26 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Darurat! RS Nur Aini Kediri Harus Beroperasi Pekan Ini

- Advertisement -

KEDIRI – Rencana launching rumah sakit darurat untuk pasien Covid-19 di Kabupaten Kediri, RS Nur Aini Tulungrejo, kemarin belum terealisasi. Namun, pemkab menargetkan pengoperasian rumah sakit di Jalan Yos Sudarso Tulungrejo, Kecamatan Pare harus berlangsung minggu ini.

Mengapa RS Nur Aini belum bisa beroperasi kemarin? Kesiapan sarana dan prasarana pendukung yang jadi alasan. Dinas kesehatan juga baru mengumumkan siapa saja petugas dan tenaga medis yang lolos seleksi. 

“Kami upayakan (beroperasi) minggu ini,” terang Plt Kadinkes dr Bambang Triyono Putro. 

Bambang menegaskan, upaya itu terkait banyaknya pasien Covid-19 yang membutuhkan perawatan. Meskipun untuk sementara ini daya tampung rumah sakit darurat tersebut hanya 25 tempat tidur. Di bawah rencana awal yang bisa menampung 100 pasien.

Sejauh ini Pemkab Kediri terus melakukan persiapan beroperasinya RS Nur Aini sebagai rumah sakit darurat Covid-19. Kemarin bed atau kasur mulai didatangkan. Sumber daya manusia (SDM) juga disiapkan.

- Advertisement -

“Untuk saat ini masih tahap penyiapan karena ada beberapa sarpras yang harus dilengkapi, termasuk SOP penanganan pasien covid yang dirawat di RS Darurat ini. Kami harap dalam waktu dekat bisa segera dioperasikan,” aku Bambang.

Bupati Kediri Haryanti kemarin juga melakukan peninjauan langsung  ke rumah sakit ini. Bupati juga mendorong agar segera beroperasi. Menjadi rumah sakit penyangga RS rujukan Covid-19 di Kabupaten Kediri yang sering overload.

Menurut Haryanti, rencana awal, pasien yang dirawat di rumah sakit darurat ini adalah yang memiliki gejala ringan dan sedang. Sehingga pasien dengan gejala berat dapat dirawat secara maksimal di rumah sakit rujukan. Saat ini rumah sakit rujukan korona di Kabupaten Kediri adalah RSUD Kabupaten Kediri (RSKK), RSUD SLG, dan RS HVA Toeloengredjo, Pare. 

Baca Juga :  Push Up atau Lafalkan Pancasila

Sementara itu, penerapan pembatasan pelaksanaan kegiatan masyarakat (PPKM) makin diketatkan. Operasi yustisi yang sebelumnya hanya siang hari kini ditambah di malam hari. Terutama di wilayah Pare.

Beberapa jalan di wilayah Pare masih ditutup. Seperti Jalan Panglima Besar Soedirman hingga Jalan Ahmad Yani. “Untuk mencegah adanya kerumunan saat malam hari, kedua jalan tersebut ditutup mulai jam delapan malam (20.00 WIB, Red),”terang Kabag Ops Polres Kediri Kompol Didik Warsianto.

Selainmenutup jalan tersbeut, segala pusat perbelanjaan dan warung juga diberi batas waktu buka hingga pukul 19.00. Di saat itulah tim gabungan yang terdiri dari petugas satpol PP, TNI, dan polisi melakukan operasi yustisi.

Yustisi siang hari dilakukan pada pukul 09.00 hingga pukul 11.00. Sedangkan yang malam hari berlangsung mulai dari pukul 20.00 sampai pukul 22.00. Saat operasi Minggu (17/1) petugas menemukan 18 pelanggar yang tidak menggunakan masker. 

Beberapa orang terkena sanksi. Lima orang disanksi administrasi, satu orang membayar uang, dan empat orang membayar denda masker sebanyak 20 biji. Dan satu orang dikenai sanksi sosial dengan menyapu fasilitas umum. Sedangkan 12 orang lainnya mendapatkan sanksi teguran lisan karena tidak memakai masker secara benar. 

Sedangkan siang kemarin (18/1) operasi yustisi berlangsung di Jalan dokter Sutomo Pare. Sebanyak 77 orang terazia karena tidak memakai masker.

Baca Juga :  Stok Golongan Darah AB di PMI Nganjuk Menipis

Selain menindak pelanggar protokol, Didik menjelaskan juga memberikan sanksi bagi pemilik warung atau pusat perbelanjaan. Terutama bagi pemilik yang nekat buka dari waktu yang telah ditentukan dan tidak mengingatkan pengunjung mematuhi prokes. “Jika ada yang melanggar kami akan lakukan tindakan penutupan dengan paksa,”imbuhnya. Di Kota Kediri, berbagai upaya juga digalakkan untuk mengurangi potensi penularan korona. Dinsos misalnya, membagikan ribuan masker di 25 titik. Mereka juga secara berkala menyalurkan sembako bagi yang menjalani isolasi mandiri.

 “Kami melihat para tukang becak itu kerap kali mengenakan masker yang harus sekali pakai, tapi dipakai berhari-hari. Kami juga melihat masker kain hanya punya satu. Jadi kami bagikan supaya mereka bisa ganti-ganti,” papar Kepala Dinsos Kota Kediri Triyono Kutut.

Demikian pula satpol PP yang terus melaksanakan operasi yustisi bersama unsur kejari, TNI, dan Polri. Dalam operasi itu mereka masih menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna jalan. 

“Sebagai sanksi para pelanggar ini langsung melakukan sidang di tempat bersama dengan Kejaksaan Negeri Kota Kediri,” tutur Kepala Satpol PP Eko Lukmono.

Para pelanggar akan dikenakan denda tergantung kesalahannya. Namun petugas juga memberi sosialisasi dan edukasi. Harapannya agar pelanggar tidak mengulanginya.

“Kita harus tetap selalu waspada terhadap Covid-19, apalagi berdasarkan keputusan Gubernur saat ini Kota Kediri dikelilingi zona merah,” pungkas Eko. (din/luk/tar/fud)

- Advertisement -

KEDIRI – Rencana launching rumah sakit darurat untuk pasien Covid-19 di Kabupaten Kediri, RS Nur Aini Tulungrejo, kemarin belum terealisasi. Namun, pemkab menargetkan pengoperasian rumah sakit di Jalan Yos Sudarso Tulungrejo, Kecamatan Pare harus berlangsung minggu ini.

Mengapa RS Nur Aini belum bisa beroperasi kemarin? Kesiapan sarana dan prasarana pendukung yang jadi alasan. Dinas kesehatan juga baru mengumumkan siapa saja petugas dan tenaga medis yang lolos seleksi. 

“Kami upayakan (beroperasi) minggu ini,” terang Plt Kadinkes dr Bambang Triyono Putro. 

Bambang menegaskan, upaya itu terkait banyaknya pasien Covid-19 yang membutuhkan perawatan. Meskipun untuk sementara ini daya tampung rumah sakit darurat tersebut hanya 25 tempat tidur. Di bawah rencana awal yang bisa menampung 100 pasien.

Sejauh ini Pemkab Kediri terus melakukan persiapan beroperasinya RS Nur Aini sebagai rumah sakit darurat Covid-19. Kemarin bed atau kasur mulai didatangkan. Sumber daya manusia (SDM) juga disiapkan.

“Untuk saat ini masih tahap penyiapan karena ada beberapa sarpras yang harus dilengkapi, termasuk SOP penanganan pasien covid yang dirawat di RS Darurat ini. Kami harap dalam waktu dekat bisa segera dioperasikan,” aku Bambang.

Bupati Kediri Haryanti kemarin juga melakukan peninjauan langsung  ke rumah sakit ini. Bupati juga mendorong agar segera beroperasi. Menjadi rumah sakit penyangga RS rujukan Covid-19 di Kabupaten Kediri yang sering overload.

Menurut Haryanti, rencana awal, pasien yang dirawat di rumah sakit darurat ini adalah yang memiliki gejala ringan dan sedang. Sehingga pasien dengan gejala berat dapat dirawat secara maksimal di rumah sakit rujukan. Saat ini rumah sakit rujukan korona di Kabupaten Kediri adalah RSUD Kabupaten Kediri (RSKK), RSUD SLG, dan RS HVA Toeloengredjo, Pare. 

Baca Juga :  Push Up atau Lafalkan Pancasila

Sementara itu, penerapan pembatasan pelaksanaan kegiatan masyarakat (PPKM) makin diketatkan. Operasi yustisi yang sebelumnya hanya siang hari kini ditambah di malam hari. Terutama di wilayah Pare.

Beberapa jalan di wilayah Pare masih ditutup. Seperti Jalan Panglima Besar Soedirman hingga Jalan Ahmad Yani. “Untuk mencegah adanya kerumunan saat malam hari, kedua jalan tersebut ditutup mulai jam delapan malam (20.00 WIB, Red),”terang Kabag Ops Polres Kediri Kompol Didik Warsianto.

Selainmenutup jalan tersbeut, segala pusat perbelanjaan dan warung juga diberi batas waktu buka hingga pukul 19.00. Di saat itulah tim gabungan yang terdiri dari petugas satpol PP, TNI, dan polisi melakukan operasi yustisi.

Yustisi siang hari dilakukan pada pukul 09.00 hingga pukul 11.00. Sedangkan yang malam hari berlangsung mulai dari pukul 20.00 sampai pukul 22.00. Saat operasi Minggu (17/1) petugas menemukan 18 pelanggar yang tidak menggunakan masker. 

Beberapa orang terkena sanksi. Lima orang disanksi administrasi, satu orang membayar uang, dan empat orang membayar denda masker sebanyak 20 biji. Dan satu orang dikenai sanksi sosial dengan menyapu fasilitas umum. Sedangkan 12 orang lainnya mendapatkan sanksi teguran lisan karena tidak memakai masker secara benar. 

Sedangkan siang kemarin (18/1) operasi yustisi berlangsung di Jalan dokter Sutomo Pare. Sebanyak 77 orang terazia karena tidak memakai masker.

Baca Juga :  Hari Ini RSUD Harus Setor Data Nakes Penerima Insentif

Selain menindak pelanggar protokol, Didik menjelaskan juga memberikan sanksi bagi pemilik warung atau pusat perbelanjaan. Terutama bagi pemilik yang nekat buka dari waktu yang telah ditentukan dan tidak mengingatkan pengunjung mematuhi prokes. “Jika ada yang melanggar kami akan lakukan tindakan penutupan dengan paksa,”imbuhnya. Di Kota Kediri, berbagai upaya juga digalakkan untuk mengurangi potensi penularan korona. Dinsos misalnya, membagikan ribuan masker di 25 titik. Mereka juga secara berkala menyalurkan sembako bagi yang menjalani isolasi mandiri.

 “Kami melihat para tukang becak itu kerap kali mengenakan masker yang harus sekali pakai, tapi dipakai berhari-hari. Kami juga melihat masker kain hanya punya satu. Jadi kami bagikan supaya mereka bisa ganti-ganti,” papar Kepala Dinsos Kota Kediri Triyono Kutut.

Demikian pula satpol PP yang terus melaksanakan operasi yustisi bersama unsur kejari, TNI, dan Polri. Dalam operasi itu mereka masih menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna jalan. 

“Sebagai sanksi para pelanggar ini langsung melakukan sidang di tempat bersama dengan Kejaksaan Negeri Kota Kediri,” tutur Kepala Satpol PP Eko Lukmono.

Para pelanggar akan dikenakan denda tergantung kesalahannya. Namun petugas juga memberi sosialisasi dan edukasi. Harapannya agar pelanggar tidak mengulanginya.

“Kita harus tetap selalu waspada terhadap Covid-19, apalagi berdasarkan keputusan Gubernur saat ini Kota Kediri dikelilingi zona merah,” pungkas Eko. (din/luk/tar/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/