23.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Melihat Pasar Loak Payaman, Kecamatan Nganjuk saat Pandemi Covid-19

Pasar Payaman lebih dikenal dengan Pasar Loak Payaman ini berada di Kecamatan Nganjuk. Sejak pandemi Covid Covid-19, pengunjung Pasar Loak Payaman semakin sepi. Akibatnya, pedagang di sana semakin resah.

“Sepiii…sudah jarang pengunjung ke sini,” keluh Yudhi,  salah seorang pedagang yang berjualan di Pasar Payaman kepada wartawan koran ini.

Dirinya mengatakan, dulunya pasar tersebut sangat ramai pengunjung. Di tahun 1990, pria kelahiran 53 tahun silam itu mengatakan Pasar Payaman masih sangat ramai pengunjung.

Bahkan dalam satu hari, dirinya bisa melayani 100 lebih pembeli di toko burung miliknya. “Sampai jam 12 siang itu enggak istirahat,” terang warga Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk tersebut.

Baca Juga :  Dewan Sarankan Beli Komputer

Namun kini semuanya berubah, Pasar Payaman sudah ditinggal pelanggannya. Lebih parahnya, Yudhi mengatakan tokonya sering tidak didatangi pembeli sama sekali. Kalaupun ada, itu hanya hitungan jari.

Menurut keterangannya, hal tersebut terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Alasannya, Pasar Payaman kini dinilai kurang bersih. Ketika hujan deras datang, pasar yang diresmikan pada tahu 1977 itu akan langsung tergenang.

Akibatnya, banyak toko yang kini semakin rusak. Kayu yang menjadi bahan utama dari toko-toko tersebut menjadi lapuk dan mudah hancur.

Tidak hanya karena masalah banjir, alasan mengapa Pasar Payaman menjadi sepi adalah karena datangnya pandemi Covid-19. Hal tersebut terjadi sejak awal tahun 2020.

Baca Juga :  Singo Barong Gagal Lolos ke 16 Besar

Sementara itu, Bejo, 70, pedagang terlama di Pasar Payaman mengaku bahwa dagangannya kini kian menjadi sepi. Hal tersebut juga terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. “Covid ini juga tambah parah,” terang warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret tersebut.

Bejo mengatakan, dulunya dia menjual beraneka jenis burung. Hingga puluhan jenis burung berwarna-warni. Namun karena sepi pembeli, kini dirinya hanya bisa menjual satu burung saja. “Bisa bayar karcis tarikan aja sudah seneng,” terangnya.

- Advertisement -

Pasar Payaman lebih dikenal dengan Pasar Loak Payaman ini berada di Kecamatan Nganjuk. Sejak pandemi Covid Covid-19, pengunjung Pasar Loak Payaman semakin sepi. Akibatnya, pedagang di sana semakin resah.

“Sepiii…sudah jarang pengunjung ke sini,” keluh Yudhi,  salah seorang pedagang yang berjualan di Pasar Payaman kepada wartawan koran ini.

Dirinya mengatakan, dulunya pasar tersebut sangat ramai pengunjung. Di tahun 1990, pria kelahiran 53 tahun silam itu mengatakan Pasar Payaman masih sangat ramai pengunjung.

Bahkan dalam satu hari, dirinya bisa melayani 100 lebih pembeli di toko burung miliknya. “Sampai jam 12 siang itu enggak istirahat,” terang warga Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk tersebut.

Baca Juga :  Tanah Retak di Jugo, 6 KK Harus Diungsikan Sementara

Namun kini semuanya berubah, Pasar Payaman sudah ditinggal pelanggannya. Lebih parahnya, Yudhi mengatakan tokonya sering tidak didatangi pembeli sama sekali. Kalaupun ada, itu hanya hitungan jari.

Menurut keterangannya, hal tersebut terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Alasannya, Pasar Payaman kini dinilai kurang bersih. Ketika hujan deras datang, pasar yang diresmikan pada tahu 1977 itu akan langsung tergenang.

Akibatnya, banyak toko yang kini semakin rusak. Kayu yang menjadi bahan utama dari toko-toko tersebut menjadi lapuk dan mudah hancur.

Tidak hanya karena masalah banjir, alasan mengapa Pasar Payaman menjadi sepi adalah karena datangnya pandemi Covid-19. Hal tersebut terjadi sejak awal tahun 2020.

Baca Juga :  Tanah Bandara Kediri: BPN Pastikan Taati Prosedur

Sementara itu, Bejo, 70, pedagang terlama di Pasar Payaman mengaku bahwa dagangannya kini kian menjadi sepi. Hal tersebut juga terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. “Covid ini juga tambah parah,” terang warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret tersebut.

Bejo mengatakan, dulunya dia menjual beraneka jenis burung. Hingga puluhan jenis burung berwarna-warni. Namun karena sepi pembeli, kini dirinya hanya bisa menjual satu burung saja. “Bisa bayar karcis tarikan aja sudah seneng,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/