27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Pengelola E-warong Kota Kediri Bebas Pilih Supplier di BPNT Terakhir

KOTA, JP Radar Kediri–Pengelola e-warong ikut angkat suara terkait penyidikan kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan pangan non-tunai (BPNT) oleh oknum Dinas Sosial Kota Kediri. Mereka menyebut kualitas telur yang dipasok supplier tahun ini lebih jelek dibanding pasokan telur dalam BPNT 2019 silam atau sebelum pandemi Covid-19.

          Seperti diungkapkan oleh Su, pengelola e-warong salah satu kelurahan di Kecamatan Mojoroto. Menurutnya, dari tiga jenis barang yang dipasok supplier, kualitas telur yang tergolong jelek. “Kalau untuk berasnya bagus. Premium. Kacang-kacangan juga bagus,” katanya.     

          Ditemui di warungnya pada Jumat (14/1) lalu, perempuan yang juga ikut diperiksa oleh penyidik Kejari Kota Kediri ini menjelaskan, saat dirinya mengambil telur di supplier BPNT tahun 2019 lalu, dia mendapat telur dengan kualitas grade A. Adapun sejak 2020 dan 2021 lalu, kualitas telurnya lebih jelek.

          Indikasinya, telur yang dibagikan dicampur antara kulit yang berwarna cokelat dan putih. Di pasaran, harga telur ayam warna ini lebih murah. “Dikemas di plastik gampang pecah. Juga mudah busuk,” lanjutnya sembari menyebut hal itu sudah dijelaskan ke penyidik korps adhyaksa.

Baca Juga :  Kembangkan Kawasan Agropolitan untuk Topang Peningkatan Ekonomi

          Mengapa dia tetap mengambil barang ke pemasok tersebut? Perempuan yang berusia sekitar 40 tahun itu mengaku hanya menurut instruksi dari pendamping BPNT. “Ya saya juga manut saja. Saat didatangi dari pihak pendamping disuruh ambil barang ke tiga supplier pilihan dari dinsos,” tuturnya.

          Perempuan yang sudah ditunjuk menjadi e-warong selama tiga tahun itu

Menjelaskan, sosialisasi pengambilan barang ke tiga pemasok tersebut dilakukan pada awal 2020. Yakni, sekitar bulan Maret. Saat itu, pengelola e-warong sering diajak rapat oleh pendamping dan supplier.

          Rapat koordinasi dengan pendamping dan supplier semakin intens dilakukan jelang pencairan BPNT. Rapat dilakukan secara bergiliran di rumah pengelola e-warong.

          Dalam kesempatan tersebut, supplier juga sempat menunjukkan barang yang akan mereka jual. Saat itu, Su mengaku sudah sempat komplain karena kualitas telur yang dijual bukan grade A seperti tahun 2019 silam. “Mereka mengatakan akan mengganti dengan kualitas bagus saat penyaluran,” papar perempuan yang diperiksa penyidik pada November 2021 silam.

Baca Juga :  Jangka Waktu untuk Vaksinasi Booster di Kota Kediri Dipersingkat

          Tetapi, saat penyaluran ternyata kualitas telur yang dibagikan tetap bukan yang terbaik. Adapun untuk beras dan kacang-kacangan kualitasnya bagus. Dia mengaku cukup puas dengan kualitas yang bagus dan tidak pernah dikeluhkan penerima BPNT.

          Sementara itu, sejak kasus dugaan korupsi BPNT diusut Kejari Kota Kediri, Su menyebut pada penyaluran terakhir Desember 2021 lalu pengelola e-warong tidak lagi diwajibkan mengambil pada tiga supplier. Melainkan dibebaskan kulakan ke supplier manapun. “Saya kembali ambil telur ke supplier lama (2019, Red). Kualitasnya bagus,” beber Su.

          Terpisah, Kasi Intelijen Kejari Kota Kediri Hary Rachmat menyebut, minggu ini pihaknya melanjutkan pemeriksaan saksi. Total ada enam saksi yang dipanggil untuk diperiksa kembali di tahap penyidikan.

          Selain melanjutkan pemeriksaan saksi, jaksa asal Sumatera ini menegaskan, penyidik juga melanjutkan pendataan barang bukti. “Selanjutnya akan kami lakukan langkah penyitaan,” urainya lewat WhatsApp. (ica/ut) 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri–Pengelola e-warong ikut angkat suara terkait penyidikan kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan pangan non-tunai (BPNT) oleh oknum Dinas Sosial Kota Kediri. Mereka menyebut kualitas telur yang dipasok supplier tahun ini lebih jelek dibanding pasokan telur dalam BPNT 2019 silam atau sebelum pandemi Covid-19.

          Seperti diungkapkan oleh Su, pengelola e-warong salah satu kelurahan di Kecamatan Mojoroto. Menurutnya, dari tiga jenis barang yang dipasok supplier, kualitas telur yang tergolong jelek. “Kalau untuk berasnya bagus. Premium. Kacang-kacangan juga bagus,” katanya.     

          Ditemui di warungnya pada Jumat (14/1) lalu, perempuan yang juga ikut diperiksa oleh penyidik Kejari Kota Kediri ini menjelaskan, saat dirinya mengambil telur di supplier BPNT tahun 2019 lalu, dia mendapat telur dengan kualitas grade A. Adapun sejak 2020 dan 2021 lalu, kualitas telurnya lebih jelek.

          Indikasinya, telur yang dibagikan dicampur antara kulit yang berwarna cokelat dan putih. Di pasaran, harga telur ayam warna ini lebih murah. “Dikemas di plastik gampang pecah. Juga mudah busuk,” lanjutnya sembari menyebut hal itu sudah dijelaskan ke penyidik korps adhyaksa.

Baca Juga :  Parkir Jadi Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Angin

          Mengapa dia tetap mengambil barang ke pemasok tersebut? Perempuan yang berusia sekitar 40 tahun itu mengaku hanya menurut instruksi dari pendamping BPNT. “Ya saya juga manut saja. Saat didatangi dari pihak pendamping disuruh ambil barang ke tiga supplier pilihan dari dinsos,” tuturnya.

          Perempuan yang sudah ditunjuk menjadi e-warong selama tiga tahun itu

Menjelaskan, sosialisasi pengambilan barang ke tiga pemasok tersebut dilakukan pada awal 2020. Yakni, sekitar bulan Maret. Saat itu, pengelola e-warong sering diajak rapat oleh pendamping dan supplier.

          Rapat koordinasi dengan pendamping dan supplier semakin intens dilakukan jelang pencairan BPNT. Rapat dilakukan secara bergiliran di rumah pengelola e-warong.

          Dalam kesempatan tersebut, supplier juga sempat menunjukkan barang yang akan mereka jual. Saat itu, Su mengaku sudah sempat komplain karena kualitas telur yang dijual bukan grade A seperti tahun 2019 silam. “Mereka mengatakan akan mengganti dengan kualitas bagus saat penyaluran,” papar perempuan yang diperiksa penyidik pada November 2021 silam.

Baca Juga :  Penggunaan Dana BOS di Kediri: Untuk Gaji Tak Boleh Lebih dari 15 Pers

          Tetapi, saat penyaluran ternyata kualitas telur yang dibagikan tetap bukan yang terbaik. Adapun untuk beras dan kacang-kacangan kualitasnya bagus. Dia mengaku cukup puas dengan kualitas yang bagus dan tidak pernah dikeluhkan penerima BPNT.

          Sementara itu, sejak kasus dugaan korupsi BPNT diusut Kejari Kota Kediri, Su menyebut pada penyaluran terakhir Desember 2021 lalu pengelola e-warong tidak lagi diwajibkan mengambil pada tiga supplier. Melainkan dibebaskan kulakan ke supplier manapun. “Saya kembali ambil telur ke supplier lama (2019, Red). Kualitasnya bagus,” beber Su.

          Terpisah, Kasi Intelijen Kejari Kota Kediri Hary Rachmat menyebut, minggu ini pihaknya melanjutkan pemeriksaan saksi. Total ada enam saksi yang dipanggil untuk diperiksa kembali di tahap penyidikan.

          Selain melanjutkan pemeriksaan saksi, jaksa asal Sumatera ini menegaskan, penyidik juga melanjutkan pendataan barang bukti. “Selanjutnya akan kami lakukan langkah penyitaan,” urainya lewat WhatsApp. (ica/ut) 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/