24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Hujan Deras, Umbi Brambang Mulai Busuk

REJOSO, JP Radar Nganjuk-Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Nganjuk selama beberapa hari terakhir berdampak pada tanaman bawang merah. Mayoritas petani mengeluhkan serangan jamur yang menyerang umbi mereka. Akibatnya, umbi menjadi berair dan busuk. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Sumantri, 55. Petani di Desa Sidokare, Rejoso ini menuturkan, musim hujan membuat pertumbuhan bawang merahnya terganggu. “Cepat tumbuh (daunnya, Red) namun membusuk karena kadar airnya tinggi dan terkena jamur,” ujarnya.

Yang membuat pusing petani, jamur tersebut mudah sekali menjalar ke tanaman lain. Sehingga, jika tidak segera ditangani kerusakan tanaman akan semakin luas.

Pria tua itu pun tak punya pilihan selain mencabut tanaman yang terserang jamur tersebut. “Kalau tidak dicabut akan menular,” lanjutnya sembari menunjukkan salah satu umbi bawang merah yang busuk terserang jamur.

Baca Juga :  Kuota Jalur Zonasi 90 Persen

Diakui Sumantri, tanaman bawang merah yang terserang jamur tidak akan bisa dipanen. Kalaupun dipaksakan, kualitas umbinya jelek. Risiko paling jelek yang harus ditanggung adalah gagal panen.

Untuk mencegahnya, dia menutup pangkal tanaman bawang merahnya dengan tanah menyerupai gundukan. Cara itu menurutnya biasa dilakukan untuk mencegah serangan jamur. “Kalau sudah lodoh (busuk, Red) ya tetap harus dicabut,” tuturnya sembari menempelkan tanah basah pada tanaman bawang merahnya. 

Untuk diketahui, para petani bawang merah di Rejoso juga melakukan upaya pencegahan serangan hama lainnya. Di antaranya, dengan menyemprot tanaman menggunakan kalsium dan dolomit.

Mereka rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk menyelamatkan tanamannya. “Penyemprotan dilakukan dua hari sekali agar tak lodoh,” sambung Sukidi, 48, petani asal Desa Mojorembun, Rejoso yang mengaku mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk penyemprotan hama.

Baca Juga :  Mengintip Perlintasan KA Tidak Berpalang Pintu di Kota Angin
- Advertisement -

REJOSO, JP Radar Nganjuk-Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Nganjuk selama beberapa hari terakhir berdampak pada tanaman bawang merah. Mayoritas petani mengeluhkan serangan jamur yang menyerang umbi mereka. Akibatnya, umbi menjadi berair dan busuk. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Sumantri, 55. Petani di Desa Sidokare, Rejoso ini menuturkan, musim hujan membuat pertumbuhan bawang merahnya terganggu. “Cepat tumbuh (daunnya, Red) namun membusuk karena kadar airnya tinggi dan terkena jamur,” ujarnya.

Yang membuat pusing petani, jamur tersebut mudah sekali menjalar ke tanaman lain. Sehingga, jika tidak segera ditangani kerusakan tanaman akan semakin luas.

Pria tua itu pun tak punya pilihan selain mencabut tanaman yang terserang jamur tersebut. “Kalau tidak dicabut akan menular,” lanjutnya sembari menunjukkan salah satu umbi bawang merah yang busuk terserang jamur.

Baca Juga :  Apresiasi Terobosan RSKK Tambah Alat PCR

Diakui Sumantri, tanaman bawang merah yang terserang jamur tidak akan bisa dipanen. Kalaupun dipaksakan, kualitas umbinya jelek. Risiko paling jelek yang harus ditanggung adalah gagal panen.

Untuk mencegahnya, dia menutup pangkal tanaman bawang merahnya dengan tanah menyerupai gundukan. Cara itu menurutnya biasa dilakukan untuk mencegah serangan jamur. “Kalau sudah lodoh (busuk, Red) ya tetap harus dicabut,” tuturnya sembari menempelkan tanah basah pada tanaman bawang merahnya. 

Untuk diketahui, para petani bawang merah di Rejoso juga melakukan upaya pencegahan serangan hama lainnya. Di antaranya, dengan menyemprot tanaman menggunakan kalsium dan dolomit.

Mereka rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk menyelamatkan tanamannya. “Penyemprotan dilakukan dua hari sekali agar tak lodoh,” sambung Sukidi, 48, petani asal Desa Mojorembun, Rejoso yang mengaku mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk penyemprotan hama.

Baca Juga :  Mengintip Perlintasan KA Tidak Berpalang Pintu di Kota Angin

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/