26.2 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Puluhan Perempuan Jadi ODGJ karena Cerai

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pernikahan dini sangat berbahaya. Dampak yang ditimbulkan sangat besar. Pernikahan dini yang terjadi karena terpaksa akibat hamil duluan mayoritas berujung pada perceraian. Penyebabnya, suami meninggalkan istri dan anak, kondisi ekonomi yang kekurangan, selingkuh, hingga cekcok. Ternyata, dampak yang ditimbulkan tidak selesai sampai perceraian. Puluhan perempuan di Kota Angin selama pandemi Covid-19 menjadi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) karena bercerai.

“Ada 24 ODGJ karena perceraian selama  pandemi Covid-19,” tandas Koordinator Pelayanan Puskesmas Rejoso Kholis Hadi SKep Ns.

Perlu diketahui, Puskesmas Rejoso merupakan satu-satunya puskesmas di Kabupaten Nganjuk yang khusus melayani perawatan bagi ODGJ. Tidak hanya melayani rawat jalan, di puskesmas tersebut juga melayani rawat inap.

Kholis menjelaskan, 24 ODGJ itu sejak Maret 2020 hingga September 2021.  “Rata-rata ada 2-3 ODGJ baru setiap bulan karena masalah perceraian,” ujarnya.

Baca Juga :  Ribuan Orang Antre Salami Bupati Haryanti

Pria berkacamata ini menjelaskan, perceraian masuk menjadi penyebab  ODGJ. Bisa karena pengasuhan. Biasanya, masalah tersebut ditemukan pada pasangan yang sudah bercerai dan menikah lagi. Karena merasa pasangan sebelumnya lebih baik dari yang sekarang, lalu orang tersebut bisa menjadi ODGJ.

Kemudian, karena stressor. Ketika bercerai, kadang salah satu akan merasa tertekan. Mayoritas, pasangan yang bercerai akan merasa dihakimi di masyarakat. Karena hal tersebut, orang bisa menjadi ODGJ. “Mayoritas ODGJ karena perceraian ini dialami oleh perempuan,” tambah pria yang sudah 22 tahun di Puskesmas Rejoso tersebut.

Lalu bagaimana penanganan untuk ODGJ karena masalah perceraian? Kholis mengatakan, penanganan bisa dilakukan menggunakan dua cara yaitu rawat jalan atau rawat inap di Puskesmas Rejoso.

Baca Juga :  APD Hasil Lelang Amal Tokoh JP Radar Kediri Didistribusikan

Untuk rawat jalan, pasien harus secara rutin datang ke Puskesmas Rejoso. Mereka akan mendapatkan pengobatan secara rutin oleh tim medis dan psikolog. Namun jika terlalu parah, mereka harus menjalani rawat inap. Nantinya mereka akan dipantau dengan petugas secara profesional.

Untuk diketahui, berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Nganjuk, perceraian di Kota Angin selama pandemi Covid-19 sebanyak 3.471. Perinciannya, Maret-Desember 2020 ada 1.904 pasangan suami istri (pasutri) yang bercerai. Kemudian, Januari-September ada   “Perceraian ini banyak penyebabnya mulai dari masalah ekonomi, cekcok, selingkuh, hingga suami meninggalkan istri dan anaknya tanpa kejelasan,” ujar Ketua PA Kabupaten Nganjuk Abdul Hakim SAg SH MH melalui Panitera Muda Hukum PA Kabupaten Nganjuk M. Nafi’ SH MHI.

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pernikahan dini sangat berbahaya. Dampak yang ditimbulkan sangat besar. Pernikahan dini yang terjadi karena terpaksa akibat hamil duluan mayoritas berujung pada perceraian. Penyebabnya, suami meninggalkan istri dan anak, kondisi ekonomi yang kekurangan, selingkuh, hingga cekcok. Ternyata, dampak yang ditimbulkan tidak selesai sampai perceraian. Puluhan perempuan di Kota Angin selama pandemi Covid-19 menjadi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) karena bercerai.

“Ada 24 ODGJ karena perceraian selama  pandemi Covid-19,” tandas Koordinator Pelayanan Puskesmas Rejoso Kholis Hadi SKep Ns.

Perlu diketahui, Puskesmas Rejoso merupakan satu-satunya puskesmas di Kabupaten Nganjuk yang khusus melayani perawatan bagi ODGJ. Tidak hanya melayani rawat jalan, di puskesmas tersebut juga melayani rawat inap.

Kholis menjelaskan, 24 ODGJ itu sejak Maret 2020 hingga September 2021.  “Rata-rata ada 2-3 ODGJ baru setiap bulan karena masalah perceraian,” ujarnya.

Baca Juga :  TRC Dinkes Kediri Bertaruh Nyawa Memutus Rantai Penularan Covid-19

Pria berkacamata ini menjelaskan, perceraian masuk menjadi penyebab  ODGJ. Bisa karena pengasuhan. Biasanya, masalah tersebut ditemukan pada pasangan yang sudah bercerai dan menikah lagi. Karena merasa pasangan sebelumnya lebih baik dari yang sekarang, lalu orang tersebut bisa menjadi ODGJ.

Kemudian, karena stressor. Ketika bercerai, kadang salah satu akan merasa tertekan. Mayoritas, pasangan yang bercerai akan merasa dihakimi di masyarakat. Karena hal tersebut, orang bisa menjadi ODGJ. “Mayoritas ODGJ karena perceraian ini dialami oleh perempuan,” tambah pria yang sudah 22 tahun di Puskesmas Rejoso tersebut.

Lalu bagaimana penanganan untuk ODGJ karena masalah perceraian? Kholis mengatakan, penanganan bisa dilakukan menggunakan dua cara yaitu rawat jalan atau rawat inap di Puskesmas Rejoso.

Baca Juga :  Tersangka Mengaku Lakukan Tiga Kali Pencurian

Untuk rawat jalan, pasien harus secara rutin datang ke Puskesmas Rejoso. Mereka akan mendapatkan pengobatan secara rutin oleh tim medis dan psikolog. Namun jika terlalu parah, mereka harus menjalani rawat inap. Nantinya mereka akan dipantau dengan petugas secara profesional.

Untuk diketahui, berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Nganjuk, perceraian di Kota Angin selama pandemi Covid-19 sebanyak 3.471. Perinciannya, Maret-Desember 2020 ada 1.904 pasangan suami istri (pasutri) yang bercerai. Kemudian, Januari-September ada   “Perceraian ini banyak penyebabnya mulai dari masalah ekonomi, cekcok, selingkuh, hingga suami meninggalkan istri dan anaknya tanpa kejelasan,” ujar Ketua PA Kabupaten Nganjuk Abdul Hakim SAg SH MH melalui Panitera Muda Hukum PA Kabupaten Nganjuk M. Nafi’ SH MHI.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/