22.3 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Wabah Korona Membuat Pendapatan Daerah Terkoreksi

Retribusi pasar merupakan salah satu kantong pendapatan asli daerah (PAD). Akibat pandemi Covid-19, target pendapatan pasar yang biasanya tercapai, hingga Oktober lalu baru terealisasi 57 persen.

Dari total 33 pasar di Kota Angin yang dikelola Pemkab Nganjuk, dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) menargetkan retribusi pasar sebesar Rp 3,29 miliar tahun ini. Hingga akhir Oktober lalu, retribusi dari puluhan pasar tersebut baru tercapai Rp 1,88 miliar atau 57,14 persen.

Dengan sisa waktu kurang dari dua bulan, diakui Heni kecil kemungkinan target bisa tercapai 100 persen. Karenanya, harapannya tidak lagi muluk-muluk di akhir tahun ini. “Saya berharap bisa mencapai 90 persen hingga akhir tahun nanti,” ujarnya.

Perempuan berjilbab itu mengungkapkan, pandemi yang berdampak pada penutupan pasar selama tiga bulan membuat pendapatan retribusi berkurang signifikan. Akibatnya, sejumlah pasar besar yang biasanya jadi tumpuan retribusi juga tidak memberi hasil maksimal.

Misalnya, Pasar Wage I yang ditarget Rp 470,98 juta baru bisa menghasilkan Rp 256,51 juta. Demikian juga Pasar Wage II yang ditarget Rp 331,25 juta, baru bisa menghasilkan Rp 175,08 juta.

Baca Juga :  Keluarga H. Imam Mukhayat Syah Berbagi Zakat Mal Senilai Rp 4,7 Miliar

Untungnya, meski beberapa pasar besar belum memberi sumbangsih PAD yang maksimal, beberapa pasar kecil mampu melampaui target yang dibebankan pada Oktober lalu. Misalnya, Pasar Jekek, Baron yang ditarget Rp 12,6 juta setahun, sudah terealisasi Rp 15,58 juta hingga Oktober lalu. Selebihnya, sebanyak 30 pasar realisasi retribusinya mencapai lebih dari 50 persen.

Pasar Lengkong merupakan satu-satunya pasar yang capaian targetnya di bawah 50 persen. Pasar di ujung utara Nganjuk itu ditarget Rp 237,01 juta. Tetapi, hingga akhir Oktober lalu baru terealisasi Rp 107,31 juta atau hanya 45,28 persen. “Pandemi korona memang membuat omzet pedagang turun karena pasar sepi. Otomatis itu berdampak pada retribusi,” lanjut Heni.

Selain akibat pandemi Covid-19, menurutnya merosotnya retribusi pasar tahun ini juga akibat perbaikan pasar. Dia mencontohkan perbaikan Pasar Kertosono yang membuat pedagang tidak lagi dikenakan retribusi di tempat relokasi. Akibat kebijakan itu, capaian retribusi pasar besar di Nganjuk itu juga meleset.

Baca Juga :  Guru Penganiaya Dihukum Percobaan

Ketua Paguyuban Pasar Kertosono Susanto membenarkan tentang tidak diberlakukannya penarikan retribusi di sana. “Sejak menempati tempat relokasi, penjualan pedagang sangat sepi. Tidak mungkin membayar retribusi,” keluhnya sembari menyebut selama pandemi dagangannya semakin sepi.

Jika hari ini perolehan retribusi pasar tidak maksimal, Heni berharap tahun depan bisa kembali pulih. Setidaknya omzet pedagang bisa naik meski pandemi Covid-19 masih belum bisa diketahui kapan akan berakhir. “Dengan adaptasi kebiasaan baru harapannya masyarakat tidak takut belanja ke pasar tradisional agar retribusi pasar bisa naik lagi,” jelasnya.

 

PAD Retribusi Pasar 2020:

-Total ada 33 pasar yang dikelola Pemkab Nganjuk sebagai objek retribusi

-Retribusi pasar ditarget sebesar Rp 3,29 miliar

-Hingga Oktober 2020 baru terealisasi Rp 1,88 miliar atau sebesar 57,14 persen

-Waktu penarikan retribusi selama dua bulan terakhir diharapkan bisa mengerek realisasi hingga 90 persen

- Advertisement -

Retribusi pasar merupakan salah satu kantong pendapatan asli daerah (PAD). Akibat pandemi Covid-19, target pendapatan pasar yang biasanya tercapai, hingga Oktober lalu baru terealisasi 57 persen.

Dari total 33 pasar di Kota Angin yang dikelola Pemkab Nganjuk, dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) menargetkan retribusi pasar sebesar Rp 3,29 miliar tahun ini. Hingga akhir Oktober lalu, retribusi dari puluhan pasar tersebut baru tercapai Rp 1,88 miliar atau 57,14 persen.

Dengan sisa waktu kurang dari dua bulan, diakui Heni kecil kemungkinan target bisa tercapai 100 persen. Karenanya, harapannya tidak lagi muluk-muluk di akhir tahun ini. “Saya berharap bisa mencapai 90 persen hingga akhir tahun nanti,” ujarnya.

Perempuan berjilbab itu mengungkapkan, pandemi yang berdampak pada penutupan pasar selama tiga bulan membuat pendapatan retribusi berkurang signifikan. Akibatnya, sejumlah pasar besar yang biasanya jadi tumpuan retribusi juga tidak memberi hasil maksimal.

Misalnya, Pasar Wage I yang ditarget Rp 470,98 juta baru bisa menghasilkan Rp 256,51 juta. Demikian juga Pasar Wage II yang ditarget Rp 331,25 juta, baru bisa menghasilkan Rp 175,08 juta.

Baca Juga :  Sehari Temukan 14 Titik Api di Hutan

Untungnya, meski beberapa pasar besar belum memberi sumbangsih PAD yang maksimal, beberapa pasar kecil mampu melampaui target yang dibebankan pada Oktober lalu. Misalnya, Pasar Jekek, Baron yang ditarget Rp 12,6 juta setahun, sudah terealisasi Rp 15,58 juta hingga Oktober lalu. Selebihnya, sebanyak 30 pasar realisasi retribusinya mencapai lebih dari 50 persen.

Pasar Lengkong merupakan satu-satunya pasar yang capaian targetnya di bawah 50 persen. Pasar di ujung utara Nganjuk itu ditarget Rp 237,01 juta. Tetapi, hingga akhir Oktober lalu baru terealisasi Rp 107,31 juta atau hanya 45,28 persen. “Pandemi korona memang membuat omzet pedagang turun karena pasar sepi. Otomatis itu berdampak pada retribusi,” lanjut Heni.

Selain akibat pandemi Covid-19, menurutnya merosotnya retribusi pasar tahun ini juga akibat perbaikan pasar. Dia mencontohkan perbaikan Pasar Kertosono yang membuat pedagang tidak lagi dikenakan retribusi di tempat relokasi. Akibat kebijakan itu, capaian retribusi pasar besar di Nganjuk itu juga meleset.

Baca Juga :  12 Ribu Orang Diusulkan Terima Banpres

Ketua Paguyuban Pasar Kertosono Susanto membenarkan tentang tidak diberlakukannya penarikan retribusi di sana. “Sejak menempati tempat relokasi, penjualan pedagang sangat sepi. Tidak mungkin membayar retribusi,” keluhnya sembari menyebut selama pandemi dagangannya semakin sepi.

Jika hari ini perolehan retribusi pasar tidak maksimal, Heni berharap tahun depan bisa kembali pulih. Setidaknya omzet pedagang bisa naik meski pandemi Covid-19 masih belum bisa diketahui kapan akan berakhir. “Dengan adaptasi kebiasaan baru harapannya masyarakat tidak takut belanja ke pasar tradisional agar retribusi pasar bisa naik lagi,” jelasnya.

 

PAD Retribusi Pasar 2020:

-Total ada 33 pasar yang dikelola Pemkab Nganjuk sebagai objek retribusi

-Retribusi pasar ditarget sebesar Rp 3,29 miliar

-Hingga Oktober 2020 baru terealisasi Rp 1,88 miliar atau sebesar 57,14 persen

-Waktu penarikan retribusi selama dua bulan terakhir diharapkan bisa mengerek realisasi hingga 90 persen

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/