25.6 C
Kediri
Thursday, June 30, 2022

Perbaikan Belum Selesai, Plengsengan di Mojoroto Retak Lagi

KOTA, JP Radar Kediri- Perbaikan plengsengan yang ambrol di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto belum usai. Namun, kondisinya diperparah dengan munculnya retakan di bagian atas. Retakan ini terjadi akibat getaran kendaraan bermotor yang melintas di jalan dengan lokasi.

Tanah yang retak juga relatif panjang. Sekitar dua meter. Hal itu membuat rencana awal memperkuat plengsengan dengan sesek dan sandbag berubah. Penahan tanah yang ambrol itu akan diganti menjadi cor.

“Besok (hari ini, Red) kami usahakan untuk memulai cor pondasi,” terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Endang Kartikasari.

Menurut Endang, retakan itu terjadi di luar perkiraan mereka. Lokasi plengsengan yang berada dekat dengan jalan raya kerap terjadi getaran akibat kendaraan yang melaju. Selain itu, juga faktor hujan lebat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kombinasi dua hal itu yang membuat tanah menjadi rawan longsor.

Perkembangan kondisi tersebut membuat pihak PUPR mengubah rencana perbaikan. Dari semula nonpermanent menjadi permanen. Sebab, bila plengsengan tersebut ambrol, yang berisiko bukan hanya pekerja. Melainkan juga beberapa fasilitas milik penduduk sekitar. Apalagi, di dekat plengsengan itu ada warung milik warga serta jembatan yang menjadi akses bagi warga.

Baca Juga :  Sepuluh SMA/SMK Di-lockdown

“Jarak plengsengan yang ambrol dari warung warga ini hanya tiga meter,” terang Endang.

Agar menghindari kejadian buruk, Endang meminta warga tak beraktivitas di sekitar lokasi untuk saat ini. Setidaknya hingga pengecoran selesai. Dia juga mewanti-wanti kepada pekerja agar lebih berhati-hati. Sebab, kondisi tanah yang labil rawan longsor sewaktu-waktu. Apalagi retakan tanah di ketinggian lima meter dari tepi sungai.

Selain itu, ancaman pada pekerja dan warga bukan hanya dari longsor susulan. Juga dari debit air Kali Kedak yang selalu meningkat ketika turun hujan dengan intensitas tinggi. “Harus safety,” ingatnya.

Sementara itu, perubahan mekanisme perbaikan plengsengan dari non-permanen ke permanen juga karena permintaan warga. Sebab, bila hanya non-permanen akan cepat rusak. Terutama bila debit air meningkat.

Baca Juga :  Kembalikan Burung Merak ke Habitat Asli

“Air Sungai Kedak ini kalau debitnya meningkat, alirannya deras,” kata uyono, 56, warga setempat.

Menurut lelaki yang sering memancing di sungai tersebut, sudah berkali-kali terjadi plengsengan di Sungai Kedak ambrol. Penyebabnya karena tidak kuat menahan terjangan aliran yang sangat deras. Selain di Kelurahan Mojoroto, plengsengan yang rusak akibat luapan Sungai Kedak ini terjadi pula di Kelurahan Ngampel. Plengsengan yang ambrol ini mengancam rumah warga, kandang, dan warung.

Pantauan koran ini, perbaikan plengsengan ambrol itu terus dikerjakan. Beberapa alat  seperti mesin pompa sedot air didatangkan. Sedangkan sandbag untuk menghalangi air sungai sudah terpasang keliling di dasar plengsengan.

Sebelumnya, tanah penahan sungai tersebut ambrol. Ambrolnya plengsengan ini disebabkan karena luapan air Sungai Kedak yang meluap. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (9/3) malam hari. Dinas PUPR kemudian mendatangi lokasi setelah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).(rq/fud)

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri- Perbaikan plengsengan yang ambrol di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto belum usai. Namun, kondisinya diperparah dengan munculnya retakan di bagian atas. Retakan ini terjadi akibat getaran kendaraan bermotor yang melintas di jalan dengan lokasi.

Tanah yang retak juga relatif panjang. Sekitar dua meter. Hal itu membuat rencana awal memperkuat plengsengan dengan sesek dan sandbag berubah. Penahan tanah yang ambrol itu akan diganti menjadi cor.

“Besok (hari ini, Red) kami usahakan untuk memulai cor pondasi,” terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Endang Kartikasari.

Menurut Endang, retakan itu terjadi di luar perkiraan mereka. Lokasi plengsengan yang berada dekat dengan jalan raya kerap terjadi getaran akibat kendaraan yang melaju. Selain itu, juga faktor hujan lebat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kombinasi dua hal itu yang membuat tanah menjadi rawan longsor.

Perkembangan kondisi tersebut membuat pihak PUPR mengubah rencana perbaikan. Dari semula nonpermanent menjadi permanen. Sebab, bila plengsengan tersebut ambrol, yang berisiko bukan hanya pekerja. Melainkan juga beberapa fasilitas milik penduduk sekitar. Apalagi, di dekat plengsengan itu ada warung milik warga serta jembatan yang menjadi akses bagi warga.

Baca Juga :  Di Bulog, Awasi Distribusi Beras PKH

“Jarak plengsengan yang ambrol dari warung warga ini hanya tiga meter,” terang Endang.

Agar menghindari kejadian buruk, Endang meminta warga tak beraktivitas di sekitar lokasi untuk saat ini. Setidaknya hingga pengecoran selesai. Dia juga mewanti-wanti kepada pekerja agar lebih berhati-hati. Sebab, kondisi tanah yang labil rawan longsor sewaktu-waktu. Apalagi retakan tanah di ketinggian lima meter dari tepi sungai.

Selain itu, ancaman pada pekerja dan warga bukan hanya dari longsor susulan. Juga dari debit air Kali Kedak yang selalu meningkat ketika turun hujan dengan intensitas tinggi. “Harus safety,” ingatnya.

Sementara itu, perubahan mekanisme perbaikan plengsengan dari non-permanen ke permanen juga karena permintaan warga. Sebab, bila hanya non-permanen akan cepat rusak. Terutama bila debit air meningkat.

Baca Juga :  Sibuk Kerja, Jatah Suami pun Alpa

“Air Sungai Kedak ini kalau debitnya meningkat, alirannya deras,” kata uyono, 56, warga setempat.

Menurut lelaki yang sering memancing di sungai tersebut, sudah berkali-kali terjadi plengsengan di Sungai Kedak ambrol. Penyebabnya karena tidak kuat menahan terjangan aliran yang sangat deras. Selain di Kelurahan Mojoroto, plengsengan yang rusak akibat luapan Sungai Kedak ini terjadi pula di Kelurahan Ngampel. Plengsengan yang ambrol ini mengancam rumah warga, kandang, dan warung.

Pantauan koran ini, perbaikan plengsengan ambrol itu terus dikerjakan. Beberapa alat  seperti mesin pompa sedot air didatangkan. Sedangkan sandbag untuk menghalangi air sungai sudah terpasang keliling di dasar plengsengan.

Sebelumnya, tanah penahan sungai tersebut ambrol. Ambrolnya plengsengan ini disebabkan karena luapan air Sungai Kedak yang meluap. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (9/3) malam hari. Dinas PUPR kemudian mendatangi lokasi setelah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).(rq/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/