentang Perkerataapian. Di pasal 94 berbunyi, untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup. “Nanti  menjadi tugas Pemerintah Pusat dan daerah. Kami (KAI) akan terus mendorong upaya tersebut,” ungkapnya.

Dalam setahun terakhir, kata Wisnu, ada 84 perlintasann tidak resmi yang ditutup. Meskipun pada prosesnya, PT KAI sering mendapat penolakan dari masyarakat. “Ada masyarakat yang kerap melakukan penolakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Kediri AKP Hendry Ibnu Indarto mengatakan, masyarakat harus mematuhi rambu-rambu di perlintasan. Pasalnya, selain berisiko terjadi kecelakaan, mereka juga terancam terkena sanksi hukum. “Setelah ada sosialisasi ini, kami akan melakukan penindakan bagi yang melanggar,” katanya.

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Perlintasan kereta api (KA) di Kota Kediri rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Penyebabnya sebagian besar perlintasan kereta api itu justru tak ada penjaganya. Hanya dilengkapi early warning system (EWS).

Berdasarkan data dari PT KAI Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, di Kota Kediri terdapat 17 perlintasan sebidang. Dari jumlah itu, separo lebih hanya mengandalkan EWS, tanpa ada penjaganya. Di perlintasan-perlintasan inilah yang rawan terjadi kecelakaan.

Menurut Kepala Daop 7 Madiun Wisnu Pramudyo, total ada 323 perlintasan KA di wilayahnya. Meliputi Kota dan Kabupaten Kediri, Jombang, Nganjuk, serta Kota dan Kabupaten Madiun. Dari jumlah itu, 268 titik merupakan perlintasan sebidang. “Yang lain ada 58 perlintasan tidak sebidang. Berarti lewat flyover atau underpass,” kata Wisnu usai kegiatan sosialisasi terpadu keselamatan di perlintasan sebidang di Stasiun Kota Kediri kemarin.

Yang membuat khawatir, kata Wisnu, dari ratusan perlintasan di Daop 7, hanya 77 perlintasan yang terjaga. Sisanya berarti tidak dijaga atau dipasang alat EWS.

Untuk Kota Kediri, berdasar data Daop 7, total jumlah perlintasan sebanyak  17 titik. Semuanya berkategori perlintasan sebidang. Dari jumlah itu, 9 perlintasan di antaranya tidak dijaga. Dua perlintasan di Manisrenggo dipasang EWS. Adapun satu perlintasan di kelurahan yang sama sudah ditutup sejak 2017.       

Baca Juga :  Ganti Ratusan Lampu dan Tiang PJU

Karena itulah, perlintasan tersebut sangat rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Baik yang melibatkan KA dengan mobil atau motor maupun pejalan kaki. “Dari beberapa kasus kecelakaan, mobil dan sepeda motor yang tertinggi,” katanya.

Dia mengakui kecelakaan masih sering terjadi di perlintasan wilayah Daop 7. Pada 2017, jumlah angka kecelakaan di perlintasan sebanyak 94 kasus. Sebenarnya dibanding tahun ini, jumlah kasusnya turun sampai 50 persen. “Tahun ini ada 36 kasus dengan 15 nyawa melayang,” ungkap Wisnu.

Meski terjadi penurunan,        Wisnu mengatakan, perlintasan sebidang harus tetap diwaspadai. Untuk itu, pihaknya terus berupaya memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Termasuk kemarin, PT KAI bersama beberapa instasi seperti kepolisian, dinas perhubungan (dishub), dan jasa raharja menggelar sosialisasi di sejumlah perlintasan Kota dan Kabupaten Kediri.

Mereka memasang spanduk peringatan di dekat pintu perlintasan. Kemarin, selain di perlintasan Jalan Hayam Wuruk, spanduk juga dipasang di Kelurahan Dandangan, Kota Kediri, dan Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Mengenal Railfans 68, Komunitas Pecinta Kereta Api di Kediri

Melalui sosialisasi tersebut, pihaknya berharap masyarakat bisa mematuhi rambu-rambu di perlintasan. Agar mereka lebih berhati-hati sebelum melintas. “Harus mendahulukan perjalanan kereta api,” katanya.

Selain upaya preventif, Wisnu mengatakan, pihaknya juga berusaha untuk menutup perlintasan liar atau tidak terjaga. Itu sesuai dengan amanat UU Nomor 23/2007 tentang Perkerataapian. Di pasal 94 berbunyi, untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup. “Nanti  menjadi tugas Pemerintah Pusat dan daerah. Kami (KAI) akan terus mendorong upaya tersebut,” ungkapnya.

Dalam setahun terakhir, kata Wisnu, ada 84 perlintasann tidak resmi yang ditutup. Meskipun pada prosesnya, PT KAI sering mendapat penolakan dari masyarakat. “Ada masyarakat yang kerap melakukan penolakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Kediri AKP Hendry Ibnu Indarto mengatakan, masyarakat harus mematuhi rambu-rambu di perlintasan. Pasalnya, selain berisiko terjadi kecelakaan, mereka juga terancam terkena sanksi hukum. “Setelah ada sosialisasi ini, kami akan melakukan penindakan bagi yang melanggar,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/