24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Pasien Suspek Lebih Pilih Isoman

KOTA, JP Radar Kediri – Orang yang punya kriteria Covid-19 seperti gejala gangguan infeksi saluran pernapasan dan demam di atas 38 derajat Celsius biasa disebut suspek. Begitu juga dengan orang yang sudah kontak erat dengan pasien Covid-19 selama 14 hari tergolong suspek.

Hingga kemarin, angka kasus suspek di Kota Kediri ini terus menanjak.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima, jumlah terbaru pasien dengan kasus suspek ada 14 orang. Hingga kini totalnya mencapai 151 kasus.

“Mayoritas pasien suspek ini memilih menjalani perawatan isolasi mandiri (isoman),” katanya.

Jumlah pasien suspek yang dirawat di rumah sakit rujukan dan darurat ada 19 orang. Sedangkan yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah sebanyak 83 orang.

Mereka itu ada yang gejalanya menyerupai Covid-19 dan yang kontak erat dengan pasien positif, tetapi tidak ada gejala. Sejauh ini, Fauzan mengungkapkan, mereka yang menjalani perawatan di rumah adalah pasien yang tidak memiliki gejala. Namun mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien positif bahkan probabel.

Dari jumlah yang pasien yang sudah terdeteksi kontak erat dan punya gejala menyerupai Covid-19 harus dilaksanakan swab test. Kemarin, tambahan jumlah pasien yang menjalani swab terbaru sebanyak 16 orang. Namun, hasilnya masih menunggu.

Baca Juga :  Jelang Penanaman, Petani Kesulitan Cari Pupuk

Kemudian untuk rapid test,menurut Fauzan, yang melaksanakan ada sebanyak 101 orang. Dari sana yang reaktif dipastikan sebanyak 45 orang. Mereka yang reaktif tersebut akan ditindak lanjut dengan swab test.

Banyaknya pasien suspek ditambah dengan kasus reaktif menjadi peringatan bagi warga di Kota Kediri agar lebih waspada dan berhati-hati. “Walau kami sudah berupaya melakukan pencegahan, kalau warga tidak disiplin menjaga prokes maka hasilnya sia-sia,” papar Fauzan.

Dia terus mengingatkan agar tetap waspada sebab sampai sekarang di Kota Kediri belum keluar dari zona oranye. Sejauh ini, skornya masih 2,27 zona oranye. Artinya, status di Kota Kediri ini masih risiko sedang.

Sampai kemarin (18/4) konfirmasinya ada 1.324 kasus. Ada tambahan dua orang yang terpapar korona. Kemudian yang aktif tapi masih dalam pemantauan sebanyak tujuh orang. Meski tinggal sedikit yang dipantau, angka kematian akibat korona di Kota Tahu ini masih tetap tinggi. Yakni sebanyak 10,73 persen. Jumlah orang yang meninggal akibat korona sebanyak 142 kasus.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus kesembuhan di Kota Tahu masih lebih rendah dari Provinsi Jatim. Sedangkan kasus kematiannya lebih tinggi. Kesembuhan pasien Covid-19 Jatim mencapai 91,46 persen dan rata-rata kematian 7,19 persen. Sedangkan Kota Kediri rata-rata kesembuhannya baru 88,41 persen dan kasus kematian lebih dari 10 persen.

Baca Juga :  Tarawih, Kapasitas Masjid di Kota Kediri Hanya 75 Persen

Sementara itu, di Kabupaten Kediri juga masih masuk zona oranye. Karena itu, pemkab pun melarang pedagang takjil yang menjamur saat Ramadan berjualan di jalan umum. Bupati Hanindhito Himawan Pramana menegaskan, Ramadan kali pedagang takjil diperbolehkan berjualan dengan ketentuan tidak boleh di jalan-jalan umum. Pun dilarang bergerombol.

“Tidak berjualan di tempat-tempat yang menjadi fasilitas umum,” tegasnya usai acara Jumat Ngopi (16/4).

Pelarangan tersebut ditujukan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Terlebih saat ini Kabupaten Kediri masih berada di zona oranye. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, sejak Senin (11/4) sampai Sabtu (17/4) tren kesembuhan pasien Covid-19 mengalami kenaikan signifikan. Berkisar 7 sampai 12 orang setiap harinya.

Hal tersebut sejalan dengan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri (RSKK) menurun 60 persen. Per 16 April lalu total ada 14 pasien. “Itu terdiri atas 10 pasien perempuan dan 4 laki-laki,” terang Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat RSKK Ahsin Usman. (rq/c2/ndr)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri – Orang yang punya kriteria Covid-19 seperti gejala gangguan infeksi saluran pernapasan dan demam di atas 38 derajat Celsius biasa disebut suspek. Begitu juga dengan orang yang sudah kontak erat dengan pasien Covid-19 selama 14 hari tergolong suspek.

Hingga kemarin, angka kasus suspek di Kota Kediri ini terus menanjak.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima, jumlah terbaru pasien dengan kasus suspek ada 14 orang. Hingga kini totalnya mencapai 151 kasus.

“Mayoritas pasien suspek ini memilih menjalani perawatan isolasi mandiri (isoman),” katanya.

Jumlah pasien suspek yang dirawat di rumah sakit rujukan dan darurat ada 19 orang. Sedangkan yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah sebanyak 83 orang.

Mereka itu ada yang gejalanya menyerupai Covid-19 dan yang kontak erat dengan pasien positif, tetapi tidak ada gejala. Sejauh ini, Fauzan mengungkapkan, mereka yang menjalani perawatan di rumah adalah pasien yang tidak memiliki gejala. Namun mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien positif bahkan probabel.

Dari jumlah yang pasien yang sudah terdeteksi kontak erat dan punya gejala menyerupai Covid-19 harus dilaksanakan swab test. Kemarin, tambahan jumlah pasien yang menjalani swab terbaru sebanyak 16 orang. Namun, hasilnya masih menunggu.

Baca Juga :  Nestapa Lansia tanpa Dokumen Kependudukan

Kemudian untuk rapid test,menurut Fauzan, yang melaksanakan ada sebanyak 101 orang. Dari sana yang reaktif dipastikan sebanyak 45 orang. Mereka yang reaktif tersebut akan ditindak lanjut dengan swab test.

Banyaknya pasien suspek ditambah dengan kasus reaktif menjadi peringatan bagi warga di Kota Kediri agar lebih waspada dan berhati-hati. “Walau kami sudah berupaya melakukan pencegahan, kalau warga tidak disiplin menjaga prokes maka hasilnya sia-sia,” papar Fauzan.

Dia terus mengingatkan agar tetap waspada sebab sampai sekarang di Kota Kediri belum keluar dari zona oranye. Sejauh ini, skornya masih 2,27 zona oranye. Artinya, status di Kota Kediri ini masih risiko sedang.

Sampai kemarin (18/4) konfirmasinya ada 1.324 kasus. Ada tambahan dua orang yang terpapar korona. Kemudian yang aktif tapi masih dalam pemantauan sebanyak tujuh orang. Meski tinggal sedikit yang dipantau, angka kematian akibat korona di Kota Tahu ini masih tetap tinggi. Yakni sebanyak 10,73 persen. Jumlah orang yang meninggal akibat korona sebanyak 142 kasus.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus kesembuhan di Kota Tahu masih lebih rendah dari Provinsi Jatim. Sedangkan kasus kematiannya lebih tinggi. Kesembuhan pasien Covid-19 Jatim mencapai 91,46 persen dan rata-rata kematian 7,19 persen. Sedangkan Kota Kediri rata-rata kesembuhannya baru 88,41 persen dan kasus kematian lebih dari 10 persen.

Baca Juga :  Raih Empat Gelar, MAN 1 Kota Kediri Juara Umum SC XII

Sementara itu, di Kabupaten Kediri juga masih masuk zona oranye. Karena itu, pemkab pun melarang pedagang takjil yang menjamur saat Ramadan berjualan di jalan umum. Bupati Hanindhito Himawan Pramana menegaskan, Ramadan kali pedagang takjil diperbolehkan berjualan dengan ketentuan tidak boleh di jalan-jalan umum. Pun dilarang bergerombol.

“Tidak berjualan di tempat-tempat yang menjadi fasilitas umum,” tegasnya usai acara Jumat Ngopi (16/4).

Pelarangan tersebut ditujukan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Terlebih saat ini Kabupaten Kediri masih berada di zona oranye. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, sejak Senin (11/4) sampai Sabtu (17/4) tren kesembuhan pasien Covid-19 mengalami kenaikan signifikan. Berkisar 7 sampai 12 orang setiap harinya.

Hal tersebut sejalan dengan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri (RSKK) menurun 60 persen. Per 16 April lalu total ada 14 pasien. “Itu terdiri atas 10 pasien perempuan dan 4 laki-laki,” terang Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat RSKK Ahsin Usman. (rq/c2/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/