24.3 C
Kediri
Wednesday, June 29, 2022

Diabetes Melitus Jadi Ancaman Lansia Hingga Anak-anak

Penyakit diabetes melitus (DM) tidak hanya mengancam para lansia saja. Sesuai kasus yang ditemukan Dinas Kesehatan Nganjuk, penyakit yang salah satunya akibat kelebihan kadar gula itu juga menimpa anak-anak.

 

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, hingga September lalu total ada 6.789 kasus DM yang ditemukan di Kota Angin. Baik DM tipe 1 maupun tipe 2. “Tidak hanya lansia saja yang menderita penyakit DM. Anak-anak juga ada yang kena,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Nganjuk Duwi Wahyuni.  

Yang terbaru, menurut Duwi ada anak berusia 15 tahun yang sudah menerima DM tipe 2. Setelah dipelajari lebih lanjut, remaja itu mengidap DM akibat pola hidup yang sudah salah sejak kecil.

Terkait jumlah kasus DM yang mencapai ribuan, Duwi menyebut selama ini dinkes memang menggalakkan screening melalui posyandu, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Sebelum pandemi, tiap bulan ada sekitar 40 ribu orang yang menjalani screening.

Baca Juga :  Ingin Jadi PNS, Ratusan Juta Melayang

Sejak April lalu, dinkes mengurangi screening untuk mencegah penularan Covid-19. Dalam sebulan hanya 6.000 hingga 8.000 orang yang menjalani screening. Meski demikian, kasus DM masih tetap bertambah.

Terpisah, dr Sunarti SpPD dari RSI ‘Aisyiyah menambahkan, di Kabupaten Nganjuk paling banyak ditemukan DM tipe 2. Atau DM yang diakibatkan kadar gula dalam darah melebihi normal.

Mengamini pernyataan Dwi, Sunarti membenarkan jika DM tipe 2 kini mulai diderita anak-anak dan remaja. “Gejala DM berupa rasa haus meningkat, sering buang air kecil, lapar, lelah dan penglihatan kabur. Pada beberapa kasus, tidak ada gejala, ” tuturnya.

DM, menurut Sunarti hanya terdeteksi melalui pemeriksaan. Karenanya, dia menyarankan agar masyarakat memeriksa kadar gulanya lebih awal sebelum terlambat.

Selain ciri-ciri diatas, Sunarti menyebut ciri lain jika sudah terjadi komplikasi. Yakni, pandangan kabur, kesemutan dan beberapa ciri lainnya. “Saat dicek ternyata benar, gula darahnya tinggi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Warga Tagih Pelunasan Lahan Jembatan Meritjan

Sunarti menambahkan, DM tipe 2 sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari risikonya sejak dini. Yakni, mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula berlebih. Yang lebih utama selain menghindari risiko adalah dengan berperilaku hidup sehat. “Kuncinya rutin berolahraga,” jelasnya.

 

Cegah Diabetes Melitus:

–        – Hindari susu formula untuk bayi, utamakan ASI

–         –Mengatur pola makan dan jajanan manis sejak anak-anak

–         –Selama pandemi diupayakan terus bergerak dan olahraga teratur 3-4 kali dalam seminggu

–         –Periksa berkala apabila terjadi gejala: sering kencing, lapar, haus, pandangan mata kabur, lemas, kesemutan, dan luka yang tak kunjung sembuh.

- Advertisement -

Penyakit diabetes melitus (DM) tidak hanya mengancam para lansia saja. Sesuai kasus yang ditemukan Dinas Kesehatan Nganjuk, penyakit yang salah satunya akibat kelebihan kadar gula itu juga menimpa anak-anak.

 

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, hingga September lalu total ada 6.789 kasus DM yang ditemukan di Kota Angin. Baik DM tipe 1 maupun tipe 2. “Tidak hanya lansia saja yang menderita penyakit DM. Anak-anak juga ada yang kena,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Nganjuk Duwi Wahyuni.  

Yang terbaru, menurut Duwi ada anak berusia 15 tahun yang sudah menerima DM tipe 2. Setelah dipelajari lebih lanjut, remaja itu mengidap DM akibat pola hidup yang sudah salah sejak kecil.

Terkait jumlah kasus DM yang mencapai ribuan, Duwi menyebut selama ini dinkes memang menggalakkan screening melalui posyandu, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Sebelum pandemi, tiap bulan ada sekitar 40 ribu orang yang menjalani screening.

Baca Juga :  Hari Terakhir Penyekatan di Kediri: 4 Mobil Putar Balik

Sejak April lalu, dinkes mengurangi screening untuk mencegah penularan Covid-19. Dalam sebulan hanya 6.000 hingga 8.000 orang yang menjalani screening. Meski demikian, kasus DM masih tetap bertambah.

Terpisah, dr Sunarti SpPD dari RSI ‘Aisyiyah menambahkan, di Kabupaten Nganjuk paling banyak ditemukan DM tipe 2. Atau DM yang diakibatkan kadar gula dalam darah melebihi normal.

Mengamini pernyataan Dwi, Sunarti membenarkan jika DM tipe 2 kini mulai diderita anak-anak dan remaja. “Gejala DM berupa rasa haus meningkat, sering buang air kecil, lapar, lelah dan penglihatan kabur. Pada beberapa kasus, tidak ada gejala, ” tuturnya.

DM, menurut Sunarti hanya terdeteksi melalui pemeriksaan. Karenanya, dia menyarankan agar masyarakat memeriksa kadar gulanya lebih awal sebelum terlambat.

Selain ciri-ciri diatas, Sunarti menyebut ciri lain jika sudah terjadi komplikasi. Yakni, pandangan kabur, kesemutan dan beberapa ciri lainnya. “Saat dicek ternyata benar, gula darahnya tinggi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Wisata Tani Betet (WTB) di Kecamatan Ngronggot saat Pandemi Covid-19

Sunarti menambahkan, DM tipe 2 sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari risikonya sejak dini. Yakni, mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula berlebih. Yang lebih utama selain menghindari risiko adalah dengan berperilaku hidup sehat. “Kuncinya rutin berolahraga,” jelasnya.

 

Cegah Diabetes Melitus:

–        – Hindari susu formula untuk bayi, utamakan ASI

–         –Mengatur pola makan dan jajanan manis sejak anak-anak

–         –Selama pandemi diupayakan terus bergerak dan olahraga teratur 3-4 kali dalam seminggu

–         –Periksa berkala apabila terjadi gejala: sering kencing, lapar, haus, pandangan mata kabur, lemas, kesemutan, dan luka yang tak kunjung sembuh.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/