24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Kerja Keras Poktan Sapi Ngadimulyo Cegah Penularan PMK

Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) meresahkan Kelompok Tani (Poktan) Sapi Ngadimulyo, Ngadiluwih. Mereka pun menggelontor hewan ternaknya dengan rumput hijau agar imunitasnya membaik dan tidak terpapar virus.

Sejak 2021 lalu, peternak sapi di Desa/Kecamatan Ngadiluwih tidak lagi merawat hewan ternaknya sendiri-sendiri. Mereka membentuk kelompok tani beranggotakan 20 orang. Setahun berselang, pertenakan model komunal itu diuji dengan merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).

          Tak ingin hewan yang dipelihara bersama-sama itu sakit dan mati, puluhan orang tersebut kompak melakukan antisipasi. Hal itu terlihat saat Bupati Hanindhito Himawan Pramana dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengecek peternakan sekitar pukul 13.00, Selasa (17/5) lalu. “Sekarang kami lebih ekstra menjaga kebersihan kandang,” tutur Ketua Pontan Ngadimulyo, Ngadiluwih, Mat Sujud.

          Sebelum PMK kembali merebak, mereka hanya menyemprot disinfektan sekali seminggu. Adapun sekarang penyemprotan bisa dilakukan dua hari sekali. Mereka juga melibatkan DKPP untuk pemeriksaan kesehatan dan pengobatannya.

          Jika ada sapi yang sakit, mereka tinggal mengontak dokter hewan untuk mengobatinya. Sujud mencontohkan ketika banyak sapi di kandangnya yang menderita luka di dekat mata. “Itu bukan ciri-ciri PMK. Cukup diberi salep bisa sembuh,” lanjutnya lega.

          Selama beberapa minggu ke depan, Sujud dan puluhan peternak lain sepakat untuk menjaga hewan peliharaan mereka lebih ketat lagi. Para pemilik sapi tak ingin hewan peliharaannya sakit jelang panen: Idul Adha.

Baca Juga :  Bandara Proyek Strategis Nasional

          Momen hari raya Idul Adha tahun ini adalah yang paling ditunggu-tunggu anggota Poktan Ngadimulyo, Ngadiluwih. Maklum saja, sejak dibentuk 2021 lalu, mereka baru bisa menjual ternaknya tahun ini. “Pokoknya kandang wajib bersih agar hewan sehat,” jelasnya.

          Dia sudah mewanti-wanti anggota agar jangan sampai ada kotoran yang menumpuk. Alternatifnya, kotoran sapi di sana diubah menjadi biogas yang dimanfaatkan oleh beberapa warga di Desa/Kecamatan Ngadiluwih.

          Tidak hanya soal kebersihan, mereka juga mengatur pakan dengan baik. Jika biasanya rumput hijau untuk pakan hanya 2,5 ton, sekarang ditambah menjadi 3 ton setiap hari. “Apalagi ada sapi yang sedang menyusui, pakannya harus lebih banyak lagi,” paparnya.

Selain rumput hijau, mereka juga menggelontor sentrat dan bonggol singkong. Seperti manusia, waktu makan sapi-sapi peliharaan mereka tidak boleh telat. Sebab, semuanya berpengaruh pada imunitas atau daya tahan tubuh sapi.

Dengan beberapa upaya tersebut, Sujud berharap hewan ternak peliharaan mereka bisa benar-benar terhindar dari PMK. Selebihnya, mereka juga mengantisipasi masuknya sapi dari luar.

Hal tersebut berlaku juga bagi manusia. “Kandang harus benar-benar steril dari virus,” sambung Sekretaris Poktan Ngadimulyo Nuryatim yang mengaku tak pernah berhenti membersihkan kotoran.

Baca Juga :  Direktur-Direktur PDAU Nganjuk Deg-degan

Pekerjaan itu diakuinya cukup menguras tenaga. Sebab, jumlah sapi di kandang yang luasnya kurang dari satu hektare itu mencapai 135 ekor sapi. Terdiri dari 100 ekor sapi jantan dan 35 ekor sapi betina.

Sapi berjenis limousin, metal, brahman, dan sapi madura itu menurut Nuryatim memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Peternak pun harus sangat memahaminya. “Kami harus menjaga sapi tetap sehat agar harganya tetap bagus. Ini juga masih ada pembeli yang memesan sapi untuk persiapan Idul Adha,” jelasnya.

 Hingga kemarin, total ada 14 ekor sapi yang sudah dipesan. Dia bersyukur harganya tetap stabil Rp 56 ribu per kilogram meski saat ini PMK tengah merebak. Pria berusia 50 tahun itu berharap penyakit yang penularannya cepat itu tidak sampai masuk Kabupaten Kediri.

“Kalau sudah ada yang terpapar nanti bisa memengaruhi harga,” tutur Nuryatim khawatir. Ketakutan itu pula yang membuat anggota kelompok kompak menjaga kebersihan kandang.

          Kesigapan Poktan Ngadimulyo diapresiasi oleh Kepala DKPP Tutik Purwaningsih. Menurutnya, langkah poktan tersebut bisa jadi percontohan. Dinas siap melakukan pendampingan mulai dari pengelolaan pakan, kandang, hingga pemeriksaan kesehatan. “Kami dukung terus,” bebernya. (ut)

 

- Advertisement -

Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) meresahkan Kelompok Tani (Poktan) Sapi Ngadimulyo, Ngadiluwih. Mereka pun menggelontor hewan ternaknya dengan rumput hijau agar imunitasnya membaik dan tidak terpapar virus.

Sejak 2021 lalu, peternak sapi di Desa/Kecamatan Ngadiluwih tidak lagi merawat hewan ternaknya sendiri-sendiri. Mereka membentuk kelompok tani beranggotakan 20 orang. Setahun berselang, pertenakan model komunal itu diuji dengan merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).

          Tak ingin hewan yang dipelihara bersama-sama itu sakit dan mati, puluhan orang tersebut kompak melakukan antisipasi. Hal itu terlihat saat Bupati Hanindhito Himawan Pramana dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengecek peternakan sekitar pukul 13.00, Selasa (17/5) lalu. “Sekarang kami lebih ekstra menjaga kebersihan kandang,” tutur Ketua Pontan Ngadimulyo, Ngadiluwih, Mat Sujud.

          Sebelum PMK kembali merebak, mereka hanya menyemprot disinfektan sekali seminggu. Adapun sekarang penyemprotan bisa dilakukan dua hari sekali. Mereka juga melibatkan DKPP untuk pemeriksaan kesehatan dan pengobatannya.

          Jika ada sapi yang sakit, mereka tinggal mengontak dokter hewan untuk mengobatinya. Sujud mencontohkan ketika banyak sapi di kandangnya yang menderita luka di dekat mata. “Itu bukan ciri-ciri PMK. Cukup diberi salep bisa sembuh,” lanjutnya lega.

          Selama beberapa minggu ke depan, Sujud dan puluhan peternak lain sepakat untuk menjaga hewan peliharaan mereka lebih ketat lagi. Para pemilik sapi tak ingin hewan peliharaannya sakit jelang panen: Idul Adha.

Baca Juga :  60 Hektare Sawah Terendam Banjir

          Momen hari raya Idul Adha tahun ini adalah yang paling ditunggu-tunggu anggota Poktan Ngadimulyo, Ngadiluwih. Maklum saja, sejak dibentuk 2021 lalu, mereka baru bisa menjual ternaknya tahun ini. “Pokoknya kandang wajib bersih agar hewan sehat,” jelasnya.

          Dia sudah mewanti-wanti anggota agar jangan sampai ada kotoran yang menumpuk. Alternatifnya, kotoran sapi di sana diubah menjadi biogas yang dimanfaatkan oleh beberapa warga di Desa/Kecamatan Ngadiluwih.

          Tidak hanya soal kebersihan, mereka juga mengatur pakan dengan baik. Jika biasanya rumput hijau untuk pakan hanya 2,5 ton, sekarang ditambah menjadi 3 ton setiap hari. “Apalagi ada sapi yang sedang menyusui, pakannya harus lebih banyak lagi,” paparnya.

Selain rumput hijau, mereka juga menggelontor sentrat dan bonggol singkong. Seperti manusia, waktu makan sapi-sapi peliharaan mereka tidak boleh telat. Sebab, semuanya berpengaruh pada imunitas atau daya tahan tubuh sapi.

Dengan beberapa upaya tersebut, Sujud berharap hewan ternak peliharaan mereka bisa benar-benar terhindar dari PMK. Selebihnya, mereka juga mengantisipasi masuknya sapi dari luar.

Hal tersebut berlaku juga bagi manusia. “Kandang harus benar-benar steril dari virus,” sambung Sekretaris Poktan Ngadimulyo Nuryatim yang mengaku tak pernah berhenti membersihkan kotoran.

Baca Juga :  Obat Penyakit Kuku Langka di Pasaran

Pekerjaan itu diakuinya cukup menguras tenaga. Sebab, jumlah sapi di kandang yang luasnya kurang dari satu hektare itu mencapai 135 ekor sapi. Terdiri dari 100 ekor sapi jantan dan 35 ekor sapi betina.

Sapi berjenis limousin, metal, brahman, dan sapi madura itu menurut Nuryatim memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Peternak pun harus sangat memahaminya. “Kami harus menjaga sapi tetap sehat agar harganya tetap bagus. Ini juga masih ada pembeli yang memesan sapi untuk persiapan Idul Adha,” jelasnya.

 Hingga kemarin, total ada 14 ekor sapi yang sudah dipesan. Dia bersyukur harganya tetap stabil Rp 56 ribu per kilogram meski saat ini PMK tengah merebak. Pria berusia 50 tahun itu berharap penyakit yang penularannya cepat itu tidak sampai masuk Kabupaten Kediri.

“Kalau sudah ada yang terpapar nanti bisa memengaruhi harga,” tutur Nuryatim khawatir. Ketakutan itu pula yang membuat anggota kelompok kompak menjaga kebersihan kandang.

          Kesigapan Poktan Ngadimulyo diapresiasi oleh Kepala DKPP Tutik Purwaningsih. Menurutnya, langkah poktan tersebut bisa jadi percontohan. Dinas siap melakukan pendampingan mulai dari pengelolaan pakan, kandang, hingga pemeriksaan kesehatan. “Kami dukung terus,” bebernya. (ut)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/